Sejarah SBY yang Selalu Pilih Prabowo, tapi Tidak Sebaliknya

Oleh: Iswara N Raditya - 11 Juni 2019
Dibaca Normal 2 menit
SBY disebutkan selalu memilih Prabowo di Pilpres 2014 dan 2019, tapi Prabowo tidak pernah sekalipun memilih SBY di pemilu-pemilu sebelumnya.
tirto.id - Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Prabowo Subianto punya sejarah hubungan yang panjang sejak masih sama-sama aktif di militer hingga berkecimpung di ranah politik. SBY bahkan disebut-sebut selalu memilih Prabowo pada Pilpres 2014 dan 2019. Namun sebaliknya, Prabowo sama sekali belum pernah memilih SBY di pemilu-pemilu sebelumnya.

Pada Pilpres 2019, Partai Demokrat pimpinan SBY bergabung dengan Koalisi Adil-Makmur yang mengusung pasangan capres nomor 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Namun, setelah pesta demokrasi usai dan KPU menyatakan kemenangan pasangan nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, hubungan antara dua partai politik ini mulai terusik.

Pertemuan antara putra SBY sekaligus Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dengan Jokowi di Istana Bogor pada 22 Mei 2019 kian memanaskan spekulasi. Belum lagi perang cuitan dari elite Demokrat maupun Gerindra yang semakin membikin suasana gaduh.

Ketua DPP Partai Demokrat, Jansen Sitindaon, mengatakan pendukung 02 kerap menuding SBY dan partainya tidak serius dalam memberikan dukungan kepada Prabowo-Sandi.

Jansen membantah tegas tudingan tersebut. Ia mengungkapkan SBY selalu memilih Prabowo dalam dua gelaran pilpres terakhir, begitu pula Ani Yudhoyono. Namun, kata Jansen, Prabowo sama sekali belum pernah mendukung SBY di pemilu-pemilu sebelumnya.


Antara SBY dan Prabowo

Pada 3 Juni 2019 atau sehari setelah pemakaman Ani Yudhoyono, Prabowo Subianto berkunjung ke kediaman SBY di Puri Cikeas, Bogor. Dalam pernyataannya usai itu, pendiri Partai Gerindra ini mengungkapkan bahwa Ani memilih dirinya di Pilpres 2014 dan 2019.

SBY pun langsung bereaksi. “Ini hari penuh ujian bagi saya, Ibu Ani jangan dikaitkan dengan politik. Please, saya mohon [pernyataan] Pak Prabowo, Bu Ani pilih apa, tentu tidak tepat, tidak elok disampaikan,” ucap Presiden RI ke-6 ini.

Sejumlah elite Demokrat turut angkat bicara. Dalam program dialog Kompas TV yang dipublikasikan 9 Juni 2019, Jansen Sitindaon mengakui SBY memang memberitahukan hal itu kepada Prabowo, tapi tidak sepatutnya diungkapkan ke publik, terlebih masih dalam suasana duka.

“Ibu Ani itu milih kamu di 2014 dan 2019. Inilah bukti kalau kami [SBY dan Partai Demokrat] ini serius memenangkan kamu, sedangkan kamu sendiri tidak pernah memilih saya. Kamu tidak sekalipun nge-vote saya,” kata SBY kepada Prabowo seperti yang diulangi oleh Jansen.

Di Pilpres 2004, SBY berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK). Sedangkan Prabowo sempat mengikuti konvensi capres dari Partai Golkar, tapi gagal. Golkar kemudian mengusung Wiranto dan Salahuddin Wahid sebagai calon capres dan cawapresnya.

Berikutnya di Pilpres 2009, Prabowo yang saat itu sudah mendirikan Partai Gerindra berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan menjadi cawapres Megawati Soekarnoputri. Sementara SBY selaku petahana kembali maju, kali ini dengan menggandeng Boediono, dan menang lagi.

Di Pilpres 2014, seperti kata Jansen, SBY yang sudah menjabat presiden dua periode memilih Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa untuk menghadapi Jokowi-JK. Begitu pula di Pilpres 2019 lalu. Demokrat masuk dalam jajaran Koalisi Adil-Makmur untuk mendukung Prabowo-Sandiaga.

Namun, lanjut Jansen, apa yang diungkapkan SBY terkait pilihannya dan Ibu Ani kepada Prabowo dalam Pilpres 2014 serta 2019 tidak seharusnya diungkapkan ke publik, dan itu sebenarnya sudah disepakati oleh dua tokoh nasional ini.

“Waktu itu disepakati, gentle agreement-nya, soal-soal politik ini tidak perlu disampaikan di luar. Belum lagi soal pilihan seseorang, seperti asas pemilu kita, langsung, umum, bebas, rahasia,” papar Jansen.

Maka itu, imbuh Jansen, SBY perlu segera memberikan klarifikasi supaya pernyataan Prabowo yang mengungkap pilihan politik Ani itu tidak diberitakan. Ini diperlukan untuk menghindari dampak bola politik yang lebih besar, terlebih masih dalam suasana berduka.

Kendati begitu, tak lama setelah kejadian tersebut, SBY sudah memaafkan Prabowo. “Pak SBY dan keluarga besar menyampaikan telah memaafkan pernyataan Pak Prabowo yang tidak pada tempatnya ini," ujar Jansen kepada media, Selasa (4/5/2019).


Beda Nasib Politik

SBY dan Prabowo memang teman lama. Keduanya sama-sama masuk Akabri di Magelang pada 1970 meskipun berbeda tahun kelulusan. Menurut D. Danny Hamonangan Simanjuntak dalam buku Rival-rival Politik SBY (2008), SBY menamatkan pendidikan dari Akabri pada 11 Desember 1973 dan menjadi lulusan terbaik. Sedangkan Prabowo lulus tahun berikutnya, 1974.

Setelah berkarier di militer, keduanya kemudian terjun ke politik. SBY merintis karier di pemerintahan sebagai menteri di era pasca-reformasi, lalu menjadi ikon Partai Demokrat dan akhirnya terpilih sebagai presiden di Pilpres 2004 dan 2009.

Adapun karier militer Prabowo melesat cepat setelah menikahi Siti Hediati Hariyadi atau Titiek, putri Presiden RI kala itu, Soeharto. Menjelang kejatuhan mertuanya dari kursi kepresidenan, Prabowo tampil sebagai sosok berpengaruh di Kopassus dan sempat menjabat Pangkostrad.

Seperti halnya SBY yang terjun ke dunia politik, Prabowo –yang sempat menetap di luar negeri usai reformasi– juga merintis pendirian partai politik bernama Gerakan Indonesia Raya atau Gerindra pada 2008 setelah hengkang dari Partai Golkar.

Nasib politik dua teman lama ini berbeda. SBY memenangkan dua kali pilpres dan menjabat presiden dua periode, sedangkan upaya Prabowo selalu gagal di pilpres, dari tidak lolos konvensi capres Partai Golkar pada 2004, lalu menjadi cawapres Megawati pada 2009, juga saat maju sebagai capres pada 2014 dan 2019 bersama Hatta Rajasa dan Sandiaga Uno.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Politik)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Abdul Aziz