Seri Sejarah Sains Indonesia

Sejarah Obat Herbal Era Kolonial & Mengapa Ia Dianggap Terbelakang

Infografik Obat Herbal Zaman Kolonial
Obat herbal. FOTO/iStock
Oleh: Gani Ahmad Jaelani - 1 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Pada abad ke-19 para dokter Eropa mulai tertarik pada obat-obatan herbal Hindia Belanda. Sains modern abad ke-20 menggerusnya.
tirto.id - Pada 8 Februari 1825, Carl Ludwig Blume, pejabat Dinas Kesehatan Masyarakat Hindia Belanda, menulis surat kepada Residen Cirebon. Blume menceritakan bagaimana penduduk pribumi menggunakan ramuan dari tumbuh-tumbuhan untuk mengobati penyakit diare.

Tumbuhan yang dimaksud adalah krastoelang (chloranthus officinalis)—tumbuhan liar yang menurutnya banyak ditemui di pulau Jawa. Dalam surat itu dijelaskan juga bagaimana penduduk pribumi mengolah krastoelang sampai bisa disajikan sebagai obat.

Tidak ada yang luar biasa dalam kisah ini. Para dokter Eropa, setidaknya sampai akhir abad ke-19, tertarik pada praktik pengobatan herbal yang banyak dilakukan penduduk Pribumi. Blume yang saat itu menjabat pula sebagai Direktur Kebun Raya Bogor menggantikan Caspar Reinwardt, juga melakukan penyelidikan secara sistematis terkait jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di Nusantara dan kegunaannya, baik untuk kepentingan kedokteran maupun komersial.

Sembilan tahun sebelumnya, Thomas Horsfield, dokter berkebangsaan Amerika, menerbitkan sebuah artikel berjudul “Short Account of the Medicinal Plants of Jawa” dalam Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen (1816). Dalam artikel ini, sang dokter yang juga bekerja untuk Thomas Stamford Raffles, Letnan-Gubernur Inggris di Jawa, menulis jenis-jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat oleh penduduk pribumi.

Horsfield juga menyinggung krastoelang sebagai tumbuhan yang biasa dipergunakan sebagai obat. Hanya saja, soal kegunaannya sedikit berbeda dengan apa yang disampaikan Blume. Menurutnya, tumbuhan ini merupakan obat untuk penyakit kelamin, dan sampai batas tertentu juga bisa mengobati demam.

Empat tahun setelah Blume mengirim surat kepada Residen Cirebon, F.A.C. Waitz, dokter keturunan Jerman yang bertugas di Hindia Belanda, menerbitkan sebuah buku tipis berjudul Praktische waarnemingen over eenige Javaansche geneesmiddelen (1829). Waitz menjelaskan berbagai tumbuhan yang digunakan penduduk pribumi sebagai obat.

Tentu saja penjelasan Waitz juga memaparkan cara bagaimana tumbuhan itu disiapkan sebelum dikonsumsi. Lebih dari itu, pada bagian akhir, sang penulis membuat daftar dan ulasan tentang jenis tumbuhan apa saja yang digunakan sebagai obat di Eropa dan terdapat di Jawa.


Demi Sains dan Uang

Tiga nama itu hanya contoh dari sekian banyak dokter Eropa yang tertarik pada praktik pengobatan lokal. Ini berlaku hampir di seluruh lokasi yang menjadi tujuan ekspansi orang-orang Eropa, baik di Asia dan Amerika. Salah satu alasan kenapa hal ini terjadi adalah ketakjuban para dokter Eropa ketika berhadapan dengan penyakit-penyakit yang tidak mereka kenal sebelumnya.

Selain itu, jauh dari obat-obatan yang diproduksi di Eropa—atau obat yang dibawa tidak lagi ampuh—membuat mereka juga harus mencari tahu apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai obat di tempat tinggal baru mereka. Kenyataan itulah yang mendorong para dokter itu untuk melakukan penelitian terkait khasiat tumbuh-tumbuhan di tempat asing.


Selain untuk urusan pengobatan, penyelidikan dalam kerangka sejarah alam (natural history) ini juga bertujuan untuk mengumpulkan informasi tanaman yang memiliki nilai ekonomi untuk pasar Eropa. Bagaimana pun, tujuan utama kolonialisme adalah mencari keuntungan ekonomi sebanyak-banyaknya.

Dan itu dilakukan dengan mengeksploitasi kekayaan alam, lalu mengubahnya menjadi komoditas ekonomi. Pada titik ini, para dokter yang menyelidiki sejarah alam berada di garda depan untuk memastikan keuntungan ekonomi kolonialisme berjalan lancar. Tapi ini adalah cerita lain tentu saja.

Penggunaan obat-obatan dari tumbuhan lokal yang diapresiasi para dokter Eropa juga cukup populer di kalangan kaum indo. Sampai batas tertentu, sebagaimana diceritakan Hans Pols dalam artikel “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation” yang dimuat di jurnal East Asian Science, Technology and Society: an International Journal (2009), merekalah yang kerap mempromosikan penggunaan obat-obatan tradisional ini.


Seorang perempuan indo bernama J. Kloppenburg-Versteegh (1862-1948) adalah salah satu contoh paling penting. Pada 1907 ia menerbitkan Indische planten en haar geneeskracht. Sesuai judulnya, buku itu membahas tumbuh-tumbuhan yang ada di Hindia beserta kegunaannya untuk kesehatan.

Buku tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dengan judul Bab toetoewoehan ing tanah Indija miwah dajanipoen kangge djampi (1911). Beberapa tahun kemudian buku itu diterbitkan pula dalam bahasa Melayu dengan judul Boekoe obat-obat (1916) dan Boekoe djampi (1916).

Sebetulnya Kloppenburg tidak memiliki latar belakang keilmuan soal obat-obatan. Dorongan untuk menulis karya itu lebih didasarkan pada pengalaman pribadi yang begitu suram: kematian putrinya pada 1899. Setelah itu ia bertekad menyusun buku soal obat-obatan untuk menolong sesama manusia.

Pendekatan yang ia lakukan dalam menyusun buku itu bisa dikatakan mengikuti prosedur keilmuan. Ia mengumpulkan jenis-jenis tumbuhan dan khasiatnya, sebagaimana dilakukan para dokter-naturalis di awal abad ke-19. Inilah yang membuatnya cukup bisa diterima dalam kerangka ilmu kedokteran masa itu.




Korban Modernitas Kolonial

Sebenarnya sejak awal abad ke-20 ketertarikan para dokter Eropa terhadap tumbuhan berkhasiat di Hindia Belanda sudah mulai berkurang. Setidaknya ada dua alasan yang bisa menjelaskan hal itu.

Pertama, munculnya paradigma bakteriologi, yakni suatu kerangka berpikir dalam ilmu kedokteran yang meyakini bahwa kemunculan suatu penyakit disebabkan patogen yang spesifik. Praktik terapeutik pun lebih banyak difokuskan untuk mencari patogen tadi. Kemunculan paradigma ini juga dimungkinkan oleh adanya laboratorium. Itulah kenapa penelitian kedokteran lebih sering dilakukan di laboratorium ketimbang alam terbuka.

Kedua, dalam kerangka kolonialisme, munculnya paradigma itu juga merupakan wujud dominasi sains yang dibawa orang-orang Eropa. Suatu penyakit sudah bisa didefinisikan secara lebih spesifik, dan pengobatannya juga dapat dilakukan dengan jelas. Itulah kenapa pengetahuan lain di luar ilmu kedokteran modern dianggap terbelakang, tidak didasari eksperimen, dan karena itu tingkat kesahihannya menjadi lebih rendah.


Akibatnya pengetahuan tentang obat-obatan herbal menjadi dipinggirkan. Pengetahuan itu hanya menjadi bagian pengetahuan populer yang dipandang sebelah mata oleh kedokteran modern.

Dalam konteks kolonialisme, peminggiran pengetahuan tentang obat-obatan herbal juga ditopang gagasan bahwa penggunaannya adalah wujud keterbelakangan. Jika penduduk pribumi ingin dianggap maju, maka mereka pun harus mengonsumsi obat-obatan yang diproduksi pengetahuan Eropa.

Sampai saat ini, penggunaan obat-obatan herbal masih terus berlangsung. Keberadaannya terus bersaing dengan obat-obatan yang diproduksi pengetahuan Eropa. Dan gagasan bahwa yang pertama lebih rendah dari yang kedua masih tetap saja kuat. Tapi setidaknya sekarang Anda tahu apa yang membuatnya demikian.

==========

Gani Ahmad Jaelani adalah pengajar pada Departemen Sejarah dan Filologi Universitas Padjadjaran. Ia menyelesaikan pendidikan doktor sejarah di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS), Paris dengan disertasi tentang persoalan higienitas di Hindia Belanda.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Gani Ahmad Jaelani
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Gani Ahmad Jaelani
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight