Sejarah Perayaan Cap Go Meh: Dari Cina ke Indonesia

Infografik Cap Go Meh
Pesta kembang api memeriahkan puncak perayaan Cap Go Meh di Klenteng Hok Kheng Tong, Jambi, Sabtu (11/2/2018). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/foc/17.
Oleh: Iswara N Raditya - 20 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah perayaan Cap Go Meh bermula dari Cina sejak sebelum masehi, lalu menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia.
tirto.id - Setelah Imlek atau Tahun Baru Cina, kini giliran Cap Go Meh yang dirayakan oleh masyarakat keturunan Tionghoa yang tersebar di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Sejarah perayaan Cap Go Meh ini sudah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu.

Cap Go Meh dirayakan pada hari ke-15 atau hari terakhir bulan pertama menurut kalender Cina. Buku Hubungan Antar Suku Bangsa di Kota Pangkalpinang (2009) karya Evawarni dan ‎Sita Rohana menyebutkan, dalam kalender Masehi, Imlek berlangsung antara 21 Januari hingga 19 Februari. Hari terakhir itulah Cap Go Meh dirayakan sebagai penutup rangkaian Imlek.

Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Tiociu atau Hokkien. “Cap Go” artinya “limabelas” sedangkan “Meh” berarti “malam”. Dengan demikian, Cap Go Meh secara harfiah dapat diartikan sebagai “malam kelimabelas”.

Perayaan Cap Go Meh di Cina pada zaman dahulu diselenggarakan secara khusus serta tertutup. Tidak setiap orang bisa mengikuti acara tahunan ini, hanya bagi keluarga istana dan kalangan tertentu saja. Semula, perayaan ini dilakukan untuk menghormati Dewa Thai Yai, dewa tertinggi dalam tradisi Dinasti Han (206 SM-221 M).

Dikutip dari tulisan Herman Tan berjudul “Perayaan Cap Go Meh” dalam Tionghoa.info (27 Oktober 2012), setelah pemerintahan Dinasti Han berakhir, perayaan ini menjadi lebih terbuka untuk umum.


Bahkan, pada masa Dinasti Tang (618-907 M), perayaan ini justru menjadi semacam pesta rakyat yang kemudian dikenal dengan nama Festival Yuanxiao atau Festival Shangyuan. Di malam Cap Go Meh, seluruh masyarakat akan tumpah-ruah ke jalan dalam suasana meriah dengan hiasan lampion yang beraneka rupa.

Warga dari segala kalangan dan usia dihibur dengan beberapa macam pertunjukan, seperti tarian naga, barongsai, dan lain-lain, juga berbagai wahana permainan. Perayaan Cap Go Meh semakin meriah dengan pesta kembang api.

Ada sajian khas yang menjadi bagian penting Cap Go Meh, yakni Yuan Xiao atau Tang Yuan. Yoest M.S.H. dalam Tradisi & Kultur Tionghoa (2004) menjelaskan, Yuan Xiao adalah sejenis adonan tepung beras yang lengket, di dalamnya diisi manisan serta dibentuk seperti bola-bola kecil.

Filosofinya jika ditilik dari namanya, menurut Herman Tan, istilah Yuan Xiao mempunyai arti “malam di hari pertama”. Makanan ini melambangkan bersatunya sebuah keluarga besar yang memang menjadi tema utama dari perayaan Hari Imlek yang dipungkasi dengan Cap Go Meh.

Cap Go Meh di Indonesia

Banyaknya imigran dari Cina yang kemudian menetap dan beranak-pinak di luar negeri membuat perayaan Imlek dan Cap Go Meh semakin dikenal dunia. Di masing-masing negara yang ditinggali komunitas Cina–atau keturunannya– itu, Imlek dan Cap Go Meh dirayakan dengan meriah serta kian variatif.

Namun, kemeriahan Imlek dan Cap Go Meh sulit dinikmati di Indonesia selama rezim Orde Baru. Melalui Instruksi Presiden No. 14 tertanggal 6 Desember 1967, Presiden Soeharto memerintahkan alat-alat negara untuk melaksanakan kebijaksanaan pokok mengenai agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina.

Dalam Inpres yang diteken Soeharto itu, tercantum poin yang menyatakan bahwa “perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam lingkungan keluarga.”

Asvi Warman Adam dalam Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peristiwa (2009) menuliskan, pada masa Orde Baru, orang takut bersembahyang di kelenteng atau melakukan acara budaya Tionghoa lainnya.

Memasuki era reformasi seiring lengsernya Soeharto pada 21 Mei 1998, Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang mulai menjabat tanggal 20 Oktober 1999 mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 yang merugikan warga keturunan Tionghoa di Indonesia itu.


Rangkaian peringatan Imlek yang dipungkasi dengan Cap Go Meh pun boleh dirayakan dengan terbuka oleh warga keturunan Tionghoa di berbagai daerah di tanah air.

Bahkan, momen-momen seperti ini menjadi komoditas wisata yang menarik, memberikan manfaat secara ekonomi dan budaya bagi banyak orang, serta bisa dinikmati oleh siapa saja.

Cara warga keturunan Tionghoa di berbagai daerah di Indonesia dalam meramaikan Cap Go Meh bermacam-macam. Rangkaian perayaan ini kini tidak hanya digelar pada malam hari, seperti asal-usulnya di Cina dulu, namun dipersiapkan bahkan mulai dilangsungkan sejak pagi harinya.



Salah satu daerah yang terkenal dengan perayaan Cap Go Meh paling meriah adalah di Singkawang, Kalimantan Barat. Persiapan ritual merayakan Cap Go Meh di Singkawang bahkan sudah dimulai sejak satu hari sebelum Hari H atau hari ke-15.

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang tidak hanya melibatkan warga keturunan Tionghoa saja, melainkan sudah terajut akulturasi dengan budaya lokal. Diungkap Frino Bariarcianur Barus dalam Demi Waktu: Potret Tionghoa Singkawang (2005), sebagian warga Dayak dan Melayu juga turut meramaikan festival budaya ini.


Juga dalam perayaan Cap Go Meh pada 2012 silam di Gorontalo. Pawai dan acara lainnya diikuti bukan hanya oleh orang Tionghoa, tapi juga oleh warga dari etnis lain yang beragama Islam dan Kristen.

Demikian pula di daerah lain, semisal di Pontianak, Makassar, Manado, Semarang, Yogyakarta, Solo, Cirebon, Medan, Jambi, juga Jakarta. Kini, perayaan Cap Go Meh bukan lagi milik peranakan Cina saja, melainkan sudah menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Baca juga artikel terkait CAP GO MEH atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight