Sejarah Para Dokter Indonesia yang Berjuang Melampaui Batas Profesi

Ilustrasi Dokter pejuang, Dokter Abdul Rivai, Dokter Soetomo, Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo. FOTO/tirto.id
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 15 Juli 2020
Dibaca Normal 5 menit
Abdul Rivai, Tjipto Mangunkusumo, dan Sutomo adalah teladan dokter yang tak hanya mengejar karier medis, tapi juga aktif dalam pergerakan nasional.
Di era Perang Kemerdekaan, para dokter tak mau ketinggalan ambil bagian dalam revolusi. Pendidikan mereka memberi kemampuan dengan prospek luas daripada sekadar karier medis. Banyak dari mereka terserap dalam birokrasi negara yang baru, institusi militer, hingga penerangan dan diplomasi. Sebagian yang tetap jadi dokter ikut ke medan perang memberi layanan medis bagi tentara dan milisi Indonesia.

Dokter Mohammad Amir, misalnya, terlibat dalam birokrasi di awal kemerdekaan. Dokter lulusan STOVIA tahun 1923 sekaligus salah satu pendiri Jong Sumatranen Bond ini ditunjuk jadi menteri di kabinet Sukarno yang pertama. Ia lalu diutus untuk mengorganisasi pemerintahan nasional di Sumatra. Pada Desember 1945 ia ditunjuk sebagai wakil gubernur Sumatra mendampingi Gubernur Teuku Mohammad Hasan.

Selain itu, ada juga Abdul Rahman Saleh dan Adnan Kapau Gani. Abdul Rahman Saleh dikenal sebagai ahli fisiologi yang juga punya minat pada bidang kedirgantaraan. Sayang, ia tewas pada Juli 1947 ketika pesawatnya yang membawa obat-obatan dari Singapura ditembak Belanda. Sementara Adnan Kapau Gani selama masa perang dikenal sebagai perwira militer dan politikus.

“Adnan menjual minyak dan produk pertanian Sumatra seperti karet dan kopi ke pasar internasional untuk mendapatkan uang tunai demi membiayai perlawanan militer melawan Belanda,” tulis sejarawan Universitas Sydney Hans Pols dalam Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia (2019, hlm. 274).

Keterlibatan para dokter dalam revolusi tak sekadar mengikut panggilan zaman atau oportunitas. “Tradisi” berjuang itu sudah ada sejak kolonialisme masih bercokol di Indonesia. Di era itu, para dokter termasuk yang paling awal menerima sains Barat dan lalu nasionalisme.

“Di Hindia Belanda, beberapa pendahulu nasionalis mereka telah melangkah melampaui batas-batas profesi kedokteran dengan terlibat dalam dunia jurnalistik, politik, dan kegiatan lain yang mendukung gerakan kaum nasionalis. [...] Pekerjaan mereka memperkuat hubungan kuat antara para dokter dan nasionalisme Indonesia,” tulis Hans Pols (hlm. 251).

Di antara para dokter nasionalis itu yang reputasinya menonjol adalah Abdul Rivai, Tjipto Mangunkusumo, dan Sutomo.

Bersuara dari Mancanegara

Abdul Rivai lahir di Palembayan, Agam, Sumatra Barat, pada 13 Agustus 1871. Pada umur 15 tahun ia diterima di Sekolah Dokter Jawa. Selama menempuh pendidikan sudah terlihat minatnya pada jurnalistik. Harry Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 (2014, hlm. 34) mencatat, “Selagi masih belajar, ia mengikuti kursus-kursus bahasa Eropa dan bekerja sebagai penerjemah dan wartawan.”

Kendati sangat mahir berbahasa Belanda, namun Rivai tetap menjunjung tinggi bahasa Melayu. Dia percaya bahwa bahasa lokal di Hindia Belanda perlu dikembangkan agar mampu mengakomodasi kemajuan dan jadi bahasa ilmu pengetahuan.

“Calon untuk bahasa yang bisa digunakan di seluruh Hindia Belanda sudah ada: Melayu. Itu hanya perlu diperbarui dan dimodernisasi,” tulis Hans Pols (hlm. 44).

Isu lain yang juga jadi perhatian Rivai adalah pendidikan. Dalam koran Algemeen Handelsblad sekali waktu ia menulis seri artikel bertajuk “Kepercayaan Orang Pribumi di Hindia”. Seturut Poeze, melalui karangannya itu Rivai menjelaskan saling kelindan antara pengajaran dan penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar bagi pribumi. Ia merasa itu akan bisa “mendorong orang pribumi berpikir dan memperhatikan”. Untuk itu, kata Rivai, diperlukan penerbitan buku-buku untuk membantu pengajaran dalam bahasa Melayu.

Dari situlah muncul gagasan untuk menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu. Maka terbitlah Pewarta Wolanda tepat pada 14 Juli 1900 dari Amsterdam (Ahmat Adam, The Vernacular Press and the Emergence of Modern Indonesian Consciousness 1855-1913, 1995:94). Inilah koran milik orang Indonesia pertama dengan bahasa Melayu yang diterbitkan dari mancanegara.


Berkat relasinya yang terjalin baik dengan orang-orang berpengaruh di negeri Belanda, terutama dari kalangan pendukung politik etis, ia memperoleh dana dari Kementerian Urusan Jajahan Hindia Belanda untuk menerbitkan koran baru bernama
Bintang Hindia yang diluncurkan pada Juli 1902.

Walaupun didanai oleh pemerintah kolonial, Rivai merancang korannya sebagai wahana edukasi kaum bumiputera. Rivai ingin menjadikan Bintang Hindia sebagai media untuk menyuarakan ide tentang kemajuan moral dan sosial orang-orang setanah-airnya.

Melalui Bintang Hindia pula Rivai memopulerkan istilah “bangsa Hindia” dan “anak Hindia”, yang secara psikologis menanamkan rasa kebangsaan di kalangan bumiputera. Kelak, ketika wacana nasionalisme kian matang, istilah “bangsa Hindia” lantas berubah menjadi “bangsa Indonesia”, yang ditegaskan, misalnya, dalam Sumpah Pemuda 1928.

Selain melalui penerbitan, Rivai juga ambil peran dalam pergerakan politik. Ia merupakan perintis pembentukan cabang Indische Partij (IP) di wilayah Sumatera. IP adalah organisasi pergerakan berhaluan keras yang didirikan oleh tiga serangkai, yakni Tjipto Mangoenkoesoemo, Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara, dan Ernest Douwes Dekker pada 1912.

Usai IP dibubarkan oleh pemerintah kolonial pada pertengahan 1913, Rivai ikut bergabung dengan organisasi pergerakan penerusnya, yakni Insulinde. Bahkan, Rivai nantinya terpilih sebagai anggota Volksraad atau Dewan Rakyat Hindia (semacam parlemen/DPR) mewakili Insulinde.


Melawan Pes & Keluar dari Boedi Oetomo

Ada satu babak kisah yang tidak boleh luput ketika membicarakan sosok Dokter Tjipto Mangunkusumo. Sebelum berjuang di lapangan politik, Tjipto lebih dulu berjuang di lapangan kesehatan. Kisahnya terjadi pada kisaran 1911, ketika epidemi sampar alias pes merundung Kota Malang.

Penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis ini termasuk ganas karena mudah menyebar dan menyerang bagian tubuh yang vital. Namun, usaha penanggulangan wabah pes di Malang sempat macet gara-gara segolongan dokter Eropa enggan turun untuk menanggulanginya. Selain karena sentimen rasial, mereka ogah ikut campur karena bayarannya tak seberapa dibanding jika mereka mengobati sesama orang Eropa.

“Dari dua puluh dokter yang dihimbau untuk menanggulangi bencana ini, hanya sebelas orang yang melapor, di antaranya Raden Koesman, orang Jawa, yang tanpa ragu-ragu menghentikan studinya, ketika ia melihat bahwa tanah-airnya memerlukan tenaganya,” tulis Dokter Tjipto di majalah De Indier edisi 21 Mei 1914 sebagaimana dikutip sejarawan Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah (2014, hlm. 90).

Melihat kondisi itu Tjipto tak tinggal diam dan lantas mengajukan diri untuk ikut memberantas pes di Malang. Segera setelah tawarannya disetujui pemerintah kolonial ia berangkat ke Malang. Dari babak hidup inilah cerita-cerita hebat tentang Tjipto bermunculan.

Sebagaimana lazimnya protokol medis, para dokter yang terjun ke kampung-kampung memakai masker, sarung tangan, dan perangkat lain untuk mencegah penularan bakteri pes. Tapi tidak dengan Tjipto yang bekerja nyaris tanpa pelindung.

