Sejarah Peluncuran Satelit Palapa Pertama Tahun 1976

Oleh: Iswara N Raditya - 22 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah peluncuran Satelit Palapa pertama milik Indonesia terjadi pada 8 Juli 1976.
tirto.id - Satelit Nusantara Satu milik perusahaan swasta Indonesia PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) telah diluncurkan oleh Space-X, Jumat (22/2/2019) pukul 08.45 WIB di Cape Canaveral, Amerika Serikat. Peristiwa ini mengingatkan pada sejarah peluncuran Satelit Palapa pertama tanggal 8 Juli 1976 silam.

PT PSN, seperti tertulis di situs resminya, adalah perusahaan satelit swasta pertama di Indonesia. Satelit Nusantara Satu yang baru saja diluncurkan merupakan satelit broadband pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi High Throughput Satellite (HTS) dengan kapasitas bandwidth yang lebih besar.

Dalam membuat Satelit Nusantara Satu, PT PSN bekerjasama dengan Space System Loral (SSL) dari Amerika Serikat. Peluncuran satelit yang digadang-gadang bakal memberikan layanan akses broadband ke seluruh wilayah Indonesia ini menggunakan roket peluncur Falcon-9 dari Space-X.

Sama seperti PT PSN, Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) dalam peluncuran Satelit Palapa AI pada 1976 juga merangkul perusahaan asal Amerika Serikat, yakni Hughes Aircraft Company (Hughes Space and Communication Inc.), dengan roket Delta 2914 sebagai peluncurnya.

Misi yang Terasa Mustahil

“Saya ingat pada sejarah Mahapatih Gajah Mada dulu yang telah bersumpah, tidak akan makan buah Palapa sebelum persatuan dan kesatuan Kerajaan Majapahit menjadi kenyataan,” ucap Presiden Soeharto yang tertulis dalam buku autobiografinya berjudul Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989).

Dari situlah Soeharto terinspirasi menamakan satelit milik Indonesia dengan label Satelit Palapa. Embel-embel A1 di belakangnya diberikan sebagai penanda urutan peluncuran satelit berikutnya. Satelit Palapa A2 diluncurkan beberapa bulan berselang, yakni tanggal 10 Maret 1977, diikuti dengan peluncuran-peluncuran selanjutnya.


Satelit Palapa A1 merupakan satelit Indonesia pertama. Satelit perdana ini diluncurkan pada 8 Juli 1976 dari Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral, Amerika Serikat, kemudian dilepas di atas Samudera Hindia pada 83 derajat Bujur Timur (BT).

Terwujudnya peluncuran satelit milik Indonesia bermula dari kehendak Soeharto yang ingin memangkas jarak komunikasi antar daerah di Indonesia yang memang memiliki wilayah yang amat luas demi tercapainya misi pembangunan nasional.

Keinginan Soeharto itu pun menjadi bahan bisik-bisik di kalangan pejabat Dinas Pos dan Telekomunikasi, yakni Mayjen Soehardjono dan Ir. Yahya Sutanggar Tengker. Keduanya pesimistis. Untuk merealisasikan kehendak presiden, kehadiran satelit sangat dibutuhkan.

Soeharto rupanya mendengar kasak-kusuk tersebut. “Kalau memang perlu pakai satelit, silakan, pelajarilah kemungkinannya,” titah presiden dikutip dari buku Sejarah Telekomunikasi Indonesia (2006).

Perintah ini terasa mustahil. Indonesia kala itu sedang berbenah seiring pergantian rezim. Secara perekonomian dan untuk pengelolaannya nanti, Indonesia dirasa belum sanggup. Lagipula, pada dekade 1960-an itu, hanya ada dua negara di dunia yang mampu mengurusi satelit, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet.


Meskipun diiringi pro dan kontra, perintah presiden harus dilaksanakan. Para akademisi dan ahli pun dikumpulkan untuk membahas persoalan satelit ini di berbagai forum. Bahkan, diungkap Bagus Ramadhan dalam artikelnya di goodnewsfromindonesia.id, Bandung dan Jakarta sempat menjadi tuan rumah simposium para pakar satelit, dari dalam maupun luar negeri.

Mimpi Punya Satelit Terwujud

Dirjen Postel, Mayjen Soehardjono, yang semula tidak yakin Indonesia bakal punya satelit, kini antusias meretas mimpi itu. Bersama Direktur Perumtel, Ir. Willy Moenandir, sebut Arnold Djiwatampu dalam Strategi Perjuangan Telekomunikasi (2015), konsep Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) mulai dibahas dan disusun.

Demi mewujudkan itu, pemerintah Indonesia memilih menggandeng Amerika ketimbang Uni Soviet. Tanggal 5 Juli 1974, kontrak kerjasama dengan Hughes Aircraft Company pun diteken, demikian tercatat dalam buku Mengenang Sewindu SKSD Palapa (1984) terbitan Departemen Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi.


Hughes Aircraft Company segera bekerja. Pembangunan berbagai sarana pendukung satu per satu bisa dirampungkan, termasuk dua stasiun komunikasi, satu stasiun pengendali utama, lima stasiun lintasan utama, dan empat stasiun lintasan tipis, yang ditempatkan di wilayah-wilayah tertentu di Indonesia.

Satelit yang diimpikan itu pun selesai digarap pada Februari 1975. Soeharto senang bukan main dan memberikan nama Palapa untuk satelit perdana itu, lengkapnya Satelit Palapa A1. Satelit ini diklaim mampu menjangkau seluruh wilayah NKRI bahkan hingga negara tetangga, termasuk Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

Hari peluncuran akhirnya tiba. Hughes Aircraft Company telah menyiapkan roket Delta 2914 sebagai peluncur satelit milik Indonesia. Tanggal 8 Juli 1976, di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, pukul 19.30 waktu setempat, Palapa A1 diluncurkan lantas mengorbit dengan sukses di atas Samudera Hindia.

Tentu saja ini pencapaian membanggakan karena waktu itu masih sangat sedikit negara di dunia yang sudah memiliki satelit. “Satelit Palapa merupakan suatu peristiwa nasional yang mempunyai arti besar bagi Indonesia,” tulis Klaus G. Johannsen dalam buku Jalan ke Bogor: Palapa dan Wanita Papua (2004).

Soeharto selaku presiden pun layak menepuk dada. Dalam buku Pandangan dan Harapan Pak Harto (1995) karya Abdul Gafur, sang penguasa berkata, “Karena pembangunan berhasil, kita mampu membeli satelit dan roket yang melontarkannya ke angkasa.”


Baca juga artikel terkait SATELIT atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Mufti Sholih