Sejarah Muchdi PR: Sobat Prabowo, Pendiri Gerindra, Dukung Jokowi

Oleh: Iswara N Raditya - 11 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah hidup Muchdi PR terkait erat dengan Prabowo sejak Orde Baru. Namun, di Pilpres 2014 dan 2019, Muchdi mendukung Jokowi.
tirto.id - Mayor Jenderal TNI (Purn.) Muchdi Purwoprandjono mendukung Joko Widodo (Jokowi) untuk Pilpres 2019 mendatang. Muchdi PR punya sejarah erat dengan Prabowo Subianto. Ia sempat menjabat Danjen Kopassus, lalu bersama Prabowo mendirikan Partai Gerindra.

Lahir di Sleman, Yogyakarta, tanggal 15 April 1949, Muchdi PR lulus Akademi Militer (Akmil) pada 1970. Karier militernya di era Orde Baru terbilang mulus meskipun setelah Presiden Soeharto lengser ia terjerat kasus yang cukup serius.

Muchdi PR pernah menjabat Panglima Kodam VI/Tanjungpura yang sejak 1985 membawahi seluruh wilayah Kalimantan. Kemudian, pada Maret 1998, ia ditunjuk menjadi Danjen Kopassus melanjutkan tugas Prabowo Subianto yang naik pangkat sebagai Pangkostrad.

Namun, Muchdi PR hanya beberapa bulan saja menjabat Danjen Kopassus. Pada Mei 1998 atau setelah Soeharto lengser dari kursi kepresidenan, posisinya digantikan Mayjen TNI Syahrir MS.

Muchdi PR kemudian menempati posisi Deputi V Badan Intelijen Negara (Bakin) Bidang Penggalangan. Selain itu, ia berperan membangkitkan kembali Hizbul Wathan, salah satu organ Muhammadiyah, pada 1999.

Muchdi PR memang sudah sejak lama dekat dengan lingkungan Muhammadiyah. Saat masih remaja, ia adalah kader Hizbul Wathan. Muchdi PR juga dua kali terpilih sebagai Ketua Umum Perguruan Silat Tapak Suci Putra Muhammadiyah sejak 2006.


Lolos dari Kasus Munir

Tanggal 6 September 2004 malam, Munir Said Thalib meninggal dunia dalam penerbangan tujuan Amsterdam dengan pesawat Garuda Indonesia. Nama Muchdi PR terseret dalam kasus pembunuhan aktivis kemanusiaan tersebut.

Polisi menangkap Muchdi PR pada 19 Juni 2008 atau kurang lebih empat tahun setelah peristiwa itu terjadi. Ia resmi ditetapkan sebagai tersangka dan dikenakan Pasal 340 KUHP mengenai pembunuhan terencana.

Muchdi PR dianggap memiliki motif sakit hati terhadap Munir. Kariernya terhenti setelah terungkapnya penculikan aktivis pada 1997-1998, perkara yang disebut-sebut juga melibatkan Prabowo Subianto.

Dalam pemeriksaan terungkap, Muchdi PR lebih dari 40 kali berkomunikasi dengan Pollycarpus Budihari Priyanto. Bahkan, di hari Munir tewas terdapat 15 kali hubungan telepon antara kedua orang ini. Pollycarpus adalah pilot pesawat Garuda yang ditumpangi Munir dan telah menjadi terdakwa dengan vonis 14 tahun penjara.

Nasib Muchdi PR ternyata berbeda dengan Pollycarpus. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 31 Desember 2008 menyatakan Muchdi PR bebas murni dari segala dakwaan.

Dikutip dari wawancara dengan Detik.com tanggal 7 Januari 2009 atau beberapa hari setelah diputus bebas, Muchdi PR berkata, “Untuk apa saya harus membunuh Munir dengan tangan orang lain? Saya sendiri kalau mau juga bisa.”

Muchdi PR & Prabowo Pisah

Muchdi PR terjun ke kancah politik dengan turut mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada 6 Februari 2008, bersama Prabowo Subianto dan beberapa tokoh lainnya. Ia kemudian menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Gerindra.

Hubungan Muchdi PR dan Prabowo Subianto diketahui sangat dekat sejak lama. Maka, bukan hal yang aneh jika Muchdi PR turut mendukung rekan sejawatnya itu untuk bertarung di medan politik.

Kedekatan Muchdi PR dan Prabowo diakui politikus Gerindra, Pius Lustrilanang, yang juga menjadi korban penculikan aktivis pada 1997-1998. “Sangat dekat, bisa dibilang sahabat,” ungkap Pius.


Namun, pada 23 Februari 2011, dua sahabat ini pisah kongsi. Muchdi PR memilih hengkang dari Gerindra dan kemudian bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Perbedaan pilihan politik antara Muchdi PR dan Prabowo berlanjut menjelang Pemilu 2014. Kala itu, Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa menghadapi pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK).

Muchdi PR ternyata tidak ikut ke barisan yang dipimpin sahabat lamanya itu. Ia justru memilih mendukung Jokowi-JK, bergabung dengan Relawan Matahari Indonesia. Prabowo pun gagal menjadi presiden, Jokowi menang.

Di era Jokowi-JK, nama Muchdi PR tidak terlalu sering terdengar. Hingga pada Maret 2018, ia telah menjadi anggota Partai Berkarya, parpol baru pimpinan anak lelaki mantan Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Muchdi PR menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Berkarya.

Yang cukup mengejutkan, Muchdi PR bergabung dengan Partai Berkarya bersama dengan Pollycarpus. Terpidana dalam kasus pembunuhan Munir yang dulu juga sempat menyeret nama Muchdi PR ini sudah bebas bersyarat dari penjara sejak 2014, dan pada 29 Agustus 2018 menerima pembebasan murni.


Menjelang Pilpres 2019, Partai Berkarya menyatakan dukungannya kepada Prabowo Subianto yang kali ini berpasangan dengan Sandiaga Uno. Jokowi kembali menjadi rivalnya yang kini menggandeng Ma’ruf Amin.

Muchdi PR lagi-lagi melakukan manuver mengejutkan. Berbeda haluan dengan Partai Berkarya yang menaunginya, ia melabuhkan dukungannya kepada Jokowi. Sekali lagi, Muchdi PR bakal menghadapi sobat lamanya, Prabowo Subianto.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Politik)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Mufti Sholih