17 September 1945

Sejarah PMI: Dari Penolakan Belanda hingga Tugas di Lapangan IKADA

Ilustrasi Mozaik Palang Merah Indonesia didirikan. tirto.id/Nauval
Oleh: Petrik Matanasi - 17 September 2020
Dibaca Normal 4 menit
Palang Merah lahir setelah turis bernama Jean Henry Dunant menyaksikan korban perang bergelimpangan di Solferino, Italia.
Palang Merah Indonesia didirikan pada 17 September 1945, tepat hari ini 75 tahun lalu. Meski demikian, cikal bakalnya sudah dimulai sejak 1938 oleh dr Rumondor Cornelis Lefrand Senduk dan dr Bahder Djohan. Kehadiran PMI sebulan setelah Proklamasi Kemerdekaan begitu penting dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Organisasi sosial kemanusiaan ini pada mulanya digagas oleh Jean Henry Dunant yang pernah mengorganisasi penduduk sipil untuk menolong korban perang di Solferino, Italia, pada 1859.

Ia awalnya seorang bankir dan pebisnis Swiss yang suka mengunjungi banyak daerah di sekitar Eropa Selatan, bahkan sampai Afrika utara. Urusan bisnisnya di Aljazair membuatnya harus bertemu Raja Perancis, Napoleon III, untuk minta bantuan sang raja di daerah koloninya. Kebetulan sang raja sedang berada di sekitar Solferino. Dunant pun ke sana untuk menemui sang raja. Ketika ia tiba di Solferino pada jumat, 24 Juni 1859, pertempuran yang memakan banyak korban baru saja usai. Sekitar 35 ribu korban luka, sekarat, dan tewas bergelimpangan tanpa ada yang mengurus.

“Saya hanya seorang turis yang tidak ada sangkut pautnya dalam konflik besar ini,” tulis Dunant sebulan kemudian dalam A Memory of Solferino (1939) terjemahan dari Un Souvenir de Solferino.

Meski demikian, ia tidak bisa berdiam diri dan segera mengorganisasi penduduk setempat--terutama kaum perempuan--untuk sukarela menolong yang luka. Untuk mengatasi kurangnya obat-obatan, Dunant mengatur pembeliannya. Para sukarelawan itu mendirikan rumah sakit darurat. Dunant juga berhasil melobi pihak Prancis untuk membebaskan para dokter Austria agar bisa terlibat menyelamatkan korban yang luka.

“Kita semua bersaudara,” ujar perempuan-perempuan dari kota Castiglione delle Stiviere, tak jauh dari Solferino. "Siamo Tutti Fratelli" dalam bahasa mereka. Kalimat yang kemudian jadi semboyan Palang Merah itu mengisyaratkan untuk menolong siapa saja tanpa melihat latar belakang korban. Dalam Palang Merah, selain kemanusiaan hadir pula asas kenetralan, artinya tak boleh berpihak pada yang satu dan membiarkan pihak lain menderita.

Setelah menolong banyak korban, Dunant meninggalkan Solferino. Tahun 1862--memakai uang pribadi--ia menulis sebuah buku tipis berjudul Un Souvenir de Solferino yang dicetak sebanyak 1600 eksemplar. Buku itu kemudian diberikan kepada para tokoh politik dan militer di Eropa.

Gustave Moynier--Presiden Perhimpunan Jenewa dan Kesejahteraan Umum yang juga seorang ahli hukum--menjadikan buku tipis ini sebagai topik yang dibicarakan dalam forum pertemuan organisasinya pada 9 Februari 1863. Sebuah komite yang beranggota lima orang dibentuk. Selain Henry Dunant dan Gustave Moynier, terdapat pula Panglima Angkatan Bersenjata Swiss, Jenderal Henry Dufour, ditambah dua dokter yakni Louis Appia dan Thoedore Maunoir.

Komite ini mengadakan pertemuan pada 17 Februari 1863. Tanggal ini dianggap sebagai tanggal berdirinya International Committe of Red Cross (Komite Internasional Palang Merah). Dalam komite ini, Dunant berselisih dengan Moynier soal prinsip kenetralan yang dianggap muskil oleh Moynier dan lainnya. Setelah perselisihan dengan ahli hukum itu, Dunant makin sulit. Perannya kemudian diperkecil oleh Moynier dan akhirnya mundur.

Organisasi yang mereka bentuk kemudian disebut Palang Merah. Lambangnya mirip bendera Swiss, hanya bertukar warna. Menurut dr Bahder Djohan dalam autobiografinya Bahder Djohan Pengabdi Kemanusiaan, selama Perang Dunia I kehadiran Palang Merah begitu penting untuk menolong yang terluka. Dan prinsip kenetralan seharusnya bisa menyelamatkan lebih banyak orang.

Demi menegakkan prinsip kenetralan Palang Merah, Dunant lalai dalam berbisnis hingga membuatnya jatuh miskin. Warsa 1901, ia menerima Hadiah Nobel Pedamaian yang uangnya kebanyakan digunakan untuk melunasi utang-utangnya. Sembilan tahun kemudian ia meninggal dunia.


Semangat Dunant di Indonesia

Pada 21 Oktober 1873, di Hindia Belanda berdiri Nederlandsch Rode Kruis Afdeling Indie (Nerkai). Menurut Amelia Fauzia dalam Faith and the State: A History of Islamic Philanthropy in Indonesia (2013), dan Fritz Jaquet dalam Gids van in NederlandAanwezige Bronnen Betrqfende de Geschiedenis van Nederlands-Indie/Indonesie 1816-1942 (1968), sebelum Nerkai berdiri hanya terdapat beberapa perkumpulan kecil palang merah di Betawi. Tahun 1920, Nerkai mempunyai klinik di Betawi dan Bogor. Dan pada 1929, mereka memiliki rumah sakit di Bogor.

Ketika pergerakan nasional mulai muncul, dokter-dokter Indonesia merasa harus memiliki gerakan palang merahnya sendiri. Menurut Haris Munandar dalam Mengenal PMI dan BaSARnas, Dua Garda Terdepan Menghadapi Bencana (2008), pada 1938 dr Bahder Djohan asal Minang dan dr Lefrand Senduk asal Minahasa mengusulkan diadakannya Palang Merah Indonesia, meski ditolak oleh Nerkai.

Menurut Bahder Djohan, ide pendirian Palang Merah oleh orang Indonesia itu datang dari dr Lefrand Senduk, dokter yang tinggal di Sukabumi. Palang Merah yang berisikan orang Indonesia, “memang sudah mulai dirasakan penting adanya di Indonesia, untuk menyatakan bahwa bangsa Indonesia, meskipun sedang berada di bawah telapak kaki penjajah, namun masih mempunyai perasaan perikemanusiaan.”

Usul itu diulangi lagi pada tahun 1940 dan ditolak lagi. Bahkan sebuah komentar menyakitkan terlontar dari seorang Belanda: "Orang pribumi itu tidak mengerti apa yang dimaksud dengan perikemanusiaan.”

Atas komentar angkuh itu, di forum tersebut Bahder Djohan bercerita pengalamannya ketika mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke Semarang. Alkisah, tiga orang kawan Bahder Djohan mengalami luka, ia pun menghentikan mobil yang berisi dua orang Belanda untuk meminta pertolongan. Namun, orang-orang Beanda itu tak peduli dan meninggalkan Bahder Djohan serta kawan-kawannya yang tertimpa musibah.



“Ternyata di pihak Belanda pun ada juga oknum-oknum yang tidak tahu perikemanusiaan,” pungkas Bahder Djohan menutup ceritanya. Orang-orang Belanda yang mendengar cerita Djohan itu tampak marah. Salah seorang perwira militer Belanda berbadan tinggi besar protes.

“Aku mengajukan protes terhadap ucapan dr Bahder Djohan,” ucap sang perwira. Forum itu pun rusuh hingga ketua kongres mengetuk palu untuk menenangkannya.

“Begitulah sikap orang Belanda terhadap anak jajahannya yang tidak hanya memandang rendah di bidang politik, bahkan di bidang kemanusiaan pun mereka berbuat yang sama,” kata Bahder Djohan.

Nerkai dibubarkan oleh pemerintah militer Jepang di Indonesia yang mengalahkan Belanda pada Maret 1942, dan baru muncul lagi setelah 1945 hingga 1949. Menurut Bahder Djohan terdapat semacam rivalitas antara Nerkai dengan PMI. Di zaman pendudukan Jepang, menurut Ayatrohaedi dan kawan-kawan dalam Kumpulan Buklet Hari-hari Bersejarah (1994), dr. Senduk mengulangi ide yang sama dan ditolak oleh Jepang.

Pada 3 September 1945, Presiden Sukarno memerintahkan dr. Buntaran Martoatmodjo untuk mendirikan palang merah. Dua hari kemudian, Buntaran mengumpulkan dr. R. Mochtar, dr. Djoehana, dr. Marjuki, dr. Sitanala, dan dr. Bahder Djohan. Maka terbentuklah Panitia Lima yang diketuai oleh dr. R. Mochtar dan Bahder Djohan sebagai sekretaris. Mereka bekerja selama 12 hari untuk menyusun pengurus.

Ketua PMI pertama adalah Wakil Presiden Mohammad Hatta. Sementara aksi pertama PMI yang baru dibentuk itu adalah bersiaga dalam Rapat Raksasa di Lapangan IKADA (Monas) yang penuh sesak oleh manusia. Mereka bersiaga di sekitar pepohonan di barisan belakang untuk mengantisipasi jika ada orang-orang yang tumbang karena sesak napas.


Anggota PMI kala itu biasanya dilatih oleh tenaga medis yang bekerja di rumah sakit, baik dokter maupun suster (perawat). Bahder Djohan menyebut Suster Palenkahu salah satunya. PMI banyak di isi oleh remaja-remaja putri yang disebut dara-dara PMI. Sementara remaja putra kebanyakan bergabung dengan laskar perjuangan. Mereka memulai PMI dengan segala keterbatasan.

Pemerintah RI yang baru berdiri kesulitan menyediakan kebutuhan PMI. Namun beruntung karena sejumlah pengusaha Indonesia yang bisnisnya juga terganggu karena perang masih mau membantu. Bahder Djohan menyebut nama Wahid Sutan yang memberikan Gedung bekas Hotel Du Pavillon untuk menjadi markas PMI, Djohor menyediakan truk-truk beserta supirnya, serta Dasaad yang memenuhi kebutuhan lainnya.

PMI menolong para pejuang kemerdekaan yang terluka di front-front pertempuran melawan Jepang, Inggris, dan Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan, PMI mengambilalih kantor Nerkai di Pasar Baru, juga semua semua instalasi Nerkai termasuk tempat Tranfusi Darah, Gudang, dan sebagainya. Istri Almarhum Sam Ratulangi, Maria Tambayong, yang bergabung di PMI ikut serta memeriksa bekas gudang Nerkai dan mengurus segala isinya.

Jelang bubarnya Nerkai di Indonesia, Bahder Djohan melihat beberapa pegawai Nerkai menukar huruf di kantong darah yang sangat berbahaya jika terjadi salah transfusi darah. Ia pun mengusir orang-orang Nerkai itu.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 16 September 2016. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait PALANG MERAH atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight