Sejarah Pulau Galang dari Tentara Jepang hingga Penanganan COVID-19

RS darurat untuk pengendalian infeksi penyakit menular, utamanya COVID-19 (Corona) di Pulau Galang. FOTO/Dokumentasi Kementerian PUPR/pri.
Oleh: Petrik Matanasi - 9 April 2020
Dibaca Normal 2 menit
Pulau Galang pernah menampung serdadu Jepang yang dipulangkan Sekutu. Paling terkenal sebagai tempat pengungsi Vietnam dan kini untuk penanganan pasien corona.
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, para serdadunya yang berada di Pulau Jawa dipulangkan melalui beberapa pelabuhan. Untuk mengurus pemulangan tersebut, Indonesia mendirikan Panitia Oeroesan Pengangkoetan Djepang dan APWI (POPDA) yang dipimpin oleh Jenderal Mayor Sudibyo. APWI adalah singkatan dari Allied Prisoner of War and Internees.

Menurut Bagus Nasis Djajadiningrat dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan III (1986:119), setelah dilucuti, para serdadu Jepang diberangkatkan dari pelabuhan Tegal, Probolinggo, dan Banyuwangi, menuju ke Pulau Galang, Riau. Mereka yang dibawa di Pulau Galang sudah diperiksa dan statusnya bukan lagi penjahat perang yang akan diadili sekutu.

“Di Pulau Galang, pulau kecil di gugusan Kepulauan Riau di sebelah timur Sumatra, mereka (para bekas serdadu Jepang itu) menunggu selama beberapa bulan untuk diangkut dengan kapal pulang ke Jepang,” tulis RHA Saleh dalam Mari Bung Rebut Kembali (2000:257).


Manusia Perahu Vietnam

Sepuluh tahun setelah Perang Dunia II usai, Perang Vietnam meletus. Perang ini dimenangkan oleh kubu komunis yang berada di Vietnam Utara. Orang-orang non-komunis kemudian melakukan eksodus besar-besaran ke pelbagai negara untuk mencari suaka.

Para pengungsi itu banyak yang pergi berlayar dengan perahu yang penuh sesak. Berhari-hari mereka bertahan hidup di atas perahu. Sebagian dari mereka kemudian tersasar ke Indonesia.

Setelah pertemuan beberapa negara ASEAN yang anti-komunis dengan negara Barat, maka Filipina dan Indonesia menawarkan diri membantu para pengungsi tersebut.

Menurut Antje Missbach dalam Troubled Transit: Politik Indonesia Bagi Para Pencari Suaka (2016:41), Filipina menawarkan Pulau Tara untuk 7 ribu pengungsi dan Indonesia menawarkan Pulau Galang untuk 10 ribu pengungsi.

Pada tahun 1979, pulau seluas 8.706,25 hektare itu hanya dihuni oleh 200 orang warga Indonesia. Pulau Galang hanya menjadi tempat singgah para pengungsi pencari suaka, sebelum mereka mendapatkan negara yang mau menerimanya.

Robby Sumampow, seorang pengusaha yang dekat dengan Jenderal Benny Moerdani, termasuk orang yang terlibat dalam pembangunan kamp pengungsi di Pulau Galang.

“Kamu sanggup atau enggak dalam tiga bulan menampung 30 ribu orang?” tanya Moerdani kepadanya.

Robby menyanggupinya. Kepada Tempo (06/10/2014), Robby mengaku bahwa rumah-rumah pengungsi itu didesain di Pulau Jawa. Sesampainya di Pulau Galang, baru dipasang. Para tukangnya pun dari Jawa. Mereka dibawa dengan menggunakan pesawat terbang ke Pulang Galang untuk membuat rumah-rumah bagi para pengungsi.


“Para pengungsi yang kebanyakan wanita dan anak-anak itu masuk ke pulau-pulau Indonesia setelah transit di Thailand atau Malaysia. Mereka kelelahan dan ketakutan karena mendapat perlakuan buruk di negaranya maupun di tempat transit,” kata Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno dalam biografinya Mengawal Perbatasan Negara Maritim: Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno, S.H (2010:122).

Indonesia menjadi tempat transit bagi manusia perahu asal Vietnam sejak 1979 hingga 1996. Lembaga PBB yang mengurusi pengungsi, United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) bekerja sama dengan Indonesia atas nasib pengungsi di Pulau Galang. Tempat ini pernah menampung pengungsi hingga 20 ribu orang. Padahal, seperti dicatat Tempo (04/12/1993), fasilitas yang ada hanya cukup untuk menampung 2 ribu orang.



Pada 1990-an, penghuni Pulau Galang banyak yang masih belum dapat negara tujuan. Salah satu alasannya adalah karena banyak di antara mereka yang mengungsi karena pertimbangan ekonomi, bukan alasan politik. Oleh karena itu negara-negara yang menjadi tujuan mereka pun merasa keberatan.

Pada periode itu, kondisi barak-barak pengungsi di Pulau Galang amat kumuh. Dalam tempat hidup darurat berskala besar itu masalah sosial juga timbul, seperti perkelahian, mabuk-mabukan, seks bebas hingga pelacuran gelap.

Fasilitas hidup di Pulau Galang juga makin dikurangi. Pemutaran video yang semula lima buah menjadi dua buah sehari. Warung-warung kecil, penjual mata uang asing, tukang sepatu, dan tukang emas mulai ditutup. Begitu juga salon kecantikan, kedai kopi, dan toko pakaian: semuanya berhenti beroperasi. Tahun 1993, sekolah menengah juga ditutup dan tinggal menyisakan SD yang hanya sampai kelas lima.

Setelah perang sudah lama berlalu, maka tahun 1996, seperti diakui Tedjo Edhy, ketika situasi di Vietnam membaik, para pengungsi yang tidak diterima di negara tujuan dipulangkan kembali ke Vietnam dan Kamboja dengan kapal angkut milik Angkatan Laut Indonesia.

Kini, ditengah wabah virus Corona yang mulai mengganas di Indonesia, maka Pulau Galang lagi-lagi menjadi pulau kemanusiaan. Rumah sakit khusus Corona didirikan di Pulau Galang pada tahun 2020 ini. Dengan cepat fasilitas kesehatan dibangun oleh PT Waskita Karya. Fasilitas kesehatan ini diantaranya ada yang dibangun di bekas kamp pengungsi pulau galang.

Baca juga artikel terkait PULAU GALANG atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight