Sejarah Makam Raja-raja Mataram di Imogiri yang Kini Longsor

Oleh: Iswara N Raditya - 20 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Makam raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta, punya sejarah panjang, dibangun sejak era Sultan Agung.
tirto.id - Kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri, Bantul, Yogyakarta, longsor akibat hujan yang mengguyur hampir sehari penuh pada Minggu (17/3/2019) lalu. Area pemakaman ini, termasuk raja-raja era Kraton Yogyakarta dan Surakarta, punya sejarah panjang, dibangun sejak masa Sultan Agung, pemimpin terbesar Kesultanan Mataram Islam.

Yang tergerus longsor adalah bagian halaman calon makam Sultan Hamengkubuwana (HB) X, seluas sekitar 25 meter persegi. Selain itu, sisi barat bagian dari situ juga terlihat retakan yang cukup lebar dan berpotensi runtuh. Kompleks pemakaman bersejarah ini memang rawan runtuh lantaran terletak di atas perbukitan.

Dijelaskan dalam buku Jejak Masa Lalu: Sejuta Warisan Budaya (2004) suntingan Arwan Tuti Artha dan ‎Heddy Shri Ahimsa Putra, makam raja-raja Mataram di puncak bukit ini dibangun atas gagasan Sultan Agung (1613-1645). Bukit ini dinamakan Pajimatan Girirejo, terletak di Bantul, arah selatan Kota Yogyakarta, tak jauh dari pantai selatan.

Pembangunan kompleks makam raja-raja di Imogiri ini dimulai pada 1632, atau memasuki dekade kedua era Sultan Agung. Pusat pemerintahan Kesultanan Mataram Islam kala itu berada di Kotagede, dekat pusat Kota Yogyakarta sekarang.

Sebelum dibangunnya kompleks makam raja-raja di Imogiri, Sultan Agung sebenarnya sudah merencanakan area pemakaman khusus yang dinamakan Girilaya. Perancangnya adalah paman sultan yang bernama Panembahan Juminah, salah satu putra Sutawijaya alias Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram Islam.

Namun, di tengah proses pembangunan makam itu, Panembahan Juminah wafat. Sultan Agung pun membatalkan rencana penggunaan kompleks makam tersebut untuk raja-raja Mataram. Panembahan Juminah dikuburkan di Makam Girilaya sebagai bentuk penghormatan Sultan Agung kepada paman tercintanya tersebut.


Makam Raja dan Pengkhianat

Nindyasti Dilla Himaya lewat kajiannya bertajuk “Pengaruh Budaya Jawa-Hindu dalam Kompleks Makam Imogiri Yogyakarta” (2017) yang terangkum dalam Prosiding Seminar Heritage Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI), mengungkapkan, arsitek kompleks makam di Imogiri bernama Kyai Tumenggung Citrokusumo, orang kepercayaan Sultan Agung.

Kyai Tumenggung Citrokusumo merancang kompleks pemakaman tersebut dengan perpaduan unsur Jawa (Hindu) dan Islam, juga dibangun masjid di dalamnya. Hingga kini, bangunan masjid tersebut tetap terjaga dan sesuai dengan bentuk aslinya.

Area pemakaman ditempatkan di puncak bukit. Untuk mencapainya harus menaiki tingkat yang berjumlah 409 anak tangga dengan kemiringan 45 derajat dan lebar sekitar 4 meter. Menurut mitos setempat, barangsiapa saat menaiki anak tangga itu dapat menghitung jumlahnya dengan tepat, maka keinginannya akan terkabul.

Sebagaimana namanya, kompleks makam Imogiri memang diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi raja-raja Mataram Islam dan raja-raja turunannya, hingga terbelahnya Dinasti Mataram menjadi dua kerajaan yang masih eksis hingga saat ini, yakni Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.


Area pemakaman ini, seperti diuraikan dalam tulisan Nindyasti Dilla Himaya, dibagi menjadi tiga wilayah utama, yaitu Astana Kasultan Agung, Wilayah Makam Raja-raja Surakarta, dan Wilayah Makam Raja-raja Yogyakarta.

Di kawasan Astana Kasultan Agung terdapat makam Sultan Agung, Kanjeng Ratu Batang (istri Sultan Agung), Amangkurat II (pendiri Kasunanan Kartasura setelah runtuhnya Mataram Islam), dan Amangkurat III (raja kedua Kasunanan Kartasura).

Sedangkan di wilayah makam raja-raja Surakarta dikebumikan Pakubuwana I (raja ketiga Kasunanan Kartasura) dan para penguasa Kasunanan Surakarta dari Susuhunan Pakubuwana II hingga Pakubuwana XII.

Terakhir adalah wilayah makam raja-raja Yogyakarta untuk sebagai tempat persemayaman terakhir para pemimpin Kasultanan Yogyakarta, dari Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwana I hingga Hamengkubuwana IX, kecuali Hamengkubuwana II yang dimakamkan di Kotagede, bekas ibukota Mataram Islam.

Di area pemakaman Imogiri juga terdapat lokasi penguburan sosok yang dianggap pengkhianat, yaitu Tumenggung Endranata. Terungkap dalam buku G. Moedjanto berjudul The Concept of Power in Javanese Culture (1986), Tumenggung Endranata adalah Bupati Demak yang sempat menjadi salah satu panglima perang andalan Sultan Agung, termasuk dalam upaya penyerangan ke markas VOC di Batavia pada 1628 dan 1629.

Beberapa sumber menyebut, Tumenggung Endranata telah membocorkan posisi basis tentara dan logistik pasukan Kesultanan Mataram Islam saat penyerangan ke Batavia pada 1629. Seperti diketahui, upaya menyerang VOC yang dimotori Sultan Agung itu gagal total.


Pengkhianatan Tumenggung Endranata membuat Sultan Agung murka. Panglima perang Mataram itu pun diadili dan dijatuhi hukuman mati. Tubuhnya dipenggal menjadi tiga bagian. Ketiga potongan tubuh ini kemudian ditanam di jalur anak tangga yang mengarah ke kompleks pemakaman raja-raja di Imogiri, sehingga jasad si pengkhianat terinjak-injak oleh orang yang sedang menaiki anak tangga tersebut.

Kompleks makam raja-raja di Imogiri saat ini sudah berusia 387 tahun, dan terus dipergunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir raja-raja turunan Mataram, yakni Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Mufti Sholih
DarkLight