14 Juni 1982

Sejarah Perang Falkland: Ambisi Mubazir Junta Militer Argentina

Infografik Mozaik Perang malvinas
Ilustrasi Perang Malvinas. tirto.id/Nauval
Oleh: Tony Firman - 14 Juni 2019
Dibaca Normal 4 menit
Junta militer Argentina berusaha menaikkan popularitas dengan merebut Pulau Falkland dari Inggris. Strategi itu malah berbalik menjungkalkan mereka.
tirto.id - Sejak 1960-an sampai 1980-an Argentina beberapa kali dipimpin junta militer. Antara 1930 hingga 1983 jabatan presiden rata-rata hanya bertahan dua tahun.

Ekonomi di negeri tersebut terseok-seok dan jatuh ke jurang krisis baik di era pemerintahan demokratis maupun junta militer. Meski Menteri Urusan Ekonomi rajin diganti setahun sekali, tetap saja perekonomian tak kunjung membaik.

Malahan, pada 1970-an sebanyak 30.000 orang yang kritis terhadap pemerintahan junta militer dan menjadi kelompok oposisi dihabisi dan dicurigai sebagai kelompok kiri. Peristiwa itu populer disebut sebagai Perang Kotor.

Di tengah kekacauan ekonomi, ketidakstabilan politik, dan kegelisahan masyarakat, presiden dari militer ketika itu, Leopoldo Fortunato Galtieri Castelli, memutuskan untuk menyerang Kepulauan Falkland yang dikuasai Inggris. Lokasinya 480 kilometer dari timur pesisir Argentina. Pulau itu juga dikenal dengan nama Malvinas.

Keputusan Galtieri mendapat dukungan dari sebagian besar rakyat. Terlebih, di awal-awal masa perang, euforia kemenangan Argentina melawan Belanda di final Piala Dunia 1978 dibawa ke ranah dukungan perang.

Chant saat final Piala Dunia yang terkenal seperti ‘He who does not jump is a Dutchman’ diubah menjadi ‘He who does not jump is an Englishman’ dan berkumandang di markas River Plate saat Argentina bertanding uji coba melawan Uni Soviet menjelang Piala Dunia 1982. Dari sana, dukungan rakyat Argentina atas keputusan memerangi Inggris di Pulau Falkland makin meluas dan melupakan masalah krisis ekonomi dan politik.

Nahas, keputusan menduduki Falkland itu justru menjadi blunder besar. Argentina kalah saat pasukannya menyerah atas Inggris pada 14 Juni 1982, tepat hari ini 37 tahun lalu. Kondisi ekonomi Argentina pascaperang kian terpuruk. Inflasi melonjak sampai 200 persen. Utang luar negeri mereka berada dalam angka 39 miliar dolar AS.

Falkland yang Diperebutkan

Kepulauan Falkland telah lama menjadi rebutan Inggris dan Argentina. Sejarahnya, kepulauan yang memiliki dua pulau utama yaitu Falkland Timur dan Falkland Barat itu pertama kali ditemukan dua penjelajah Eropa, John Davis dari Inggris (1592) lalu Sebald de Weerdt dari Belanda (1600). Pada 1690 seorang kapten Inggris bernama Kohn Strong menamai pulau tersebut Viscount Falkland.

Namun baru Louis-Antoine de Bougainville asal Perancis yang mulai mendirikan permukiman di sana pada 1764 dan menamai pulau tersebut sebagai Malovine. Sejak itu kepulauan Falkland mulai disinggahi orang-orang Eropa, termasuk Spanyol, yang mendirikan permukiman di Falkland Timur sampai 1811.

Sengketa wilayah muncul saat Argentina yang merdeka dari Spanyol sejak 1816 mulai menyatakan kedaulatannya atas Falkland pada 1820. Rentetan insiden terjadi mulai dari kapal perang AS menghancurkan permukiman Argentina di Falkland Timur pada 1831 sebagai balasan atas penangkapan tiga kapal AS yang tengah berburu anjing laut di daerah tersebut, hingga pengusiran beberapa pejabat Argentina oleh pasukan Inggris pada 1833.

Puncaknya, Inggris menduduki pulau tersebut dengan memasang seorang letnan sipil untuk menjadi gubernur pada 1841. Ini diiringi dengan bermigrasinya 1.800 orang Inggris ke pulau itu pada 1885.

Sejak direbut Inggris, Argentina terus melakukan protes. Setelah Perang Dunia II, sengketa Falkland ditangani Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berjalan alot. Kedua negara saling ngotot mempertahankan klaim dengan melempar bukti-bukti sejarah dan perjanjian dengan penguasa sebelumnya.

Di tengah perjanjian yang buntu, pada 2 April 1982, Leopoldo Galtieri memutuskan untuk menyerbu Port Stanley, ibu kota Kepulauan Falkland, dengan kekuatan 3.000 personel. Mereka dengan cepat menyingkirkan garnisun kecil marinir Inggris tanpa menimbulkan korban jiwa. Hari berikutnya, marinir Argentina merebut pulau Georgia Selatan. Pada akhir April lebih dari 10.000 pasukan Argentina menduduki Falkland.

Ketegangan kecil bahkan telah terjadi pada 19 Maret 1982 saat sekelompok pekerja besi tua asal Argentina mendarat di Pulau Georgia Selatan, 810 mil timur Falkland yang juga dikuasai Inggris, dan mengibarkan bendera Argentina.

Publik negeri Tango menyaksikan dengan bangga para prajurit yang mewakili bangsa mereka berhasil menduduki Falkland. Sebagian dari mereka berkumpul di Plaza de Mayo (depan istana kepresidenan) guna menunjukkan dukungannya.

Inggris yang telah mempertahankan kedaulatan atas Kepulauan Falkland dan sekitarnya selama 150 tahun memilih tidak tinggal diam. Perdana Menteri Margaret Thatcher mengatakan bahwa 1.800 orang Falkland adalah bagian dari keluarga mereka. Inggris memilih menyanggupi ajakan perang Argentina meski berjarak 8.000 mil.

Pemerintahan Thatcher pada 7 April 1982 mendeklarasikan wilayah perang sejauh 320 kilometer di sekitar Falkland. Encyclopaedia Britannica mencatat, Inggris lantas membentuk gugusan tugas angkatan laut. Mengerahkan dua kapal induk, HMS Hermes yang sudah berumur 30 tahun dan HMS Invincible yang baru, serta dua kapal pesiar.

Menurut catatan kronik BBC, AS sempat membujuk Argentina agar mau menandatangani surat perjanjian damai, namun ditolak pada 19 April. Beberapa hari berikutnya, pada 25 April, pasukan Inggris berhasil merebut kembali Pulau Georgia Selatan dari tangan Argentina.

Angkatan perang Inggris mulai tancap gas membombardir kekuatan militer Argentina sejak awal Mei 1982. Dimulai pada 1 Mei saat pasukan Inggris melancarkan serangan udara yang menyasar lapangan terbang Stanley di Falkland. Tiga pesawat Argentina juga berhasil ditembak jatuh.

Keesokan harinya, komando tertinggi angkatan bersenjata Inggris membikin keputusan krusial dengan memerintahkan kapal selam bertenaga nuklir HMS Conqueror untuk melepaskan torpedo ke arah kapal penjelajah milik angkatan laut Argentina General Belgrano. Hasilnya, serangan pada 2 Mei 1982 itu menewaskan 323 awak kapal.

Serangan Inggris ke kapal General Belgrano menuai kritik. Pasalnya, kapal Argentina ditembak hancur saat posisinya sudah menjauh dari zona ekonomi eksklusif yang diklaim Inggris. Surat kabar populer di Inggris, The Sun, kala itu menaruh berita tenggelamnya kapal Argentina di halaman pertama. Lengkap dengan membubuhkan slogan "Gotcha!" tanda gembira.

Hari-hari berikutnya, kronik BBC terus melaporkan serangan Inggris yang banyak mengenai target sasaran vital pertahanan Argentina. Sampai akhirnya pada 14 Juni 1982, pasukan Inggris merebut Port Stanley hampir tanpa perlawanan. Pasukan Argentina memilih melucuti senjata mereka sendiri dan menyerah.

Perang Falkland menyebabkan 655 prajurit Argentina tewas. Sementara di pihak Inggris ada 255 prajurit. Sedangkan tiga penduduk Falkland dilaporkan ikut gugur.


Galtieri Buntung, Thatcher Untung

Barangkali, bila Leopoldo Galtieri tak sembrono menyerang Inggris demi meraih popularitas di mata rakyat, negaranya bisa mendapatkan kembali kepulauan Falkland dengan cara yang damai.

Ini terungkap dari dokumen CIA yang telah dideklasifikasikan dengan judul "Solusi untuk krisis Falklands". Dalam dokumen itu disebutkan bahwa Inggris sebenarnya siap untuk menerima pergantian kekuasaan kepulauan Falkland ke tangan Argentina. Seperti dilansir Independent, penduduk pulau yang tidak ingin menjadi warga Argentina bahkan telah dipikirkan untuk diboyong ke Skotlandia,

Selain itu, dari ribuan pasukan Argentina yang dikerahkan ke Falkland, sebagian besar adalah sipil yang menjalani wajib militer. Mereka cuma berbekal semangat nasionalisme yang dipompa sampai ke ubun-ubun dan hanya itu. Mereka tidak diberi makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak untuk musim dingin yang kian dekat.

Beberapa analis pertahanan menilai seharusnya Argentina bisa menang mudah jika mereka menunggu badai Atlantik selatan pada Juni karena dapat mencegat armada perang Inggris mendekati Kepulauan Falkland.

Karier Galtieri tamat gara-gara kalah perang. Ia lantas digantikan Mayor Jenderal Alfredo Óscar Saint-Jean.

Apa yang menimpa Leopoldo Galtieri berbanding terbalik dengan situasi Margaret Thatcher.

Sebenarnya dua pemimpin ini punya situasi praperang yang sama. Popularitas Thatcher dari Partai Konservatif sedang menukik seiring kemunculan Partai Sosial Demokrat yang menawarkan corak baru. di tengah krisis ekonomi yang mencekik warga. Ketika itu program utama pemerintahan Thatcher adalah meredam krisis ekonomi dengan mengurangi inflasi sampai dua digit dan memotong anggaran pengeluaran publik.

Simon Jenkins, kolumnis Guardian dan penulis buku Mission Accomplished? The Crisis of International Intervention (2015), menyebut anggaran pengeluaran publik itu termasuk urusan pertahanan dan luar negeri. Muncul wacana untuk melepas koloni Hong Kong untuk diserahkan ke Cina. Termasuk daerah koloni pulau-pulau di Atlantik selatan yang dinegosiasikan untuk dijual atau dikembalikan ke negara-negara sekitarnya. Tidak terkecuali Kepulauan Falkland.

Sama seperti jalan pikiran Galtieri, mengobarkan perang dapat menebalkan kembali dukungan publik Inggris ke Thatcher. Benar saja, kemenangan Inggris dalam Perang Falkland membikin Thatcher dan partainya menang dalam Pemilu 1983. Ia bahkan menjadi wanita terlama yang duduk di kursi Perdana Menteri selama tiga periode berturut-turut.

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Politik)

Penulis: Tony Firman
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight