12 Januari 2001

Sejarah Pertamina dan Ibnu Sutowo, Tentara yang Main Bisnis Minyak

Infografik Mozaik Perusahaan Minyak dalam Sejarah Indonesia
Ibnu Sutowo. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Petrik Matanasi - 12 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Sejarah Pertamina tak bisa lepas dari Ibnu Sutowo. Bermula kala ia ditugaskan A.H. Nasution memimpin perusahaan minyak.
tirto.id - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Kolonel Abdul Haris Nasution memberi kepercayaan pada Kolonel Ibnu Sutowo sebagai Komandan Operasi Sadar. Sejak 1955, Ibnu menjadi Panglima TT II Sumatera Selatan (kini Kodam Sriwijaya)

Maksud penunjukan itu, seperti ditulis Mara Karma dalam Ibnu Sutowo Mengemban Misi Revolusi: Sebagai Dokter, Tentara, Pejuang Minyak Bumi (2001), “Untuk mengembalikan normalisasi di kalangan pejabat militer TT II Sumatera Selatan, terutama menyelamatkan kilang-kilang minyak di Plaju dan Sei Gerong dari perbuatan sabotase" (hlm. 318).

Awal Mula Perusahaan Minyak Nasional

Demi amannya minyak-minyak di sana pula, pada 10 Desember 1957, KSAD menunjuk Ibnu Sutowo sebagai Direktur Utama perusahaan tambang minyak. Semula perusahaan itu bernama PT Eksplotasi Tambang Sumatera Utara, kemudian diganti menjadi Perusahaan Minyak Nasional (Permina). Perusahaan tersebut belakangan jadi perusahaan raksasa. Ibnu Sutowo pun tercatat sebagai Direktur Utama pertama dari BUMN yang kini bernama PT Pertamina (Persero).

“Saya ini adalah seorang dokter, dan saya tidak tahu apa-apa tentang minyak,” aku Ibnu dalam Ibnu Sutowo: Pelopor Sistem Bagi Hasil di Bidang Perminyakan (1979: 160).


Sebelum jadi tentara, ia memang seorang dokter. Ia lulusan Nederlandsche Indische Artsen School (NIAS) alias Sekolah Dokter Hindia Belanda di Surabaya (1940).

Ibnu beruntung punya kolega militer di Sumatera Selatan yang paham soal perminyakan. Pangkatnya lebih rendah pula. Orang itu adalah Mayor Johanes Marcus Pattiasina. Usianya dua tahun lebih tua dari darinya. Soal perminyakan, Nyong Ambon ini lebih berpengalaman ketimbang Ibnu. Maklum, sedari zaman kolonial, Pattiasina bekerja di perusahaan minyak kolonial Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM).

Jean Bush Aden, dalam Oil and Politics in Indonesia 1945 to 1980 (1988: 72) menyebut Pattiasina tiba di Palembang pada 1933, dengan niat bekerja di BPM Plaju.

Sementara menurut Anderson G. Bartlett dalam Pertamina: Indonesian National Oil (1972), pada 1935, "dia bekerja di staf teknis, yang mengkhususkan diri dalam perawatan kilang dan operasi di kilang Plaju." Dia juga mencurahkan waktu untuk mengembangkan sekolah teknisi kilang di sana. Pattiasina adalah satu dari tiga teknisi senior Indonesia di BPM-Shell.


Pattiasina adalah “satu di antara segelintir manusia Indonesia yang bekerja di bidang perminyakan di zaman Hindia Belanda,” ujar Ibnu Sutowo dalam memoarnya yang dituturkan kepada Ramadhan K.H., Saatnya Saya Bercerita (2008). Menurut Jean Bush Aden, dia pernah jadi supervisor di sana.

Ketika Balatentara Jepang mendarat di Palembang, Pattiasina sempat menghindar ke Jawa. Setelah kilang minyak Sungai Gerong dan Plaju rusak ketika tentara Jepang mendarat, Pattiasina ikut bekerja memperbaiki instalasi minyak di sana. Meski dalam kondisi tertekan dan serba kekurangan bahan, Pattiasina berhasil.

Sejarawan Mestika Zed dalam Kepialangan, Politik, dan Revolusi: Palembang, 1900-1950 (2003: 374) menyebut Pattiasina pernah mendapat latihan kemiliteran ala Gyugun (tentara sukarela) di zaman pendudukan Jepang. Di masa Revolusi, Pattiasina ikut Republik dan bergabung dalam laskar Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).

Pattiasina termasuk pemuda Republiken yang ikut serta dalam sejarah perusahaan minyak Indonesia di awal-awal proklamasi. Menurut Mestika Zed, dia ikut serta dalam pendirian Perusahaan Minyak Republik Indonesia (Permiri) di Sumatera Selatan. “Pemrakarsa dari pendirian perusahaan ini adalah Dr. Moh. Isa. Permiri pertama kalinya didirikan di Kenten, Palembang pada 1945 kemudian disusul dengan berdirinya perusahaan yang sama di Prabumulih dan di daerah Jambi,” tulis majalah Hankam Dharmasena (Vol. 16 tahun 1991: 16).


Di masa Revolusi juga, Ibnu Sutowo sudah kenal Pattiasina yang menjadi manajer Permiri. Mereka berdua, menurut Jean Bush Aden, mendirikan Firma Musi untuk menjual karet dan minyak ke Singapura melalui Jambi (hlm. 83).

Beberapa pekerja di bawah Pattiasina pun dikerahkan dari Mangunjaya ke Jambi untuk mengolah bahan bakar mentah. Usaha itu terkait perlawanan atas blokade laut Belanda pada 1947-1948.

Pada 1949, Pattiasina tergabung pula dalam Divisi Sriwijaya di Sumatera Selatan. Di masa Revolusi, dengan keahlian minyak dan latihan dari Gyugun, membuatnya dengan mudah diangkat sebagai kapten. Setelah daerah Sumatera bergolak gara-gara Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Pattiasina melakukan hal besar di bawah komando Ibnu.

“Saya berikan tugas itu kepada Mayor JM Pattiasina, yang datang bulan April 1958 dengan satu batalyon tentara pasukan Divisi Sriwijaya dari Sumatera Selatan. Kami kirimkan mereka ke Sumatera Utara, guna mengamankan Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu,” aku Ibnu dalam Saatnya Saya Bercerita.

Setelah Mei 1958, Pattiasina diangkat menjadi Direktur Teknik dan Eksploitasi. Belakangan Pattiasina juga jadi orang penting di Pertamina juga, dengan Ibnu Sutowo di atasnya.


Dituduh Korupsi

Dalam sejarah Pertamina, Ibnu Sutowo adalah direktur utama terlama, sejak 1968 hingga 1976. Ia termasuk jenderal yang kaya-raya. Ibnu Sutowo meninggal pada 12 Januari 2001, tepat hari ini 17 tahun lalu.

Menurut catatan Mochtar Lubis dalam Tajuk-tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya Seri 2: Korupsi dan Ekonomi, Pendidikan dan Generasi Muda, Hukum ABRI (1997), Ibnu Sutowo punya enam atau tujuh perusahaan pribadi yang diurusnya di waktu senggang (hlm. 137).

Tak lupa, tiap tahunnya dia berderma 500 ribu dolar AS dari uang negara. Tuduhan korupsi pun pernah mengarah kepadanya.

Setelah dijabat Letnan Jenderal Ibnu Sutowo (NRP: 14738), pada 1976 posisi Direktur Utama Pertamina lalu diisi Letnan Jenderal Piet Harjono (NRP: 14895).

Sementara itu, J.M. Pattiasina tak pernah jadi Direktur Utama. Pattiasina, yang menurut catatan Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD (1988) pernah jadi Atase Militer Kedutaan RI di Tokyo, punya pangkat terakhir brigadir jenderal (hlm. 240).

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 11 Desember 2017 dengan judul "Ibnu Sutowo dan Pertamina: Tentara yang Main Bisnis Minyak". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight