Sejarah Masjid di Indonesia

Sejarah Masjid Agung Kasepuhan Cirebon & Ragam Arsitekturnya

Oleh: Syamsul Dwi Maarif - 24 Mei 2021
Dibaca Normal 4 menit
Masjid Agung Sang Cipta Rasa disebut-sebut sebagai masjid tertua dalam sejarah Cirebon.
tirto.id - Masjid Agung Sang Cipta Rasa disebut-sebut sebagai masjid tertua di Cirebon. Sejarah nama masjid yang diperkirakan dibangun sejak tahun 1480 Masehi ini dikenal juga sebagai Masjid Agung Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon.

Sesuai dengan namanya, masjid ini berada di dalam kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon. Pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa diprakarsai oleh Nyi Ratu Pakungwati, dibantu oleh sejumlah anggota Wali Songo dan beberapa tenaga ahli dari Kesultanan Demak pimpinan Raden Patah.

Salah satu anggota Wali Songo yang berperan dalam merintis pembangunan masjid ini, sebut Suwardi Alamsyah dalam "Nilai Budaya Arsitektur Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon Provinsi Jawa Barat" yang terhimpun di Jurnal Patanjaya (2010) adalah Sunan Gunung Jati.

Namun, Suwardi Alamsyah berdasarkan hasil penelitiannya menyebut pembangunan Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon ini dilakukan pada kurun 1498-1500 M, bukan 1480 M.

Sunan Gunung Jati menikah dengan Ratu Dewi Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana yang tidak lain adalah pendiri Kasepuhan Cirebon.

Selain Sunan Gunung Jati, ada pula anggota Wali Songo lainnya yakni Sunan Kalijaga yang memimpin proyek pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Sebagai arsitek perancang masjid, tersebutlah nama Raden Sepat yang memimpin para ahli bangunan dari Jawa.

Uka Tjandrasasmita dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia dari Abad XIII sampai XVIII Masehi (2000) menyebutkan, Raden Sepat dan kawan-kawannya adalah para ahli bangunan dari Kerajaan Majapahit.


Arsitektur Luar Bangunan Masjid

Arsitektur bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan perpaduan berbagai unsur budaya dan sejarah. Bentuk, struktur dan ragam hias masjid ini ditujukan untuk mempertahankan tata nilai dalam sepanjang perjalanan sejarahnya.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa dikelilingi pagar tembok berhias tonjolan belah ketupat dan bentuk segi enam bergerigi (motif bingkai cermin). Pada atas tembok terdapat pelipit rata dari susunan bata yang bagian atas dan bawahnya mengecil.

Sedangkan bagian tengahnya melebar dengan ketinggian 70 cm dan berjumlah 20 buah serta terdapat lampu penerang di puncaknya atau candi laras.

Pada pagar tembok terdapat 6 buah pintu yaitu 3 pintu pada sisi timur, 1 pintu pada sisi utara, dan 2 pintu pada sisi timur (tengah). Bentuk pintu dan gerbang menyerupai Gapura Padukarsa.

Di gerbang pintu utama sebelah timur bagian tengah berhias sayap bersusun tiga pada puncak dan pada bagian tengah berhias candi laras. Di atas gapura yang melengkung terdapat tulisan Arab, dan di bagian kanan terdapat hiasan candi laras.

Selanjutnya, di dua pintu gerbang berhias candi laras dan di bawahnya terdapat hiasan belah ketupat.

Gerbang yang lain berbentuk segi panjang dengan lengkung di bagian tengah lengkungan terdapat belah ketupat terdiri dari dua buah daun pintu berhias motif candi laras dengan bingkai cermin dan belahan ketupat di bawah.


Arsitektur Bangunan Inti Masjid

Mudhofar Muffid dan kawan-kawan melalui riset berjudul Konsep Arsitektur Jawa dan Sunda pada Masa Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dalam Jurnal Modul (2014) mengungkapkan, bangunan utama masjid berukuran 17,80 x 13,30 meter dengan tonjolan di bagian barat.

Ruang masjid menghadap kiblat. Kemudian, terdapat lantai ubin terakota pada serambi sebelah selatan berukuran 28 x 28 cm berjajar berwarna merah memudar.

Dinding bangunan inti terpisah dari atap dengan tinggi sekitar 3 meter dan tebal 56 cm. Dinding ini berfungsi sebagai pemisah antara ruang dalam dengan serambi dan terbuat dari batu kapur setebal 5-7 cm.

Pada seluruh dinding berwarna jingga kemerahan kecuali pada bagian-bagian ukir terlihat putih seperti mihrab dan dinding luar.

Terdapat hiasan tambahan dari porselin pada dinding berukuran 10 x 10 cm di sisi selatan dan sisi utara. Seluruh dinding berwarna jingga dan polos kecuali bagian atas pintu tengah pada dinding utara dan selatan karena terdapat hiasan tumpal bergigi berukuran 6 cm.

Pada ujung selatan dan utara dinding barat bagian atas terdapat hiasan pelipit rata yang mengecil ke atas. Sedangkan pada dinding barat bagian tengah terdapat tonjolan bulat, yaitu mihrab.

Dinding bagian luar di sebelah timur berwarna putih dan berhias; ujung selatan dan utara dinding itu agak menjorok ke depan dan berhias pelipit rata (bagian atas dan bawah) yang menyambung ke sebelahnya.

Sementara di bagian tengah berhias medalion sebanyak 9 buah tiap sisi kiri dan kanan pintu. Hiasan medalion terdiri atas motif pilin dan teratai, keduanya berselang menghiasi dinding.


Di sekeliling bangunan inti terdapat 9 buah pintu terbuat dari kayu; 1 pintu di sebelah timur dan masing-masing 4 pintu di utara dan selatan, terdiri atas 2 daun pintu dan polos.

Pintu dekat dinding barat timur berukuran tinggi 168 cm dan lebar 68 cm, sedangkan yang di tengah tingginya 122 cm dan lebar 55 cm.

Terdapat 44 buah lubang angin tersebar di seluruh dinding bangunan inti; sebarannya tidak merata, di dinding barat terdapat 16 buah, dinding utara dan selatan masing-masing 14 buah.

Lubang angin berbentuk belah ketupat bergigi; tiap gerigi berukuran 6 cm, terdiri atas dua baris: baris pertama terletak 140 cm dari permukaan lantai dan baris kedua 50 cm di atas baris pertama, dan 190 cm dari permukaan lantai.

Ruang utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki 30 batang tiang berbentuk bulat dengan garis tengah 40 sentimeter, berdiri di atas umpak terbuat dari batu.


Tiang terbuat dari kayu jati berderet dari timur ke barat, terdiri atas 12 buah tiang utama dan 18 buah tiang berada di dekat dinding, termasuk satu tiang yang disebut saka thatal (tiang dari serpihan kayu yang diikat dengan tali dari rerumputan).

Kedua belas tiang utama tersebut tidak lagi berfungsi sebagai penyangga atap karena sudah rapuh sehingga diperkuat dengan empat batang tiang besi untuk masing-masing tiang saat pemugaran pada 1977-1978.

Ukuran umpak bergantung pada ukuran tiang; garis tengahnya 10 cm lebih besar dari tiangnya. Tiang utamanya berjumlah 12 batang serta tingginya mencapai atap.

Namun, tiang utama kini sudah digantikan oleh tiang-tiang besi. Semua tiang dihubungkan dengan balok-balok melintang dengan cara membuat lubang dan pengunci sebagai penguat konstruksi.


Arsitektur Ruangan dan Atap Masjid

Atap limasan Masjid Agung Sang Cipta Rasa pada bangunan inti bersusun tiga mengecil ke atas. Mimbar atau mihrab masjid terletak di tengah dinding barat bangunan inti dengan kemiringan 17 derajat dari arah timur-barat.

Denah ruangan berbentuk kapsul terbuka pada bagian timur, menonjol keluar dari dinding barat, berukuran tinggi 2,50 meter, panjang 2,44 meter dan lebar 1,40 meter.

Atapnya melengkung, permukaan lantainya datar, dinding sisi utara dan selatan tegak lurus serta dinding barat melengkung setengah lingkaran.

Langit-langit pada mimbar memiliki hiasan bermotif bunga Teratai kuncup mengarah ke bawah. Pada bagian sebelah kanan depan terdapat tiga buah ubin tanah (ampar) yang berasal dari para wali. sementara bagian mukanya terdapat banyak hiasan.

Pada bagian atasnya terdapat pelengkung-pelengkung berhias, yang paling atas berupa motif bunga matahari, di sisi kiri-kanannya terdapat motif lidah api, bagian tengah hiasan lengkungan, yang paling bawah hiasan sulur-suluran.

Sementara pada bagian bawah pelengkung terdapat dua buah pilaster berbentuk bulat, di atasnya berhias motif kuncup bunga teratai.


Kemudian, di sebelahnya terdapat ukiran bunga teratai mekar dalam bingkai persegi. Pada ujung pilaster berbentuk persegi terukir hiasan motif kuncup bunga teratai.

Bagian tengah badan pilaster diukir hiasan dan di bagian paling bawah terdapat umpak, bentuknya bulat untuk pilaster yang bulat dan berbentuk limas terpancang untuk pilaster persegi.

Pilaster berhias pilin dengan tinggi badan tiang 1,51 meter dan lebar 13 cm untuk yang persegi. Sedangkan untuk yang bulat berukuran tinggi 14 cm dan tebalnya 8 cm dari dinding muka mihrab.


Baca juga artikel terkait SEJARAH MASJID NUSANTARA atau tulisan menarik lainnya Syamsul Dwi Maarif
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight