Sejarah Perkembangan Islam New Zealand: Populasi & Kondisi Terkini

Penulis: Abdul Hadi - 15 Apr 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Umat Islam di New Zealand termasuk kelompok berkembang paling pesat. Berikut sejarah perkembangan Islam di New Zealand, populasi, & kondisi terkini di sana.
tirto.id - Umat Islam di New Zealand atau Selandia Baru termasuk kelompok yang berkembang paling pesat. Meskipun persentuhan Selandia Baru dengan Islam tergolong baru, namun nilai-nilai Islam memikat penduduk Selandia Baru. Lantas, bagaimana perkembangan Islam di Selandia Baru, sejarah, hingga kondisi terkini.

Islam memasuki Selandia Baru pada abad ke-19, yakni pada 1855. Pada saat itu, baru ada 2 penduduk Selandia Baru yang beragama Islam. Enam tahun setelahnya, pada 1861, ada penambahan sangat kecil, yakni 4 orang yang beragama Islam.

Awal masuknya Islam dalam jumlah yang cukup signifikan adalah lewat imigrasi sebagian orang Cina bagian selatan yang bekerja di tambang emas Otago, Selandia Baru. Lambat laun, pekerja muslim di tambang itu meningkat hingga membentuk kelompok kecil muslim asal Cina di Otago, Selandia Baru.

Beberapa waktu setelahnya, seiring populasi muslim yang bertambah, mereka kemudian mendirikan kelompok bernama Asosiasi Muslim Selandia Baru di Auckland pada 1950.

Saat itu, tercatat sekitar 200 muslim di seluruh Selandia Baru. Sembilan tahun setelahnya, mereka mendirikan Pusat Islam Selandia Baru di daerah Ponsonby, dengan Imam pertama dari Gujarat bernama Maulana Ahmad Said Musa Patel (1937-2009).

Pada 1962, mereka pun membentuk Asosiasi Muslim Internasional Selandia Baru yang berbasis di Wellington, yang kemudian ditindaklanjuti dengan Asosiasi Muslim Canterbury pada 1977.

Beberapa tahun setelahnya, pada 1979, umat Islam mengalami pertambahan hingga 2.000 muslim di seluruh Selandia Baru. Perwakilan dari tiga asosiasi di atas kemudian membentuk Federasi Asosiasi Islam Selandia Baru pada April 1979. Presiden pertama asosiasi itu adalah Mazhar Krasniqi asal Kosovo.

Berkembangnya Islam di Selandia Baru tak lepas dari kehadiran asosiasi-asosiasi Islam di sana. Selain sebagai wadah bertukar pikiran, mereka juga menjadi sarana bersilaturahmi, mengeratkan persaudaraan, hingga memperjuangkan hak-hak muslim di tengah masyarakat Selandia Baru.

Hingga sekarang, tak kurang dari 11 organisasi Islam hadir di Selandia Baru, meliputi Asosiasi Muslim Selandia Baru, Asosiasi Muslim Auckland Selatan, Asosiasi Muslim Waikato, Asosiasi Muslim Manawatu, Asosiasi Muslim Internasional Selandia Baru, Asosiasi Muslim Canterbury, dan Asosiasi Muslim Otago, Fiji India Anjuman Himayat al-Islam, Asosiasi Mahasiswa Muslim Universitas Otago, Jemaat Ahmadiyah Selandia Baru, dan Asosiasi Muslim Southland.


Populasi Muslim di Selandia Baru


Berdasarkan data sensus terbaru, populasi muslim di Selandia Baru berjumlah 57,276 penduduk, sekitar 1 persen dari total populasi keseluruhan Selandia Baru.

Berdasarkan data pemerintah Selandia Baru, perkembangan populasi muslim adalah perkembangan kelompok paling pesat di Selandia Baru. Penambahannya adalah sekitar 6 kali lipat sejak 1991 sampai dengan 2006.

Tujuh puluh tujuh persen populasi muslim di Selandia Baru merupakan kelahiran luar Selandia, baik itu imigran atau keturunan imigran dari Cina, India, hingga Timur Tengah.

Kondisi Umat Islam di Selandia Baru


Meskipun sempat terjadi tragedi kelam bagi umat Islam di Selandia Baru pada 2019, negeri ini tetap tergolong salah satu tempat paling kondusif bagi umat Islam di Barat.

Pada medio Maret 2019, terjadi penembakan brutal di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru. Penembakan itu menewaskan 30 warga sipil di Masjid Al-Noor dan 10 orang di Masjid Linwood.

Akan tetapi, berdasarkan Islamcity Index pada 2019, Selandia Baru merupakan negara paling kondusif bagi umat Islam peringkat pertama, diikuti dengan Swedia, Islandia, Belanda, Swiss, Denmark, dan Irlandia.

Setelah kasus penembakan tersebut, jumlah umat Islam malah bertambah. Ketua Asosiasi Muslim Internasional Selandia Baru Nizamul Haq Thanvi menyatakan bahwa pasca serangan itu, 3-5 orang menjadi mualaf dan mengucapkan syahadat di masjid di Wellington.

Berdasarkan hal itu juga, jumlah penduduk muslim Selandia Baru diperkirakan meningkat pesat lagi pada 2030 mencapai 100.000 jiwa, sebagaimana dikutip dari Journal of Muslim Minority Affairs.

Menurut data lembaga wadah pemikir (think tank) Pew Research, di antara sebab kenaikan populasi muslim di Selandia Baru adalah karena populasi umat Islam di sana sebagian besar berusia produktif dan memiliki lebih banyak keturunan daripada warga lokal.

Berdasarkan Survei Nilai-nilai Dunia (The World Values Surveys), Selandia Baru termasuk negara paling terbuka terhadap perbedaan agama. Saat ini, Selandia Baru termasuk salah satu negara dengan restriksi paling longgar terhadap ketentuan agama di negaranya, termasuk menerima Islam sebagai bagian dari keseharian mereka.


Baca juga artikel terkait PERKEMBANGAN ISLAM DUNIA atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Abdul Hadi
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight