19 April 1962

Sejarah Panjang Hansip di Indonesia

Oleh: Petrik Matanasi - 19 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Hijau lumut nan
melegenda. Satuan
tanpa senjata.
tirto.id - Bus Mudjur jurusan Semarang itu melintasi Tegal pada Senin, 11 Oktober 1965. Setelah dua tentara menaiki bus itu, seorang laki-laki berbadan agak tambun melompat dari bus. Laki-laki itu merasa sedang ada razia, lalu dia panik dan meloncat.

Sialnya, setelah melompat, ia “terus menubruk sebuah tiang listrik di tepi jalan. Salah seorang penumpang jang melihat kejadian itu dengan lantang berteriak : "Copet ! Copet !". Keruan sadja petugas Pertahanan Sipil (Hansip)/Pertahanan Rakyat (Hanra) dan Rakyat yang berdekatan di situ lantas mengejarnya,” tulis Kangsen Gan dalam Teror kudeta G-30-S (1965: 32).


Laki-laki itu kabur ke arah kampung. Teriakan copet membuatnya jadi buruan. Ia dibekuk Hansip, lalu tertangkap dan diamankan ke kantor polisi. Ternyata laki-laki itu adalah Letnan Kolonel Untung, pemimpin daripada Gerakan 30 September 1965 (G30S). Di sinilah salah satu jasa besar Hansip dalam penumpasan G30S.


“Kepada Hansip/Hanra Mada Jawa Tengah umumnya dan Masek Tegal khususnya disampaikan ucapan selamat dan penghargaan atas berhasilnya menangkap gembong ex. Letkol Untung,” tulis Berita Yudha (16/10/1965).

Untung yang merupakan pemimpin gerakan malah bernasib buntung setelah naik bis Mudjur. Bukan pasukan khusus macam RPKAD atau Polisi Militer terlatih yang menangkapnya, tapi personil dari satuan rakyat sipil yang kerap dianggap remeh bernama Hansip. Padahal semua tahu, Untung adalah komandan pasukan militer yang disegani dan pemegang Bintang Sakti.


Alat untuk Menancapkan Orde Baru


“Hansip/Hanra sebagai komponen Pertahanan Keamanan (Hankam), komplemen Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) telah berdiri sejak (1962) delapan tahun yang lalu, dengan Keputusan Presiden R.I. tertanggal 16 Februari 1962 Nomor 48 tahun 1962 tentang pembentukan Organisasi Pertahanan Sipil dalam rangka usaha mempertinggi serta menggalang kewaspadaan Nasional," tulis buku Sewindu Hansip-Wanra (1970: 98).

Sementara menurut catatan buku Analisa dan Evaluasi Hukum Tentang Pembinaan Rakyat Terlatih dalam Rangka Bela Negara (1995: 13), Hansip berfungsi sebagai Perlawanan Rakyat (WANRA) dan Perlindungan Masyarakat (LINMAS). Fungsi ini tertuang dalam Surat Keputusan Wakil Menteri Pertama Urusan Hankam yang dikeluarkan pada 19 April 1962, tepat hari ini 56 tahun lalu. Tanggal dikeluarkannya Surat Keputusan itu diperingati sebagai Hari Jadi Hansip.

Pada tahun-tahun berdarah pemberantasan anggota PKI sepanjang 1965-1966, Hansip diikutkan di Nusa Tenggara Timur. “Pada umumnya anggota Hansip-lah, atas perintah langsung kepala desa, yang menangkap sesama warga desa mereka yang menjadi anggota Barisan Tani Indonesia (BTI) […] Kadang-kadang anggota Hansip juga diperintahkan untuk melakukan pembunuhan,” tulis Gerry van Klinken dalam The Making of Middle Indonesia: Kelas Menengah di Kota Kupang 1930an-1980an (2015: 293).



Tak hanya di periode peralihan antara kepresidenan Sukarno ke Soeharto, di masa Soeharto jadi presiden pun Hansip besar jasanya. Gerry menulis: “Begitu Orde Baru tegak berdiri, gubernur menggunakan Hansip untuk melatih semua pegawai negeri dan untuk menggiring pemilih untuk memberi suara kepada Golongan Karya dalam pemilihan umum 1971.” Dengan mengutip EL Tari, Gerry menyebut Hansip sebagai alat untuk menancapkan Orde Baru.

Setelah satu dekade berada di bawah Departemen Pertahanan Keamanan (Dephankam), Hansip pun dialihkan ke Departemen Dalam Negeri (Depdagri). Dalam buku Analisa dan Evaluasi Hukum Tentang Pembinaan Rakyat Terlatih dalam Rangka Bela Negara (1995: 18) disebut, peralihan itu berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 56 Tahun 1972 tentang Penyerahan pembinaan Organisasi Hansip dari Dephankam ke Depdagdri.

Kemudian, Keputusan Mendagri Nomor 192 Tahun 1972 mengeluarkan perintah untuk “merubah fungsi pembinaan Hansip dan membentuk organisasi dan tata kerja Direktorat Pertahanan Sipil pada Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah dan sekarang ini di bawah Direktorat Jenderal Sosial Politik.”

Satuan berseragam hijau lumut nan melegenda ini harus berakhir riwayatnya di zaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Hansip dibubarkan pada 3 September 2014 lewat Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2014. Meski begitu, di beberapa daerah hingga saat ini masih ada saja orang-orang yang wira-wiri mengenakan seragam Hansip. Barangkali lantaran seragam itu memiliki kenangan tersendiri bagi para pemakainya. Tapi di sisi lain, sebagai satuan yang tidak bersenjata, Hansip juga kerap dijadikan bahan olok-olok.



Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial

Meski resminya berdiri pada periode A.H. Nasution jadi Menteri Pertahanan, satuan yang mirip Hansip sebenarnya sudah ada di zaman kolonial.

Pada 1939, menurut catatan buku Partisipasi Rakjat Dalam Usaha Pembelaan Negara (1972: 16), lahir peraturan Luchtcberchermings Ordonantie berdasarkan Staatsblad Nomor 581. Lewat peraturan itu pula, Lucht Bescherming dienst (LBD) alias dinas perlindungan bahaya udara lahir. Anggotanya adalah warga masyarakat non-militer. LBD terdapat di daerah-daerah, dengan pejabat sipil sebagai koordinatornya.

Tugas LBD di antaranya terkait dengan pemberitahuan tanda bahaya, penerangan terhadap penduduk, perlindungan, penyamaran, dan lainnya. Menurut Sardiman A. M dalam Guru bangsa: Sebuah Biografi Jenderal Sudirman (2008: 98), sebelum jadi tentara, Sudirman adalah seorang guru yang merangkap anggota LBD di Cilacap.


Infografik Mozaik pertahanan sipil


Organisasi lain yang mirip Hansip selain LBD di zaman kolonial adalah Stadswacht (penjaga kota) dan Landwacht (penjaga desa). Dalam autobiografinya, Memoar Hario Kecik (2001: 378), Suhario Padmodiwiryo alias Hario Kecik mengaku, para pelajar sekolah dan mahasiswa banyak direkrut sebagai anggota Stadswacht. Jurnalis Tionghoa terkenal Kwee Thiam Tjing alias Tjambuk Berduri, yang menulis Indonesia dalam Api dan Bara (1947), pernah jadi Stadswacht. Dia mendapat pangkat letnan di organisasi semimiliter itu.

Meski dibekali senjata api, entah bedil atau pistol, tak banyak yang bisa diharapkan dari milisi sipil ini. “Stadswacht dan Landwacht umumnya kurang terlatih dan persenjataan mereka ala kadarnya saja, sehingga tidak banyak bisa diharapkan tenaga mereka untuk kepentingan pertahanan,” tulis Djajusman dalam Hancurnya Angkatan Perang Hindia Belanda (KNIL) (1978: 139).

Menurut Hario Kecik, “pasukan-pasukan (milisi) ini dilatih oleh Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) alias tentara Hindia Belanda. Dibentuk juga Korps Bumi Hangus Umum Algemeen Vernielings Corps (AVC).”

Benar saja, balatentara Jepang menggulung KNIL bersama organisasi semimiliter ala Hansip yang membantu KNIL dalam hitungan minggu. Akhirnya, pada 8 Maret 1942, Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada balatentara Jepang. Organisasi ala Hansip era kolonial itu pun ikut bubar bersama KNIL.


Di zaman Jepang, organisasi semacam Hansip juga ada. Keibodan namanya. “Dapat dikatakan hampir di setiap desa dibentuk Barisan Pembantu Polisi atau Keibodan di bawah pimpinan Kepolisian. Mereka bertugas memelihara keamanan dan untuk keperluan pertahanan sipil (sekarang dikenal sebagai Hansip),” tulis Sagimun Mulus Dumadi dalam Peranan Pemuda: dari Sumpah Pemuda sampai Proklamasi (1989: 229).

Usia Keibodan juga tak lama. Ia hanya bertahan dari 1943 sampai ketika Jepang menyerah kepada Sekutu di tahun 1945. Setelah Indonesia merdeka, seperti dicatat Nugroho Notosusanto dalam Tentara Peta Pada Jaman Pendudukan Jepang di Indonesia (1979: 141), pihak republik “memutuskan untuk membentuk Badan Keamanan Rakyat atau BKR, yang merupakan semacam hansip-wanra.”

Banyak bekas PETA, KNIL, dan milisi bergabung dengan BKR sebelum terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Belakangan, TKR berubah menjadi Tentara Nasional Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
a