Sebagaimana ditulis Soegeng Reksodihardjo dalam biografi Dr. Cipto Mangunkusumo (1012, hlm. 54), “Begitulah penyerahan Cipto secara total kepada yang Mahakuasa dan Mahaadil dalam melakukan tugasnya sebagai dokter.”


Sepak terjang Tjipto di lapangan politik yang terkenal tentu saja melalui IP. Sebelum itu, ia sempat turut dalam pembentukan Boedi Oetomo (BO) pada 1908. Bersama saudara kandungnya, Goenawan Mangoenkoesoemo, Tjipto adalah aktivis angkatan pertama BO selain nama-nama populer lain macam Wahidin Sudirohusodo, Radjiman Wedyodiningrat, Soetomo.

Namun, Tjipto tidak bertahan lama di BO karena berselisih paham dengan kubu Radjiman Wedyodiningrat. Tjipto ingin BO menjadi organisasi terbuka dan lebih demokratis. Sedangkan Radjiman ngotot mempertahankan BO sebagai gerakan murni priyayi Jawa.

Pada 1912, Tjipto mendeklarasikan Indische Partij (IP) di Bandung bersama dua sahabatnya, Ernest Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara). IP adalah organisasi terbuka yang tanpa tedeng aling-aling menyerukan tujuan kemerdekaan.

Tiga Serangkai itu menerbitkan De Expres sebagai media propaganda IP. Nantinya, De Expres menjadi salah satu senjata utama Tjipto dan kawan-kawan dalam melancarkan “perang” terhadap rezim kolonial Hindia Belanda.




Menginspirasi dari Negeri Penjajah

Dokter Sutomo dikenal orang berkat perannya dalam pendirian BO. Inisiasinya mulai mekar kala Sutomo bertemu dengan Wahidin Sudirohusodo di Batavia. Kala itu Wahidin sedang keliling berkampanye untuk menggalang beasiswa bagi pelajar bumiputra. Sutomo—saat itu siswa STOVIA—amat tertarik dengan ide itu lantas menjajaki kemungkinan untuk merealisasikannya.

“Ia memperluas gagasannya itu dengan mencakup masalah-masalah politik dan sosial yang ia dan para mahasiswa anggap penting dalam pembangunan masyarakat. Berkat hasil kegiatan-kegiatannya dalam merangsang perhatian para mahasiswa, Boedi Oetomo berhasil dibentuk pada 1908,” tulis Savitri Scherer dalam Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran Priyayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX (2012, hlm. 153).

Usai lulus dari STOVIA pada 1911, Sutomo berpindah-pindah tempat dinas sebagai dokter. Pada 1919 ia dapat beasiswa untuk menempuh ujian dokter di Universitas Amsterdam. Di sana, selain kuliah, Sutomo ikut berkegiatan di Indische Vereeniging.

Di antara para mahasiswa Indonesia di Belanda, Sutomo dianggap senior dan dihormati. Ia juga sempat dipilih jadi ketua Indische Vereeniging periode 1921-1922.

“Rumahnya menjadi tempat pertemuan mahasiswa Indonesia, dan sesudah ia tak lagi menjadi ketua PH (Perhimpunan Hindia) pun nasihatnya masih selalu diminta oleh para mahasiswa Indonesia yang menjadi semakin radikal itu,” tulis Poeze (hlm. 164).

Pada 1924, ia membuat gerakan yang lebih cair dan berbasis pendidikan: Indonesische Studieclub. Kegiatan utama Indonesische Studieclub banyak diisi dengan diskusi politik dan membahas persoalan publik. Kebanyakan anggotanya adalah pelajar. Model ini lalu diikuti oleh Sukarno di Bandung dengan Algemeene Studieclub.

Pada 16 Oktober 1930 Indonesische Studieclub bertransformasi jadi organisasi politik bernama Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Lalu pada akhir 1935 PBI dan Budi Utomo berfusi jadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Tak hanya berpolitik, Parindra pimpinan Sutomo juga bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi melalui bank, koperasi, dan organisasi tani. Ia juga menginisiasi pendirian beberapa panti asuhan dan rumah sakit.

Baca juga artikel terkait SEJARAH KEDOKTERAN atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight