Sejarah Peradaban Masyarakat Mesopotamia yang Kini Jadi Irak

Kontributor: Syaima Sabine Fasawwa - 19 Jan 2022 13:30 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah Mesopotamia, peradaban, dan perkembangan bangsa-bangsanya.
tirto.id - Peradaban Mesopotamia merupakan bagian dari sejarah Asia Barat. Secara geografis, Mesopotamia terletak di daerah subur, yakni di antara Sungai Eufrat dan Sungai Tigris.

Hal ini selaras dengan arti nama Mesopotamia yang berasal dari bahasa Yunani, yang berarti “di antara sungai-sungai.” Kini, daerah Mesopotamia menjadi dikenal dengan nama Republik Irak.

Daerah Mesopotamia yang subur mendukung kemunculan dan perkembangan peradaban suatu bangsa, sehingga, mendorong berbagai bangsa untuk menduduki daerah Mesopotamia.

Dilansir modul Sejarah SMA Kelas X terbitan Kemendikbud (2020), bangsa-bangsa yang pernah eksis dan berkuasa di Mesopotamia antara lain adalah bangsa Sumeria, Akkadia, Babilonia, Assyria, dan Babilonia Baru.

Bangsa-bangsa tersebut hidup di Mesopotamia secara umum dengan cara bertani, bercocok tanam, dan berdagang.

Bangsa Sumeria


Bangsa Sumeria merupakan bangsa yang pertama kali mendiami Mesopotamia, sehingga disebut sebagai penduduk asli. Ibu kota Sumeria bernama Ur. Adapun kekuasan tertinggi kerajaan dipegang oleh seorang pendeta raja yang disebut Patesi.

Bangsa Sumeria sendiri menganut sistem kepercayaan politeisme. Mereka mendirikan bangunan kuil yang bernama ziggurat dari batu bata yang menjulang tinggi di kawasan lembah sungai sebagai persembahan untuk para dewa.

Selain itu, salah satu penemuan penting bangsa ini adalah sistem penulisan yang berawal dari huruf cuneiform atau tulisan kuno berbentuk paku. Sejak sekitar tahun 3200 SM, mereka mulai menulis di atas lempengan yang terbuat dari tanah liat. Mereka juga membuat sistem penanggalan yang dibagi dalam jam, menit, dan detik.

Adapun kehidupan ekonomi bangsa ini ditopang oleh pengelolaan tanah pertanian dengan sistem irigasi, di samping kegiatan berdagang dan beternak. Melalui proses tersebut, bangsa Sumeria menemukan roda untuk memudahkan proses pengangkutan hasil panen utamanya yang berupa gandum dengan kereta atau gerobak.

Bangsa Akkadia


Bangsa Akkadia termasuk ke dalam rumpun Semit yang berasal dari padang pasir di utara Mesopotamia. Bangsa Akkadia menduduki Mesopotamia setelah mengalahkan bangsa Sumeria di bawah kepemimpinan Raja Sargon.

Bangsa ini kemudian berintegrasi dan berakulturasi dengan masyarakat Sumeria, serta meniru dan meneruskan hasil kebudayaan bangsa Sumeria.

Kehidupan ekonomi bangsa ini bersumber dari sektor pertanian. Dua pusat utama pertanian yang terdapat di bangsa Akkadia, yaitu daerah selatan dan daerah utara. Daerah selatan menggunakan sistem pertanian irigasi. Daerah utara menggunakan sistem pertanian hujan musiman yang dikenal dengan daerah Upper.

Bangsa ini juga banyak mengembangkan cerita atau dongeng-dongeng kepahlawanan sebagai bagian dari kebudayaan.

Bangsa Babilonia


Bangsa Babilonia juga berasal dari rumpun Semit seperti Akkadia. Mereka menopang kehidupan ekonomi dengan kegiatan pertanian dan perdagangan.

Penemuan penting bangsa ini berkembang di bawah kepemimpinan Hammurabi. Ia menyusun undang-undang yang kemudian dipahat di atas tiang batu.

Inti dari hukum Hammurabi adalah “mata ganti mata, gigi ganti gigi.” Hukum ini dibentuk untuk mengatur permasalahan yang berkaitan dengan perdagangan dan kepemilikan tanah, sehingga dapat tercapai keadilan.

Adapun penemuan lain bangsa Babilonia adalah perbaikan sistem penanggalan.

Bangsa Assyria


Bangsa Assyria terkenal sebagai bangsa yang kerap berperang untuk menguasai perdagangan dan daerah Mesopotamia.

Masyarakat bangsa ini terkenal dengan keterampilannya dalam membangun. Mereka mendirikan berbagai kota megah dengan beragam kuil dan istana. Assyria juga memiliki keterampilan dalam keilmuan astrologi dengan mempelajari letak bintang-bintang.

Selain itu, bangsa Assyria juga mengambil huruf paku dari kebudayaan Sumeria. Mereka kemudian membangun perpustakaan di mana buku-bukunya terdiri dari ubin-ubin tanah liat yang bertuliskan huruf paku.


Bangsa Babilonia Baru


Masyarakat Babilonia Baru sudah hidup dengan peradaban yang lebih maju. Bangsa ini telah bercocok tanam dengan sistem pengairan yang lebih baik dan melakukan perdagangan dengan daerah-daerah lain, terutama dengan daerah lembah sungai Sindhu. Adapun kepercayaan yang dianut masyarakat Babilonia Baru adalah politeisme.

Peninggalan terkenal dari bangsa ini antara lain adalah Taman Gantung yang dibangun oleh Raja Nebukadnezar II, ziggurat raksasa yang diberi nama Kuil Marduk atau Baal (Menara Babel), dan jembatan besar di atas Sungai Eufrat.

Sebagaimana penjelasan di atas, perkembangan pengetahuan masyarakat Mesopotamia di bawah kepemimpinan berbagai bangsa turut memengaruhi peradaban manusia hari ini.


Baca juga artikel terkait MESOPOTAMIA atau tulisan menarik lainnya Syaima Sabine Fasawwa
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Syaima Sabine Fasawwa
Penulis: Syaima Sabine Fasawwa
Editor: Dipna Videlia Putsanra

DarkLight