Sejarah SBY dan Prabowo: Persaingan Karier Duo Mantu Jenderal

Susilo Bambang Yudhoyono berbincang dengan Prabowo Subianto sebelum mengadakan pertemuan tertutup di Puri Cikeas, Kamis (27/7/2017). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Oleh: Petrik Matanasi - 16 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
SBY dan Prabowo adalah dua mantu jenderal yang kini jadi elite politik nasional. Prabowo dulu punya karier militer yang lebih sangar daripada SBY.
Akabri Darat Magelang bukan tempat abadi bagi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Prabowo Subianto Djojohadikusumo. Setelah belajar tiga tahun, mereka yang lulus resmi menyandang pangkat letnan dua dan berdinas di Angkatan Darat. Akhir 1973, Sus, panggilan akrab SBY, meninggalkan Lembah Tidar yang penuh sejarah sekaligus kenangan.

Sebagai perwira muda penuh ambisi, SBY mengincar satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sebagai jalan kariernya.

“Kopassus menjadi sasaran utama SBY saat itu, namun lantaran Kopassus tidak menambah personil lagi, SBY dengan senang hati tetap bersemangat membidik Kostrad,” kata Kristiani Herrawati alias Ani Yudhoyono, istri SBY, dalam Kepak Sayap Putri Prajurit (2013) yang disusun Alberthiene Endah (hlm. 242-243).

SBY pun tak bisa seperti papinya Ani, Sarwo Edhie Wibowo, yang pernah menjabat Komandan Kopassus (ketika masih bernama RPKAD). Tak bisa Kopassus, Kostrad pun jadi. Tapi SBY tetap gagah di mata Ani. Kala itu, SBY ditugaskan sebagai penerjun payung. Bagaimana pun, menjadi pasukan penerjun adalah kebanggaan juga.

Batalyon Infanteri (Yonif) Lintas Udara (Linud) 330 adalah pos pertama SBY sebagai letnan dua TNI-AD. Jabatannya komandan peleton, seperti kebanyakan lulusan Akabri atau Akmil Magelang. Operasi militer penting yang pernah diikutinya adalah ke Timor Timur (kini Timor Leste).

“Ia bertugas ke sana tahun 1976 sebagai komandan peleton 2/Kompi A Batalyon Infantri Lintas Udara 305/Tengkorak,” tulis Usamah Hisyam dalam SBY: Sang Demokrat (2004: 230).


Tahun berikutnya, pada 1974, Prabowo Subianto alias Bowo juga meninggalkan Lembah Tidar. Sus dan Bowo sebenarnya satu angkatan, tapi Bowo lulus belakangan. Sayangnya, tidak ada sumber pasti yang menyatakan mengapa Bowo telat lulus.

Jika SBY gagal masuk Kopassus, maka Prabowo berhasil masuk. Seperti SBY, Prabowo juga mengalami penugasan di Timor Timur. Bila SBY bertugas di lingkungan Brigade Infanteri Linud 17 (Kujang), maka Prabowo di lingkungan Kopassus hingga 1985.

Duo Mantu Jenderal Beda Nasib

Meski berasal kasta sosial berbeda, ada persamaan yang sulit dipungkiri para pemuja dan pembenci SBY dan Prabowo: dua-duanya adalah menantu jenderal.

SBY dikenal sebagai menantu dari Letnan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo. SBY menikahi Ani pada 1976, ketika Sarwo Edhie hendak menjadi duta besar di Korea Selatan. Prabowo, sementara itu, adalah menantu daripada Jenderal Soeharto. Prabowo menikahi Siti Hediati Harjadi pada 1983. Kala itu, Soeharto merupakan orang paling berkuasa di Indonesia.

Meski mertuanya "hanya" duta besar, SBY bisa berkarier dengan baik sebagai perwira pertama di Angkatan Darat.


Usamah Hisyam menggambarkan betapa hebatnya kecakapan SBY di militer ketika berpangkat letnan. Sebagai andalan kompi, karena kecakapan teknik dan strategi, SBY pernah dikirim mengikuti kursus ranger dan airborne di Amerika pada 1975 (hlm. 121-122). Karier lelaki kelahiran Pacitan ini tergolong cepat. Dia lekas naik jadi komandan kompi dan jabatan komandan lain yang lebih tinggi, meski tak terlalu banyak. Sepanjang kariernya, SBY lebih dikenal sebagai perwira staf atau pengajar di lembaga pendidikan militer.

SBY berusaha memperlihatkan diri sebagai sosok perwira yang tenang, tidak grusa-grusu dan tak banyak tingkah layaknya anak atau mantu orang berkuasa. Ia tentu punya jalan yang berbeda dengan Prabowo.

Jika SBY ke Amerika, Prabowo pernah dikirim ke Jerman setelah 1980 untuk belajar pada satuan polisi elite Jerman Barat, Grenzschutzgrupppe 9 (GSG-9). Ia berangkat ke Jerman bersama Luhut Binsar Pandjaitan, yang lebih senior. Sepulang dari Indonesia, Luhut dan Prabowo memimpin satuan khusus anti-teror di Kopassus. Bersama Luhut, yang dipanggil abang karena lebih senior, Prabowo punya kenang-kenangan tersendiri pada 1983.


Seperti dicatat Hendro Sutrisno dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009), Prabowo sempat terbuang dari Kopassus sekitar 1985. Banyak yang menyebut hal itu terjadi karena pertentangan Prabowo dengan Panglima ABRI Benny Moerdani (hlm. 445-455).

Mayor Jenderal Kivlan Zen, kakak angkatan yang dikenal sayang kepada Prabowo, dalam Konflik dan Integrasi TNI-AD (2004: 70), menyebut selama 1982 hingga 1985 Prabowo bertugas sebagai staf khusus Jenderal Benny Moerdani.

“Sebagai staf khusus, Mayor Prabowo Subianto mendengar penjelasan tentang rencana menghancurkan gerakan-gerakan Islam secara sistematis [...] namun, Prabowo Subianto merasa tidak cocok dengan rencana tersebut dan melaporkan langkah-langkah Benny kepada mertuanya, Presiden Soeharto, termasuk rencana Jenderal Benny Moerdani untuk menguasai Indonesia atau menjadi Presiden RI,” tulis Kivlan.

Setelah 1985, Prabowo dibuang dari Kopassus. Berkat campur tangan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Rudini, Prabowo ditugaskan sebagai Wakil Komandan Batalyon 328. Selepas Benny Moerdani jauh dari kekuasaan, barulah Prabowo kembali dengan tenang dan melesat cepat. Dia setidaknya menjadi Komandan Jenderal Kopassus lalu Panglima Kostrad. Setelah Soeharto lengser, karier Prabowo nyatanya mentok.

Karier militer SBY tidak sesangar Prabowo. SBY yang cemerlang di pasukan pada awal-awal kariernya hanya sedikit menikmati jabatan komandan pasukan. Ketika Sarwo Edhie masih hidup pun, pengaruh sang mertua terhadap karier SBY sulit diharap. Beberapa tahun sebelum meninggal pada 1989, Sarwo Edhie Wibowo bukan lagi jenderal berpengaruh di ABRI. Dia sudah "dikaryakan".

Setelah menjadi Komandan Batalyon Infanteri 744 di Kodam Udayana, jabatan komandan penting yang pernah didudukinya adalah Komandan Brigade Infanteri Linud 17 Kujang Kostrad selama setahun, dari 1993 hingga 1994.

Di level Kodam, SBY pernah menjadi Kepala Staf Kodam Jaya pada 1996 dan kemudian menjadi Panglima Kodam Sriwijaya pada 1996-1997. Setelah itu, dia hanya dikenal sebagai jenderal staf.


SBY Melesat, Prabowo Mentok

Setelah Soeharto jatuh, karier SBY memang melesat; bukan di militer, melainkan di pemerintahan. Setelah melewati karier militer yang secara umum terlihat "biasa-biasa saja", SBY akhirnya masuk politik dan jadi presiden. Dia adalah tentara kedua setelah Soeharto yang jadi Presiden Republik Indonesia.

SBY memang tidak bisa seperti mertuanya yang pernah jadi Komandan Kopassus. Namun, SBY bisa menjadi seperti mertua Prabowo. Sebaliknya, hingga saat ini, Prabowo memang sudah pernah menduduki jabatan seperti mertua SBY dengan menjadi Danjen Kopassus, tapi masih belum mampu meraih kedudukan seperti mertuanya sendiri: jadi Presiden RI. Paling tidak, Prabowo masih berusaha untuk itu.

SBY tidak pernah berada di puncak karier militer sebagai Panglima ABRI, begitu pula Prabowo. Karier militer SBY memang tidak bisa dibilang cemerlang, berhubung jabatan terakhirnya di ABRI hanya Kepala Staf Teritorial (Kaster). Jabatan itu tentu saja tidak sestrategis Panglima Kostrad atau Kepala Staf Angkatan Darat atau Panglima ABRI.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight