Sejarah Persinggungan Tommy Winata dengan Tentara

Tommy Winata (kanan) di acara pasar murah yang merupakan bagian dari program Artha Graha Peduli pada 2015. Tampak pula bekas Menteri PAN RB Yuddy Chrisnandi (kiri) dan bekas Menteri Perdagangan Rachmat Gobel (tengah). Antara Foto/Prasetyo Utomo.
Oleh: Petrik Matanasi - 26 Juli 2019
Dibaca Normal 2 menit
Awal sejarah bisnis Tommy Winata adalah berbisnis dengan tentara. Titik mula kejayaannya ialah Bank Artha Graha dan kini memimpin banyak usaha.
tirto.id - Kodam Siliwangi punya yayasan yang bisa menghasilkan uang. Harold Crouch dalam Militer dan Politik di Indonesia (1986: 319) menyebut yayasan yang disponsori Siliwangi pada 1970 telah mendirikan perusahaan kontraktor yang kerap dapat proyek dari Pertamina. Kala itu bos Pertamina masih dijabat Mayor Jenderal Ibnu Sutowo. Perusahaan tersebut belakangan dikenal sebagai PT Propelat.

Richard Robison dalam Indonesia: The Rise of Capital (2009: 264) menyebut Propelat sudah eksis sejak 1967, ketika Brigadir Jenderal H.R. Dharsono menjadi Panglima Siliwangi (1966-1969).

“Awalnya PT Propelat bernama Propelad (Proyek Perhotelan Angkatan Darat) yang bergerak dalam perhotelan, guest house, dan akomodasi lainnya untuk militer,” tulis Bambang Beathor Suryadi dalam Peluru Bersimbah Darah: Menguak Kebobrokan Soeharto (1991: 57).

Propelat lalu makin berkembang. Tepat pada 1 April 1972, seperti disebut dalam Visualisasi Hasil Pembangunan Orde Baru Pelita I, Pelita II, Pelita III, Volume 2 (1984: 219), lahirlah Bank Propelat sebagai terusan dari Bank Bandung yang sudah ada sejak 1967.

Bank Propelat mengalami masa suram pada 1986. Atmadji Sumarkidjo dalam biografi Jenderal Tiopan Bernard Silalahi, TB Silalahi Bercerita Tentang Pengalamannya (2008: 83-85), menyebut di tahun 1986 itu Menteri Keuangan Radius Prawiro memberi ancaman bank ini akan ditutup karena terus merugi.

Sesepuh Siliwangi, mantan Panglima Kodam (1957-1960) Jenderal Raden Ahmad Kosasih, pun harus turun tangan. Dia mengusulkan kepada Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Edi Sudradjat agar Yayasan Kartika Eka Paksi (yayasan kesejahteraan prajurit Angkatan Darat) ikut menyertakan modal dan diadakan restrukturisasi.


Dari Propelat ke Artha Graha

Bank ini akhirnya diambil alih Angkatan Darat. Dalam pengambilalihan itu seorang pengusaha muda keturunan Tionghoa bernama Guo Shuo Feng alias Tommy Winata (TW) diajak. Menurut Atmadji Sumarkidjo (hlm. 85), alasan TW diajak karena dia sudah lama dikenal di lingkungan Angkatan Darat. Edi Sudradjat sudah mengenalnya ketika menjadi Panglima Kodam Siliwangi. Sementara T.B. Silalahi mengenalnya sejak masih berpangkat kapten.

TW, pria kelahiran 1958 dan disebut-sebut hanya lulusan SMP ini, sejak masih 15 tahun sudah dipercaya perwira senior untuk membangun markas dan perumahan prajurit Korem di Singkawang. Ini membuatnya dekat dengan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

“Saat berumur 30 tahun ia sudah menjadi rekanan ABRI saat membangun sejumlah barak dan kantor KORAMIL dan KODAM,” tulis Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (2008: 152).

Selain itu dia juga memasok barang-barang kebutuhan tentara. Sejarah bisnis Tommy Winata mirip dengan Liem Sioe Liong, yang pernah memasok kebutuhan tentara pimpinan Soeharto di zaman Revolusi.


“Bank itu (Propelat) akhirnya dibeli dengan menggunakan uang TW dan mitranya, Edward dan kemudian Aguan,” tulis Atmadji Sumarkidjo (hlm. 85-87).

Angkatan Darat punya saham 40 persen, sementara dua perusahaan TW dan Aguan masing-masing 30 persen. Dalam pembelian itu pihak Angkatan Darat tak keluar uang satu sen pun.

Bank Propelat lalu berubah nama menjadi Bank Artha Graha. Sejarah bank ini dimulai sejak 1987. Menurut Sam Setyautama, TW punya orang tua angkat di Sukabumi, seorang lurah di Desa Takokak, bernama Bisri Artawinata. Tak mengherankan jika Tommy menyandang nama Winata dan Artha menjadi nama depan banknya.

Bisnis TW tentu saja bukan bank dan konstruksi. Di bidang properti, pada era 2000-an, seperti dicatat Sam Setyautama, setidaknya TW punya Agung Sedayu Metro Development, Agung Sedayu Propertindo, Artayasa Grahatama, Garuda Mega Harapan, Jakarta Graha Sentosa, dan Citra laksana Graha Prima. Di bidang kontruksi: Agung Sedayu Permai, Arthayasa Adiprima, dan Graha Mulya Nusa. Di bidang telekomunikasi ada Danatel Pratama. Di bidang elektronik ada Artha Graha Wahana. Sementara di sektor perikanan ada Ting Sheen Bande Sejahtera. TW juga menjadi salah satu pemilik Hotel Borobudur.

Grup Artha Graha, yang dipimpin TW sebagai salah satu konglomerat penting Indonesia, telah membawahi 40 perusahaan.


Bisnis Kian Membesar

Atmadji Sumarkidjo (hlm. 87) menyebut TW tidak pernah dapat proyek lagi dari Angkatan Darat setelah mengendalikan Bank Artha Graha dan kiprahnya menjadi lebih luas di luar lingkungan militer setelah 1987. Meski begitu TW terus akrab dengan jenderal-jenderal yang telah lama dikenalnya, terutama dengan Edi Sudradjat dan T.B. Silalahi. “Banyak orang berpendapat bahwa Tommy Winata itu anak Pak Edi atau Pak TB, dan bahkan Tommy Winata sendiri tak keberatan jika ia disebut anak angkat TB,” tulis Atmadji (hlm. 88).

Tak hanya akrab dengan Edi dan T.B. Silalahi, TW juga dekat dengan Brigadir Jenderal Slamet Singgih. Dalam autobiografinya, Intelijen: Catatan Harian Seorang Serdadu (2014), Slamet Singgih berterus terang jika dirinya juga dekat dengan TW.


Slamet Singgih bercerita TW yang suka bercanda pernah bilang, “Nah ini ada dua kemungkinan lo bisa kenal Pak Slamet. Kalau lo dulu engga ditangkep atau diperiksa ama dia, lo pernah nganterin duit ke Pak Slamet.”

Slamet Singgih pernah dapat pekerjaan untuk mengelola Musro Club & Lounge milik TW di Hotel Borobudur.

Selain Slamet Singgih, Letnan Jenderal Kiki Syahnakri pun dekat dengan TW. Kiki adalah Komisaris Independen Bank Artha Graha. Dari generasi purnawirawan jenderal yang lebih anyar, ada Jenderal Gatot Nurmantyo yang pernah menjadi Sekretaris Komisaris Bank Artha Graha. Bekas Panglima TNI ini sudah kenal TW sejak masih jadi ajudan Edi Sudradjat waktu menjabat Panglima Siliwangi.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight