12 Desember 1959

Sejarah SEA Games yang Kini Telah Melenceng dari Tujuan Utamanya

Ilustrasi Mozaik Pembukaan SEA Games pertama di Bangkok. tirto.id/Nauval
Oleh: Renalto Setiawan - 12 Desember 2019
Dibaca Normal 4 menit
SEA Games digagas sebagai pijakan bagi para atlet Asia Tenggara untuk berprestasi di Asian Games dan Olimpiade.
tirto.id - Peter Cayetano, ketua penyelenggara SEA Games 2019 (PHISGOC) yakin bahwa pesta olahraga negara-negara Asia Tenggara itu mampu memperbaiki citra buram Filipina di mata dunia. Sinar benderang SEA Games 2019, kata Cayetano, tak akan lagi membuat pihak asing mengaitkan Filipina dengan kemiskinan, kemacetan, dan korupsi yang menjadi karib mereka dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Therese Reyes, kontributor Vice Filipina, justru berpikir sebaliknya.

Untuk acara dua tahunan yang diikuti 11 negara, melibatkan 8750 atlet, mempertandingkan 56 cabang olahraga, dan menghabiskan dana sekitar 6 miliar peso tersebut, Reyes mengatakan, “Menjadi tuan rumah SEA Games, yang seharusnya menjadi alat paling relevan untuk mempersatukan Filipina setelah polarisasi Pilpres 2016, justru membuat segalanya tampak jauh lebih buruk bagi Filipina.”

Penilaian Reyes bermula dari kekacauan yang terjadi sebelum SEA Games Filipina resmi dibuka pada 30 November 2019. Kala itu publik menganggap anggaran SEA Games 2019 tidak dialokasikan secara tepat. Pembuatan sebuah kaldron senilai 50 juta peso yang hanya dipakai dalam acara pembukaan dinilai mubazir. Publik menilai dana tersebut sebaiknya digunakan untuk keperluan yang lebih mendesak seperti penyelesaian venue, akomodasi atlet, dan lain-lain.

Kritik tersebut memang beralasan. Selain karena beberapa venue pertandingan belum rampung, sejumlah negara peserta juga sempat mengeluhkan perlakuan panitia penyelenggara: timnas sepakbola Kamboja misalnya, mereka sempat tidur di lantai hotel lantaran pelayan hotel telat mempersiapkan kamar. Sementara timnas sepakbola Thailand mengeluhkan minimnya nutrisi makanan yang disajikan panitia. Dan timnas sepakbola Timor Leste terlambat dijemput di bandara.

Namun, alih-alih menerima kritik dan memperbaiki keadaan, panitia penyelenggara SEA Games 2019 justru memilih untuk menyulut api perdebatan. Mereka malah menyalahkan senat Filipina yang tidak mau menyepakati anggaran awal senilai 7,5 miliar Peso. Jika senat tidak memangkas anggaran awal itu sebesar 33,3 persen, kata Cayetano, masalah seperti itu tidak akan terjadi.

Menurut Reyes, masalah itu menjadi kian pelik karena kemudian membelah pandangan publik Filipina. Sebagian masyarakat menilai bahwa SEA Games 2019 harus tetap didukung dengan sepenuh hati. Sebagian lain menyayangkan uang pajak yang mereka bayar ternyata digunakan untuk membuat malu Filipina.

Dan, ketika perdebatan tak berujung, prestasi apik Filipina di SEA Games 2019 ternyata gagal membuat kebahagian, persis seperti yang dikhawatirkan Reyes sebelum pesta olahraga terbesar di Asia Tenggara tersebut mencapai kulminasi.

Reyes menulis, “SEA Games bukanlah hal yang bisa membuat orang-orang Filipina sebangga--katakanlah--saat Manny Pacquio berhasil mengandaskan lawan-lawannya.”


Esensi SEA Game

Dalam jurnalnya yang berjudul “The History of the Southeast Asian Peninsular (SEAP) Games, 1959–1975: Celebrating Sports and Imagining Nation Building… “, Peng Hang Lim dan Saleh Aman menjelaskan bahwa SEA Games mula-mula dikonsep oleh Laung Sukhumnaipradit selaku Wakil Presiden Komite Olimpiade Thailand pada tahun 50-an.

Pesta olahraga terbesar di Asia Tenggara ini semula bernama Southeast Asian Peninsular (SEAP) Games, dan “bertujuan untuk mempererat hubungan antarnegara di kawasan semenanjung Asia Tenggara, sekaligus bisa menjadi pijakan bagi atlet-atlet negara tersebut untuk berprestasi di kancah dunia.”

Gagasan SEAP Games bermula dari kegagalan Thailand dalam gelaran Asian Games New Delhi 1951 dan Olimpiade Helsinki 1952. Agar kegagalan tidak berulang, Laung lantas berencana membuat pesta olahraga seperti Asian Games dan Olimpiade untuk negara-negara di semenanjung Asia Tenggara. Vietnam, Malaysia, Laos, serta Myanmar yang butuh sarana untuk mencari panggung di kancah internasional menerima gagasan tersebut.

Pada 22 Mei 1958, tepatnya di sela-sela gelaran Asian Games Tokyo, Jepang, beberapa perwakilan dari negara tersebut bertemu secara tidak resmi untuk mematangkan gagasan Laung. Mereka membahas konsep dan hal-hal lain yang diperlukan. Akhirnya mereka bersepakat bahwa pesta olahraga tersebut akan berlangsung dua tahun sekali, mempertandingkan cabang-cabang olahraga penting dalam Asian Games dan Olimpiade, serta akan digelar secara bergiliran di masing-masing negara peserta.

SEAP Games pertama digelar di Bangkok, Thailand, yang dibuka pada 12 Desember 1959, tepat hari ini 60 tahun lalu. Acara yang berlangsung selama lima hari itu diikuti Thailand, Myanmar, Laos, Malaysia, Vietnam, serta Singapura. Melibatkan 518 atlet dan mempertandingkan 12 cabang olahraga penting Olimpiade seperti tinju, angkat besi, atletik, basket, bulutangkis, sepakbola, dan lain-lain. Thailand keluar sebagai juara umum dengan menggondol 35 medali emas, 26 medali perak, dan 16 medali perunggu.

Tak butuh waktu lama, SEAP Games segera memenuhi salah satu tujuan utamanya, yakni sebagai pijakan bagi para atlet untuk berprestasi di tingkat dunia. Dalam gelaran Olimpiade Roma 1960, Tan Howe Liang, atlet angkat besi Singapura yang menggondol emas di Bangkok, berhasil meraih medali perak dan menjadikannya sebagai atlet pertama jebolan SEAP Games yang berprestasi di kancah dunia.

Setelah itu, jebolan-jebolan SEAP Games lainnya seakan tinggal menunggu waktu mengikuti jejak Howe Liang. Chaiya Sukchinda, lifter Thailand, mampu memecahkan rekor dunia di angkatan clean and jerk. Dan dalam gelaran Olimpiade Montreal 1976, petinju asal Thailand berhasil membawa pulang medali perunggu.

Seiring berjalannya waktu, SEAP Games mampu memantik perhatian dunia sekaligus membuat negara-negara di kawasan Asia Tenggara lainnya ingin ikut serta. Namun, saat Indonesia dan Filipina secara terbuka mengungkapkan minatnya untuk bergabung, mereka justru mendapat penolakan.

“Upaya Indonesia dan Filipina untuk bergabung dalam SEAP Games di akhir 1960-an dan awal 1970-an ditolak karena Thailand bersikeras bahwa SEAP Games adalah ‘urusan keluarga kecil’ negara-negara semenanjung,” tulis Simon Creak dalam "The New Golden Peninsula Games":

Meski demikian, penolakan tersebut tidak bertahan lama. Menjelang SEAP Games 1977, tak ada satupun negara yang mau menjadi tuan rumah karena terkendala biaya. Malaysia lantas mau menjadi penyelamat, tapi dengan mengajukan syarat: Indonesia dan Filipina harus diterima menjadi anggota.

Menurut M.F Siregar, salah satu tokoh olahraga Indonesia, syarat dari Malaysia tersebut akhirnya disetujui dalam sidang federasi SEAP di Bangkok pada tahun 1975. Pesta olahraga dua tahunan tersebut kemudian berubah: nama SAEP Games diganti menjadi SEA Games.

Namun ironisnya, dari sanalah SEA Games secara perlahan justru mulai melenceng dari esensi utamanya.


Siasat Busuk Para Tuan Rumah

Dalam biografinya yang berjudul Matahari Olahraga Indonesia, M.F Siregar mengisahkan bahwa Indonesia sempat dipandang sebelah mata dalam gelaran SEA Games di Kuala Lumpur tahun 1977. Negara debutan tersebut sama sekali tak digubris media setempat, bahkan tak disambut tuan rumah saat pertama kali menginjakkan kaki di bandara. Namun, kiprah Indonesia mengubah segalanya.

Sejak hari pertama SEA Games 1977, atlet-atlet Indonesia yang datang dengan semangat juang tinggi, langsung mengeluarkan seluruh kemampuannya. Mereka menyabet 21 medali emas, 9 perak, dan 5 perunggu dari semua nomor renang putra dan putri. Pada hari-hari berikutnya, beberapa cabang olahraga lain pun dikuasai kontingen Indonesia. Total Indonesia mampu meraih 62 emas, 41 perak, dan 34 medali perunggu.

Pencapaian itu membuat Indonesia menjadi juara umum SEA Games 1977, sekaligus menjadi awal mula Indonesia menjadi raksasa olahraga Asia Tenggara. Dalam gelaran 10 SEA Games selanjutnya, Indonesia hanya dua kali gagal menyabet gelar juara umum, yakni pada SEA Games Bangkok 1985 dan Chiang Mai 1995.

Namun, terutama dalam 10 gelaran terakhir, SEA Games tak pernah lagi sama: tujuh peraih juara umum bukan lagi negara jagoan, melainkan negara tuan rumah.



Soal siklus tersebut, Pattharapong Rattanasevee, salah satu pengajar di Universitas Chonburi, mempunyai pandangan menarik. Menurutnya, dalam salah satu tulisannya yang tayang di South China Morning Post, siklus tersebut tak lepas dari pergeseran esensi SEA Games. Jika semula SEA Games merupakan sarana untuk mempererat hubungan antarnegara di Asia Tenggara, kini pesta olahraga tersebut sudah berubah menjadi ajang untuk meluapkan sentimen satu sama lain.

Pandangan Pattharapong setidaknya dapat dibuktikan dengan taktik tuan rumah dalam setiap penyelenggaraan SEA Games. Lantaran setiap tuan rumah dibebaskan untuk memilih cabang olahraga yang akan dipertandingkan, mereka kadang-kadang memasukkan cabang olahraga tradisional atau menghilangkan cabang olahraga inti yang menjadi menjadi titik lemah mereka untuk meraih medali.

Dalam SEA Games 2011 di Indonesia, misalnya. Saat itu, setelah gagal menjadi juara umum pada 6 edisi SEA Games sebelumnya, Indonesia sengaja memasukkan cabang sepatu roda. Karena olahraga tersebut tak familier di negara-negara lain, Indonesia akhirnya mampu menyapu bersih 12 medali yang diperebutkan.

Selain itu, Laos juga tak kalah "licik" dalam memainkan taktik tuan rumah pada SEA Games 2009. Meski akhirnya mereka gagal meraih juara umum, namun mereka menghilangkan pertandingan basket dan senam yang merupakan cabang olahraga inti dalam Olimpiade.

Jika taktik tersebut tak berjalan lancar, tuan rumah SEA Games bahkan tak jarang mengangkangi nilai sportivitas agar dapat berdiri lebih gagah daripada negara-negara peserta lainnya. Maka, tulis Pattharapong, “Isu pengaturan skor, kesalahan penilaian, dan tindakan tak terpuji--seperti meludah atau menghina lawan--bukanlah hal baru bagi para tuan rumah SEA Games.”

Pada akhirnya, akumulasi dari adu gengsi tak sehat antarnegara di kawasan Asia Tenggara tersebut membuat SEA Games tak melangkah ke mana-mana. Mereka bisa saja mendewakan SEA Games, tetapi di mata dunia, pesta olahraga terbesar di Asia Tenggara tersebut justru terlihat seperti kejuaraan para atlet amatiran.

Setidaknya, sampai sekarang, adakah negara Asia Tenggara yang pernah menjadi raja Asian Games atau Olimpiade?

Baca juga artikel terkait SEA GAMES 2019 atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Irfan Teguh
DarkLight