21 Januari 1968

Sejarah Pertempuran Khe Sanh dalam Perang Vietnam

Kontributor: Tyson Tirta - 21 Jan 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Pertempuran Khe Sanh dinilai sangat merugikan AS seperti halnya Prancis yang merugi pada Perang Dien Bien Phu 1954.
tirto.id - Perang Vietnam berlangsung sekitar 19 tahun di paruh kedua abad ke-20. Rangkaian peperangan ini menjadi salah satu yang paling banyak terdokumentasikan dalam sejarah dunia. Berbagai cuplikan perang juga menjadi bahan atau sekadar latar bagi karya sastra dan seni seperti drama, musik, dan film. Salah satu episode paling penting dalam Perang Vietnam adalah pertempuran Khe Sanh yang terjadi antara 21 Januari hingga 9 Juli 1968.

Pertempuran ini terjadi di wilayah Khe Sanh di barat laut provinsi Quang Tri, Republik Vietnam (Vietnam Selatan). Pada mulanya, pasukan utama Amerika Serikat berjaga-jaga mempertahankan pangkalan Tempur Khe Sanh. Para penjaga ini terdiri dari dua resimen korps Marinir AS, sejumlah kecil Angkatan Darat, dan sejumlah pasukan Republik Vietnam. Mereka berhadapan dengan Tentara Rakyat Vietnam Utara.

Sejak 1967, otoritas militer AS tak pernah menganggap serius berbagai upaya penyerangan di wilayah itu. Pasalnya, mereka tidak mendapatkan perlawanan berarti yang dilakukan pasukan musuh. Namun, kali ini pasukan Vietnam Utara tidak main-main ketika menugaskan sejumlah besar kekuatan tempurnya ke wilayah tersebut.

Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya hingga Oktober 1967, pasukan Vietnam Utara gencar menyerang benteng Con Thien di puncak bukit di tengah garis pertahanan lawan. Konon, frekuensi serangan mencapai ratusan peluru per hari. Di samping menyerang Con Thien, sebuah resimen Vietnam Utara juga menyerbu batalion Angkatan Darat Vietnam di Song Be, yang juga merupakan pangkalan milik AS. Penyerbuan berdurasi beberapa hari ini sempat memakan korban sebelum akhirnya dihentikan. Dua hari kemudian, Resimen ke-273 Vietnam Utara lagi-lagi menyerang sebuah markas pasukan khusus di dekat kota perbatasan Loc Ninh.

Jenderal William Wetmoreland, komandan militer AS di Vietnam, tak punya banyak pilihan. Ia merespons situasi itu dengan Operation Neutralize. Operasi ini bertujuan untuk memecah kepungan musuh dengan serangan laut dan udara berupa 40 ribu ton bom. Hasilnya, pasukan divisi infanteri 1 AS mampu bertahan selama 10 hari dan menyerang balik hingga memukul mundur lawannya hingga ke Kamboja.

“Dalam pertempuran itu, Tentara Rakyat Vietnam Utara justru kehilangan lebih banyak pasukan. Jumlah korban di pihak mereka setidaknya 852 tentara, sementara pasukan AS dan Vietnam Selatan hanya 50 orang,” tulis Terrence Maitland dan Peter McInerney dalam Contagion of War (1965-1967): The vietnam Experience (1983:165).

Pertempuran serupa terjadi berulang kali, baik di wilayah pergunungan, laut, maupun di dataran rendah. Otoritas militer AS pun akhirnya mulai resah dan membuat keputusan untuk mencurahkan lebih banyak perhatian pada Khe Sanh. Meski begitu, mereka masih ragu mengenai masa depan pangkalan ini karena mempertahankannya mati-matian dari strategi gerilya musuh akan memakan begitu banyak biaya dan tenaga.

Bagi Westmoreland, pilihan untuk mempertahankan Khe Sanh atau justru meninggalkannya adalah pilihan yang cukup jelas. Dalam memoarnya, dia menjelaskan bahwa Khe Sanh sebetulnya dapat berfungsi sebagai pangkalan patroli untuk memblokir infiltrasi musuh yang datang dari arah Laos. Selain itu, pangkalan ini penting karena menjadi landasan pesawat yang mengintai jalur ke Ho Chi Minh yang akhirnya akan dimanfaatkan untuk titik awal operasi darat.

Westmoreland memutuskan untuk memperjuangkan pangkalan Khe Sanh. Pada awal Desember 1967, tentara Vietnam Utara menunjuk Mayor Jenderal Tran Qui Hai sebagai komandan lokal untuk menjalankan berbagai operasi militer kecil di sekitar Khe Sanh. Bersamanya, juga diangkat seorang komisaris politik, Le Quang Dao. Langkah pertama yang mereka ambil adalah mendirikan markas di sekitar wilayah itu. Divisi 304 dan 305 ditugaskan untuk fokus menjalankan operasi dengan mengamankan wilayah utara dan selatan.


Infografik Mozaik Pertempuran Khe Sanh
Infografik Mozaik Pertempuran Khe Sanh. tirto.id/Tino


Hingga Desember 1967, Vietnam Utara telah dilengkapi dengan dua divisi infanteri lain, resimen infanteri independen, lima resimen artileri, tiga resimen artileri anti pesawat, teknisi persenjataan, satu batalion independen, dan unit lokal lainnya.

Pada malam hari 2 Januari 1968, enam orang pria dengan pakaian hitam terlihat di luar kawat pertahanan pangkalan utama Khe Sanh. Karena tampak mencurigakan dan tak merespons komunikasi, mereka ditembaki. Lima orang tewas di tempat, sementara satu orang berhasil kabur meski terluka cukup parah. Peristiwa ini membuat Robert Cushman, komandan Marinir AS, segera memperkuat pasukannya. Keputusan ini sekaligus menandai untuk pertama kalinya ketiga batalion marinir AS bertugas bersamaan sejak pertempuran Iwo Jima di Perang Dunia II.

Pada 20 Januari 1968, La Thanh Ton, letnan divisi 325 Vietnam Utara, membelot dan membeberkan seluruh rencana serangan. Pada pukul 00.30 tanggal 21 Januari, Wilayah Hill 861 diserang oleh sekitar 300 pasukan Vietnam Utara yang menghadapi pasukan marinir yang sudah bersiap. Peristiwa ini menandai dimulainya Pertempuran Khe Sanh.

Beberapa hari kemudian eskalasi pertempuran semakin tinggi. Komandan militer gabungan AS mulai ragu dengan kemampuan marinir dalam mempertahankan Khe Sanh. Media AS pun mulai membandingkan Pertempuran Khe Sanh dengan Perang Dien Bien Phu 1954 yang begitu merugikan bagi Prancis. Meski begitu, Presiden Lyndon Johnson justru memerintahkan untuk mempertahankan khe Sanh dengan segala cara.

Pihak militer menanggapi keputusan presiden dengan melakukan serangan udara yang semakin gencar guna menetralisasi wilayah sekitar Khe Sanh. Namun di akhir perang, AS justru angkat kaki dari pangkalan Khe Sanh dan mengklaim keputusan tersebut sengaja diambil karena pangkalan itu tak lagi jadi prioritas utama mereka.

Baca juga artikel terkait PERANG VIETNAM atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Politik)

Kontributor: Tyson Tirta
Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight