Sejarah Stand Up Comedy Dunia & Indonesia serta Tokoh Pendirinya

Kontributor: Rizal Amril Yahya, tirto.id - 1 Sep 2022 21:10 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Sejarah stand up comedy di dunia dan di Indonesia serta siapa saja tokoh pendirinya?
tirto.id - Stand up comedy merupakan seni pertunjukan komedi yang dilakukan oleh seorang penampil secara langsung di atas panggung. Dalam bahasa Indonesia, stand up comedy disebut sebagai lawakan tunggal. Lantas, bagaimana sejarah stand up comedy di dunia dan di Indonesia serta siapa saja tokoh pendirinya?

Lawakan tunggal atau stand up comedy biasanya dilakukan oleh seorang penampil, namun bisa juga berkelompok dengan membawakan bit secara berkesinambungan. Seorang pelaku stand up comedy dikenal dengan sebutan komik atau komika, selain disebut pula pelawak alias komedian dalam istilah umumnya.

Materi-materi dalam stand up comedy bermacam-macam, bisa tentang keresahan, keseharian, pengalaman unik, mencandai orang lain, dan masih banyak lagi. Materi yang ditampilkan biasanya ditulis sendiri oleh si komika meskipun ada pula yang membawakan materi umum dengan gaya masing-masing.


Stand up comedy punya beragam teknik dan berbagai istilah khusus yang tidak ditemui dalam lawakan tunggal konvensional, seperti open mic, set-up, bit, roasting, punch line, act-out, close mic, call-back, rule of three, laugh per minute (LPM), dan seterusnya.


Sejarah Stand Up Comedy di Dunia

Menurut Safinatun Naja dalam risetnya berjudul "Kritik Sosial dalam Stand Up Show Special Mesakke Bangsaku" (2018), stand up comedy berakar dari seni pertunjukan Amerika Serikat pada abad ke-18.

Pada masa itu, dikenal sebuah konsep pertunjukan yang dilakukan dalam tiga babak. Konsep tersebut diperkenalkan oleh sebuah grup teater Amerika masa itu bernama Vaudeville.

Cikal bakal stand up comedy berawal dari babak kedua pertunjukan tiga babak tersebut. Seorang penampil melakukan monolog setelah sajian musik pada babak pertama selesai.

Baru kemudian, sekitar era 1920 hingga 1960-an, muncul para komedian seperti Milton Berle, Henry Youngman, Jack Benny, dan Bob Hope yang mengadopsi cara lawak ala Vaudeville dan membawanya ke dalam format yang baru serta segar pada masanya.

Penelitian Dotan Oliar bertajuk "There's No Free Laugh (Anymore): The Emergence of Intellectual Property Norms and the Transformation of Stand-Up Comedy" dalam jurnal The Virginia Law Review (2008) mengungkapkan, pelawak-pelawak tersebut telah membawa pertunjukan stand up comedy ke masa baru yang lebih modern.

Menurut Dotan Oliar, format lawakan yang dibawa oleh para komedian termasuk permainan kata, candaan yang bersifat fisik, hingga serangkaian lelucon yang dihubungkan melalui sebuah narasi tematik.

Kesuksesan pertunjukan stand up comedy di Amerika Serikat itu kemudian menjalar ke berbagai wilayah di banyak negara, salah satunya Indonesia.


Sejarah Stand Up Comedy di Indonesia

Indonesia sebenarnya sudah mengenal konsep lawak tunggal sejak era 1970-an seperti yang kerap dilakukan sejumlah pelawak dari Srimulat, Warkop DKI, hingga Sersan Prambors serta era setelahnya. Namun, kala itu belum populer istilah stand up comedy dengan segala tekniknya.

Di Srimulat, misalnya, kita mengenal Gepeng yang kerap memulai pertunjukan dengan tampil dan beraksi sendiri. Hal serupa juga pernah dilakukan sejumlah anggota Srimulat lainnya macam Basuki, Asmuni, Timbul, Mamiek Prakoso, dan seterusnya.

Warkop DKI, selain dikenal luas melalui film-filmnya, sebenarnya juga menerapkan praktik lawak tunggal ketika pentas di atas panggung. Sama seperti Srimulat, baik Dono, Kasino, maupun Indro beberapa kali mengawali pertunjukan dengan melawak tunggal.

Demikian pula dengan Sersan Prambors. Grup lawak mahasiswa pada era 1980-an yang digawangi oleh Sys NS Pepeng, Nana Krip, Muklis Gumilang, dan Krisna Purwana juga tidak jarang menampilkan aksi lawakan tunggal.

Kepopuleran stand up comedy di Indonesia mulai menarik perhatian publik pada 2011 dengan lahirnya Komunitas Stand Up Comedy Indonesia yang digagas oleh Ernest Prakasa, Ryan Adriandhy, Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, dan Isman H. Suryaman.

Dari situlah kemudian muncul sejumlah kompetisi komedi tunggal seperti SUCI, SUCA, Liga Komunitas, dan lain sebagainya, yang pada akhirnya melahirkan komika-komika terkenal dan turut meramaikan industri hiburan di tanah air.

Sebenarnya, sebelum Komunitas Stand Up Comedy Indonesia dibentuk pada 2011, di beberapa titik di Jakarta telah membuka panggung stand up comedy yang salah satunya dipelopori oleh Ramon Papana.


Daftar Komika Stand Up Comedy Indonesia

Kepopuleran Ernest Prakasa, Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika, dan lainnya bermula ketika mereka open mic di Comedy Cafe, Jakarta. Penampilan mereka direkam kemudian diunggah ke YouTube.

Comedy Cafe adalah sebuah kafe yang mengusung komedi sebagai konsep yang sudah menampilkan pertunjukan stand up comedy sejak 1997. Ramon Papana merupakan tokoh di balik kafe tersebut.

Kini, berdirinya Stand Up Indo yang diikuti munculnya berbagai komunitas stand up di banyak daerah, juga meriahnya ajang kompetisi stand up comedy seperti Stand Up Comedy Show, SUCI, SUCA, dan lainnya, bermunculan para komika sukses di ranah hiburan tanah air.

Banyak komika yang kini meraih kepopuleran, baik via televisi maupun YouTube, dari Raditya Dika, Panji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Ryan Adriandhy, Cak Lontong, Abdel Achrian, Temon Templar, Mo Sidik, Akbar, Soleh Solihun, Adriano Qalbi, Kemal Palevi, Arief Didu, Mongol Stres, hingga Ge Pamungkas.

Berikutnya ada Boris Bokir, Gilang Bhaskara, Daned Gustama, Jui Purwoto, Sammy Notaslimboy, McDanny, Babe Cabita, Muhadkly Acho, Tretan Muslim, Coki Pardede, Pras Teguh, Uus, Arie Kriting, Adjis Doa Ibu, Awwe, Bintang Timur, Arif Alfiansyah, Popon Kerok, Heri Hore, serta Dodit Mulyanto.

Ada pula Indra Jegel, Lolox, Mamat Alkatiri, Nopek Novian, Indra Frimawan, Arafah Rianti, Abdur Arysad, Hifdzi Khoir, Dzawin Nur, Kiki Saputri, Ridwan Remin, David Nurbianto, Aci Resti, Fico Fachriza, Ananta Rispo, Marshel Widianto, Rigen Rakelna, Bintang Emon, Oki Rengga, Bene Dion, Coky Anwar, Boah Sartika, Ebel Cobra, dan masih banyak lagi.


Baca juga artikel terkait HIBURAN atau tulisan menarik lainnya Rizal Amril Yahya


Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight