Menuju konten utama
Hari Natal 2018

Sejarah Sinterklas dalam Tradisi Natal: Bukan dari Kutub Utara

Sejarah Sinterklas berawal dari cerita rakyat di Eropa dan merupakan representasi seorang uskup pada abad ke-4 bernama Saint Nicholas.

Sejarah Sinterklas dalam Tradisi Natal: Bukan dari Kutub Utara
Puluhan anak berpakaian Sinterklas. REUTERS/Rafael Marchante/djo/16

tirto.id - Setiap tanggal 25 Desember, umat Nasrani merayakan hari Natal. Perayaan Natal nyaris selalu lekat dengan kehadiran Santa Claus atau Sinterklas, sosok orang tua murah senyum dengan pakaian merah dan rambut serta jenggot lebatnya yang berwarna putih. Lantas, bagaimana sejarah Sinterklas sampai identik dengan Natal?

Santa Claus punya banyak sebutan berbeda, ada Sinterklas, Saint Nicholas, Kris Kringle, Father Christmas, atau kerap pula mendapat panggilan singkat: Santa. Orang mungkin mengira Sinterklas datang dari Kutub Utara. Namun, sosok ini sebenarnya merupakan legenda dalam cerita rakyat bagi sebagian besar masyarakat Eropa.

Sinterklas merupakan representasi tokoh Saint (Santo) Nicholas yang hidup pada abad ke-4 Masehi. Dikutip dari Ensiklopedi Gereja (2005) yang disusun Adolf Heuken, sosok ini adalah seorang uskup dari Myra, kota kecil yang pernah menjadi bagian Imperium Romawi, tepatnya di wilayah Turki sekarang.

Setiap tanggal 6 Desember, Saint Nicholas menggelar pesta dan menyediakan banyak hadiah untuk anak-anak. Tak hanya itu, orang yang sedang kesusahan dan membutuhkan pertolongan akan ia bantu dengan sepenuh hati. Saking baik hatinya, sebut Meg Cabot dalam Holiday Princess (2005), Saint Nicholas dianggap sebagai orang suci.

Penggambaran akan sosok Saint Nicholas bermacam-macam, namun belum seperti yang dicitrakan seperti saat ini. Untuk memastikan bagaimana wujud Saint Nicholas, dilakukan rekonstruksi wajah dari sisa-sisa tulangnya. Semua data dan temuan digabungkan, hingga didapatkan penggambaran seorang pria tua berusia sekitar 60 tahun dengan mata cokelat dan rambut berwarna abu-abu.

Sampai akhirnya, Saint Nicholas dicitrakan sebagai sosok Sinterklas yang pada setiap malam Natal mendatangi rumah-rumah untuk mengantarkan hadiah kepada anak-anak. Menurut Heuken (2005), figur Sinterklas yang membawa hadiah pada malam Natal merupakan sekularisasi tokoh Saint Nicholas yang sebenarnya.

Baca juga artikel terkait NATAL atau tulisan lainnya dari Maria Ulfa

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Maria Ulfa
Editor: Iswara N Raditya