Sejarah Museum Sumpah Pemuda: Berawal dari Rumah Tinggal

Oleh: Dhita Koesno - 26 Oktober 2020
Dibaca Normal 1 menit
Sejarah Museum Sumpah Pemuda: awalnya adalah rumah tinggal dan sempat menjadi toko bunga.
tirto.id - Gedung Sumpah Pemuda awalnya merupakan tempat tinggal milik Sie Kong Liang. Gedung ini beberapa kali mengalami perubahan fungsi.

Lalu, pada 15 Agustus 1928, gedung ini menjadi tempat diselenggarakannya Kongres Pemuda Kedua pada Oktober 1928.

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda (HSP) 2020 atau yang ke-92, berikut ini sejarah peruntukan dan fungsi Museum Sumpah Pemuda dari tahun 1908 hingga saat ini dikutip dari situs resmi Kemdikbud:

1908:

Menurut catatan yang ada, Museum Sumpah Pemuda pada awalnya adalah rumah tinggal milik Sie Kong Liang. Gedung didirikan pada permulaan abad ke-20.

Sejak 1908 Gedung Kramat disewa pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) dan RS (Rechtsschool) sebagai tempat tinggal dan belajar. Namanya kala itu Commensalen Huis.

Mahasiswa yang pernah tinggal adalah Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Soerjadi (Surabaya), Soerjadi (Jakarta), Assaat, Abu Hanifah, Abas, Hidajat, Ferdinand Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali, Mohammad Tamzil, Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan Katjasungkana.

1927:

Pada tahun ini, gedung tersebut digunakan oleh berbagai organisasi pergerakan pemuda untuk melakukan kegiatan pergerakan.

Bung Karno dan tokoh-tokoh Algemeene Studie Club Bandung sering hadir untuk membicarakan format perjuangan dengan para penghuni Gedung Kramat 106.

Kongres Sekar Roekoen, Pemuda Indonesia, PPPI pernah diselenggarakan di tempat ini. Selain itu, gedung ini digunakan sebagai sekretariat PPPI dan sekretariat majalah Indonesia Raja yang dikeluarkan PPPI.

Sejak tahun 1927, gedung yang semula bernama Langen Siswo diberi nama Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw (gedung pertemuan).

1928:

Pada 15 Agustus 1928, di gedung ini diputuskan akan diselenggarakan Kongres Pemuda Kedua pada Oktober 1928. Soegondo Djojopuspito, ketua PPPI, terpilih sebagai ketua kongres dan tempat ini dinamakan sebagai Gedung Sumpah Pemuda.

Kalau pada Kongres Pemuda Pertama telah berhasil diselesaikan perbedaan-perbedaan sempit berdasarkan kedaerahan dan tercipta persatuan bangsa Indonesia, Kongres Pemuda Kedua diharapkan akan menghasilkan keputusan yang lebih maju.

Di gedung ini memang dihasilkan keputusan yang lebih maju, yang kemudian dikenal sebagai sumpah pemuda.


1934-1937:

Setelah peristiwa Sumpah Pemuda banyak penghuninya yang meninggalkan gedung Indonesische Clubgebouw karena sudah lulus belajar.

Setelah para pelajar tidak melanjutkan sewanya pada tahun 1934, gedung kemudian disewakan kepada Pang Tjem Jam selama tahun 1934 – 1937. Pang Tjem Jam menggunakan gedung itu sebagai rumah tinggal.

1937-1948:

Pada tahun 1937–1951 gedung ini lalu disewa Loh Jing Tjoe dan menggunakannya sebagai toko bunga (1937-1948).

1948-1951:

Gedung ini kemudian berubah fungsi menjadi Hotel Hersia pada 1948–1951.

1951-1970:

Pada tahun 1951 – 1970, Inspektorat Bea dan Cukai menyewa gedung ini untuk perkantoran dan penampungan karyawannya.

1973-SEKARANG:

Pada tanggal 3 April 1973, Gedung Kramat 106 dipugar Pemda DKI Jakarta. Pemugaran selesai 20 Mei 1973. Gedung Kramat 106 kemudian dijadikan museum dengan nama Gedung Sumpah Pemuda.

Isi & Makna Sumpah Pemuda


Agar tetap bisa memaknai Sumpah Pemuda 1928, berikut isi dari Sumpah Pemuda yang dikrarkan pada Kongres Pemuda II:

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.



Baca juga artikel terkait MUSEUM SUMPAH PEMUDA atau tulisan menarik lainnya Dhita Koesno
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Dhita Koesno
Editor: Agung DH
DarkLight