Sejarah Penyebab Keruntuhan Kerajaan Samudera Pasai

Oleh: Yuda Prinada - 26 Februari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Kerajaan Samudera Pasai mulai mengalami kemunduran saat dipimpin oleh Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, berikut sejarahnya.
tirto.id - Kesultanan Samudera Pasai adalah kerajaan Islam yang terletak di Lhokseumawe, Aceh, pesisir utara Sumatera. Berdiri mulai abad ke-13 sampai abad ke-16, Samudera Pasai menghabiskan waktu sebagai bandar dagang besar karena lokasinya dekat dengan selat Malaka.

Pada 1238, Nazimuddin al-kamil dititahkan untuk menginvasi pelabuhan Kambayat di Gujarat (sekarang India) oleh pemerintahan Kesultanan Mamluk yang pusatnya di Kairo, Mesir. Berdasarkan tulisan Siti Nur Aidah dalam Sejarah 8: Kerajaan Terbesar di Indonesia (2021), Nazimuddin al-kamil adalah seorang laksmana spesialis laut Mesir.

Ternyata, ia adalah orang yang memprakarsai didirikannya Samudera Pasai. Marah Silu (Meurah Silu) diangkat olehnya sebagai raja pertama dengan gelar Sultan Malik al-Saleh atau Sultan Malikussaleh. Kendati kenyataannya seperti itu, Sultan Malikussaleh hingga kini dianggap sebagai pendiri dan raja pertama kerajaan penguasa utara Sumatera ini.

Samudera Pasai terus hidup dan mencapai masa kejayaannya ketika Sultanah Malikah Nahrasyiyah memimpin (1406-1428). Saat dipimpin perempuan ini, mereka menggantungkan hidup dengan berjualan lada dan menjadi pusat perdagangan orang-orang dari timur hingga barat. Selain itu, juga pernah menjadi pusat penyebaran agama Islam terbesar dalam sejarah.


Keruntuhan Samudera Pasai

Sultan Ahmad Malik Az-Zahir merupakan raja Samudera Pasai yang memiliki perilaku buruk. Pada masa kepemimpinannya yang dimulai sejak 1349, ia mencatat sejarah kelam bagi Kesultanan yang sebelumnya tentram. Mengutip tajuk “Kejamnya Sultan Samudera Pasai dan Serbuan Majapahit”, terungkap bahwa Sultan Ahmad Malik Az-Zahir sempat berahi kepada kedua putrinya, Tun Medam Peria dan Tun Takiah Dara.

Gosip dalam lingkungan istana dengan cepat sampai ke putranya sendiri, yakni Tun Beraim Bapa. Ia berniat menjaga kedua adik perempuannya, namun malah nahas. Putra sulung ini diracuni hingga nyawanya melayang. Russel Jones dalam Hikayat Raja Pasai (1999:35-36) menambahkan, kedua adik Tun Beraim Bapa bunuh diri dengan cara yang sama seperti kakaknya.

Kendati tiga anaknya sudah mati akibat ulah bapaknya sendiri, tidak membuat sultan ini berubah menjadi lebih baik dan terus berperilaku buruk. Putra keduanya, Tun Abdul Jalil, hendak menikahi seorang putri dari Majapahit, yakni Raden Galuh Gemerencang.

Sultan Ahmad Malik Az-Zahir terkesan tidak menerima dan berniat mempersunting calon menantunya sebagai istri. Kejadian buruk yang sama terjadi lagi, Tun Abdul Jalil tewas oleh ayahnya sendiri, lalu dibuang ke laut.

Raden Galuh Gemerencang dan pihak Majapahit yang tidak mengetahui tragedi tersebut, tiba di Samudera Pasai. Di sana, ia mendapatkan kabar buruk bahwa calon suaminya dibunuh oleh orang yang akan menjadi mertuanya sendiri. Putri Majapahit ini akhirnya bunuh diri dengan cara yang sama seperti orang yang dikasihinya.

Hayam Wuruk selaku raja Majapahit menitahkan patih Gajah Mada untuk menyerang Samudera Pasai. Menurut Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara (2005:140), terungkap bahwa Majapahit berhasil membuat musuhnya kewalahan. Sultan Ahmad Malik Az-Zahir melarikan diri karena dia adalah target utama yang dicari-cari.

Samudera Pasai sempat hidup kembali setelah dibuat ketar-ketir oleh Majapahit. Sultanah (Ratu) Malikah Nahrasyiyah yang memimpin di periode 1406-1428 berhasil memajukan kembali kerajaan dagang dan pusat pembelajaran agama Islam ini.

Dalam Aceh Sepanjang Abad (1981) Said menjelaskan, sampai abad ke-16 Kesultanan Samudera Pasai masih berdiri tegak menjadi bandar dagang internasional. Akan tetapi, munculnya Kerajaan Malaka pada 1405 membuat Samudera Pasai semakin merosot omset dagangnya.

Sultan Zain Al Abidin IV (1514-1517) dikatakan sebagai catatan akhir dari daftar raja Samudera Pasai. Menurut sumber Portugis (Barros: Da Asia) yang termuat dalam Said (1981), portugis singgah di kerajaan Samudera Pasai pada masa pemerintahan Sultan Zain Al-Abidin.

Pada 1521, Portugis berhasil menginvasi kesultanan Islam ini. Namun, Kerajaan Aceh Darussalam tidak tinggal diam melihat peluang untuk memperluas kekuasaan. Pada 1524, Sultan Munghayat, raja Aceh Darussalam, menendang Portugis dari Samudera Pasai yang sudah takluk. Akhirnya, wilayah kesultanan Pasai resmi runtuh dan menjadi bagian Aceh Darussalam.


Baca juga artikel terkait KERAJAAN SAMUDERA PASAI atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight