Sejarah Pulau Onrust, Saksi Perang Dagang Antar-Imperium Dunia

Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. FOTO/Istimewa
Oleh: Indira Ardanareswari - 20 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Nama Onrust berarti "tanpa istirahat", merujuk pada kondisi pulau yang selalu ramai oleh kapal-kapal dagang Belanda dan aktivitas bongkar muat.
tirto.id - Aroma amis mulai menyeruak menusuk hidung dari kejauhan. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam dari Kota Tua, mobil yang saya tumpangi akhirnya tiba sebuah dermaga kecil yang terletak di tak jauh dari Pasar Ikan Kamal Muara, Jakarta Utara.

Kebetulan hari itu, Kamis (10/10/2019), saya bersama 120 siswa dan mahasiswa dari berbagai sekolah dan universitas di Jakarta dan sekitarnya berkesempatan mengikuti acara puncak Peringatan Hari Museum Indonesia 2019 yang dikemas dalam perjalanan wisata sejarah bahari di Kepulauan Seribu.

Dengan menumpang Kapal Motor Sinar Jaya 1, kami membelah Teluk Jakarta ke arah utara sejauh 14 kilometer dari pelabuhan ikan Kamal menuju gugusan Pulau Kelor, Cipir, dan Onrust. Ketiganya masih satu rangkaian suaka purbakala bernama Taman Arkeologi Onrust yang dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan melalui Museum Kebaharian Jakarta sejak 2002.

Begitu mendarat, pemandu kami, Rosadi, dengan semangat bertanya kepada para siswa peserta, “Berapa lama Indonesia dijajah Belanda?”

“Tiga ratus lima puluh tahun!” jawab mereka serempak.

Rosadi pun menggeleng, “Menurut saya Indonesia tidak pernah dijajah, karena Indonesia baru ada tahun 1945. Sebelumnya hanya ada kongsi dagang Belanda VOC dan kerajaan-kerajaan Nusantara.”

Seperti halnya Rosadi, saya pun meyakini bahwa mitos penjajahan Belanda selama lebih dari tiga abad memang sudah sepatutnya ditinjau ulang sebelum diajarkan kembali di sekolah-sekolah. Kolonialisme memang terjadi, namun tak sepanjang itu.


Kenyataannya, kolonialisme belum dimulai pada abad-abad awal kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara. Sebaliknya, wilayah perairan Nusantara lebih sering digunakan sebagai panggung perang dagang internasional antara bangsa-bangsa Eropa yang diikuti pula oleh konflik teritorial kerajaan-kerajaan lokal.

Menurut Rosadi, Pulau Onrust tampil istimewa dalam Sejarah Nusantara karena sempat menjadi salah satu panggung peperangan tersebut. Onrust dikenal sebagai benteng pertahanan Belanda yang ingin memonopoli titik berlabuh kapal dagang mereka di Sunda Kepala. Di sisi lain, pulau ini juga menjadi rebutan antara Pangeran Jayakarta dengan Kesultanan Banten yang memicu invasi ke Kota Jayakarta pada 1618.

Perang Dagang yang Melahirkan Onrust

Menurut catatan yang dirangkum ke dalam Laporan Penelitian Arkeologi Pulau Onrust (1993, hlm. 1), Onrust dan beberapa pulau lain di sekitar Teluk Jakarta sebenarnya merupakan bekas tempat peristirahatan keluarga Raja-raja Banten. Fungsi pulau ini pun beralih tatkala bangsa Eropa mulai menjatuhkan jangkar kapal-kapal dagang mereka di perairan utara Jawa.

Merle Calvin Ricklefs menuturkan dalam Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 (2008, hlm. 57) bahwa Sunda Kepala merupakan salah satu kawasan magnet bagi kelompok-kelompok pedagang Eropa sejak abad ke-17. Disebutkan pula pada tahun 1604, perseturuan antara Inggris dan kongsi dagang Belanda VOC memperebutkan hak monopoli perdagangan rempah-rempah di laut Jawa semakin meruncing.

Sebelumnya, kedatangan Inggris di perairan Maluku sudah pernah mendapat perlawanan sengit dari Belanda VOC yang merasa sudah lebih dahulu memenangkan kontrak dagang dengan penguasa setempat. Perseturuan ini pun mereka bawa ke perairan utara Jawa hingga ke Banten.

“Konflik Inggris-Belanda semakin memuncak ketika orang-orang Belanda merasa bahwa cita-cita monopoli mereka telah luput,” tulis Ricklefs.

VOC kenyataanya tidak bisa menutup mata dari kegiatan-kegiatan Inggris di Jawa di awal abad ke-17. Untuk mengalahkan Inggris, Belanda berusaha mendirikan apa yang disebut Ricklefs “pusat pertemuan” bagi kapal-kapal dagang Belanda di Banten. Namun, rencana ini gagal akibat perang saudara di wilayah Kesultanan Banten.

Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII (2008, hlm. 118) menuturkan bahwa perang saudara di wilayah Banten melumpuhkan kegiatan perdagangan di kota-kota pelabuhan. Kondisi buruk ini diikuti oleh kebijakan Kesultanan Banten yang mempersulit kegiatan dagang orang-orang kulit putih.

Terusir dari Banten, Belanda mengalihkan kegiatan dagangnya ke pelabuhan Jayakarta yang berada di bawah kekuasaan seorang pangeran vasal Kesultanan Banten. Tempat ini pernah dipuji oleh pengembara asal Portugis, Tom Pires, satu abad sebelumnya sebagai salah satu pelabuhan terbaik di Jawa.

“Pelabuhan Sunda Kepala merupakan pelabuhan yang menakjubkan dan yang terpenting di antara pelabuhan lainnya. Di sinilah tempat perdagangan terbesar dijalankan,” tulis Tome Pires dalam Suma Oriental (2016, hlm. 225) yang disunting oleh Armando Cortesao.


Diwakili Jan Pieterzoon Coen, VOC memutuskan untuk mendirikan markas permanen di sana. Untuk itu, ia mendekati Pangeran Jayakarta dengan janji akan melindungi Jayakarta dari serangan Inggris dan Kesultanan Banten.

Antara tanggal 10-13 November 1610, Pangeran Jayakarta dan VOC menggadakan pertemuan yang menghasilkan sebuah perjanjian. Menurut isinya, Jayakarta memperbolehkan orang-orang Belanda mengambil kayu untuk pembuatan kapal di Teluk Jakarta. Untuk itu, Belanda diperkenankan menggunakan sebuah pulau seluas 12 hektar sebagai tempat mendirikan galangan kapal.

Pada prakteknya, Belanda memanfaatkan kesempatan itu untuk mendirikan markas dan gudang rempah-rempah seperti yang diimpikan Coen. Kondisi pulau yang selalu ramai oleh kapal-kapal dagang Belanda dan aktivitas bongkar muat yang tidak pernah berhenti membuat pulau itu dijuluki Onrust (tanpa istirahat).

“Nama ini dikenal sejak abad 17. Namun, hanya dikenal oleh kalangan Belanda saja dan para buruh yang dipekerjakan di pulau tersebut. Sedangkan penduduk setempat tetap mengenalnya sebagai Pulau Kapal,” demikian catat Laporan Penelitian Arkeologi Pulau Onrust.

Pulau Sengketa dan Tempat Orang Buangan

Dalam perkembangannya, VOC mengubah pulau itu menjadi wilayah koloni dan benteng pertahanan. Pekerja-pekerja asal Cina daratan mulai diboyong untuk tinggal di pulau dengan sejumlah fasilitas rumah dan air bersih. Selain bertugas mengatur komoditas perdagangan di Onrust, para pekerja ini juga berperan sebagai mandor yang mengawasi pembangunan menara bastion.

Jalan memonopoli perdagangan melalui perang dan kekerasan memang sudah menjadi ciri khas Jan Pieterzoon Coen sejak tahun 1614. VOC menyadari kehadiran mereka di Pulau Onrust akan mengundang rasa permusuhan dari Inggris dan Banten, sehingga Coen merasa perlu melengkapi markasnya di Onrust dengan moncong meriam yang mengarah langsung ke Teluk Jakarta.



Perjanjian Jayakarta yang mengizinkan aktivitas perdagangan dan militer VOC di Teluk Jakarta pun terbukti meresahkan Kesultanan Banten. Berdasarkan apa yang dipaparkan Bambang Budi Utomo dalam Warisan Bahari Indonesia (2016, PDF), pada hakikatnya Kesultanan Banten menganggap seluruh gugusan Kepulauan Seribu berada di bawah kekuasaannya. Sebaliknya, Pangeran Jayakarta mengklaim pulau-pulau tersebut, khususnya Pulau Onrust dan sekitarnya, sebagai wilayah teritorial Jayakarta.

Perselisihan ini memicu keputusan Banten untuk menaklukan Jayakarta dan VOC. Banten mendesak agar Inggris melancarkan serangan untuk membumihanguskan Jayakarta dan mengusir kapal-kapal VOC dari Teluk Jakarta. Dalam peristiwa penyerangan Jayakarta pada Desember 1618, Pulau Onrust sempat dijadikan pertahanan laut terakhir VOC sebelum akhirnya terpukul mundur ke pos pertahanan di dalam kota Jayakarta.

Pulau Onrust kembali mendapat gempuran besar-besaran dari Inggris lebih dari 180 tahun kemudian. Tepatnya pada 1800, Inggris berhasil menembus blokade Jayakarta yang sudah beralih nama menjadi Batavia dengan menghancurkan infrastruktur di Pulau Onrust. Inggris menyerang Onrust sebanyak tiga kali (1800, 1806, 1810), sebelum akhirnya mereka angkat kaki dari Indonesia pada 1816.

Sepanjang abad ke-19, secara fungsional Pulau Onrust tidak jauh berbeda dibandingkan abad-abad sebelumnya. Setelah VOC dinyatakan bangkrut pada 1799, Pulau Onrust lebih sering digunakan oleh Pemerintah Kolonial sebagai pangkalan kapal-kapal armada laut Belanda yang perlu diperbaiki.

Peranan Onrust semakin menghilang tatkala Pemerintah Kolonial mulai membangun dan memindahkan galangan kapal ke Pelabuhan Tanjung Priok pada 1883. Di tahun-tahun selanjutnya, Pulau Onrust berulang kali beralih fungsi mulai dari pos karantina jamaah haji, pusat karantina orang-orang dengan penyakit menular, hingga tempat tawanan pemberontak dan mata-mata Jerman sepanjang Perang Dunia II.

Baca juga artikel terkait PULAU ONRUST atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Windu Jusuf
DarkLight