Sejarah Komik Medan yang Popularitasnya Berumur Pendek

Ilustrasi Era Cergam Medan. tirto.id/Sabit
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 15 Oktober 2019
Dibaca Normal 4 menit
Cerita bergambar atau komik Medan yang khas berumur pendek. Kematiannya dipengaruhi oleh situasi dan kebijakan politik nasional.
tirto.id - Pada pertengahan 1954, Zainal Abidin Mohammad, seorang ilustrator yang tinggal di Medan, mengunjukkan sebuah manuskrip cerita bergambar (cergam) yang baru selesai ia buat kepada istrinya, Siti Nazariah. Ia berniat mengirimkan karyanya ke redaksi majalah Waktu yang punya ruang khusus untuk komik.

“Bagaimana menurutmu gambar ini, Siti?”

“Bagus, kapan diantar ke Jalan Sutomo?” jawab Siti. Kantor redaksi majalah tersebut memang terletak di Jalan Sutomo, Medan.

Cergam itu berkisah tentang seorang detektif muda yang budiman. Ia berani dan sangat anti-kompromi dalam menegakkan hukum.

Setelah istri Zaenal membaca, rupanya ada satu hal yang mengganjalnya.

“Eh, nama anak mudanya belum ada, siapa pula namanya?” tanya Siti.

Sejenak ingatan Zainal kembali ke masa revolusi yang belum lama berlalu. Ia teringat kepada Bahtar, kawan revolusionernya di Langkat yang pernah menampungnya. Saat terjadi revolusi sosial untuk meruntuhkan Kesultanan Langkat, Bahtar ikut serta.

Zainal pun ikut dalam gelombang demonstrasi, tapi enggan bergabung dengan laskar. Huru-hara pada akhirnya tak terhindarkan. Zainal selamat, Bahtar sebaliknya. Ia ditemukan tewas dengan tubuh lebam dan kena bacok. Kenangan itulah yang menjadi ilham untuk nama karakter utama cergamnya.

“Namanya Bahtar, ya Detektif Bahtar,” seru Zainal.

Tak lupa ia membubuhkan nama pena Zam Nuldyn. Majalah Waktu menerima naskah itu dan menerbitkannya tak lama setelah diserahkan oleh Zainal. Rupa-rupanya cerita bergambar itu mendapat sambutan positif dari pembaca.

Koko Hendri Lubis, peneliti kultur pop Sumatra Utara, menyebut Detektif Bahtar ikut menaikkan animo masyarakat Medan terhadap cergam. Ia menjadi pemula dari ledakan kreatif komikus Medan yang membawa nama kota itu selevel dengan Bandung dan Jakarta sebagai pusat produksi komik Indonesia.

Detektif Bahtar membuat Zam Nuldyn dikenang sebagai komikus pertama di Medan dalam sejarah,” tulisnya dalam Kalam yang Menggapai Bumi (2019, hlm. 42).


Bagaimana Cergam Medan Bermula?

Pertumbuhan produksi komik di Jawa pada awal 1950-an ikut memengaruhi Kota Medan. Komik adisatria Sri Asih dan serial wayang karya R.A. Kosasih juga beredar di sana. Tapi penerbitan komik dalam bentuk buku belum jadi tradisi di kota tersebut.

Koko menyebut bahwa karikatur atau komik strip berisi banyolan adalah yang paling jamak. Hampir setiap koran punya ruang untuk komik strip. Namun, tradisi itu perlahan berubah sejak kemunculan serial Detektif Bahtar karya Zam Nuldyn pada 1954.

“Dialah yang pertama kali memulai komik yang bersambung. Pertama dia terbit di majalah Waktu, lalu di harian Warta Berita. Panjang ceritanya, dari tahun 1954 sampai 1956,” ujar Koko.

Namun, menurut penyelidikan Arswendo Atmowiloto, Zam bukan benar-benar yang pertama. Ia sendiri menyatakan kepada Arswendo bahwa sekitar tahun 1952 atau 1953, ada komikus M. Nur yang membuat serial di majalah Waktu, dan Saleh Hasan yang menganggit serial Wak Gantang di harian Waspada.

Hanya saja, agaknya karya keduanya tak sepopuler karya Zam sehingga kurang kuat sebagai tengara sejarah. Lagi pula, istilah cergam belum memasyarakat sebelum Zam konsisten menggunakannya. Ada alasan tersendiri mengapa Zam lebih sreg menyebut cergam dari pada komik.

“Bagi Zam, nama komik mengandung asosiasi buruk. Ketika komik banyak diserang, Zam menciptakan istilah cergam—kependekan cerita bergambar. Malah sempat mendirikan majalah Cergam, tetapi hanya dua nomor,” tulis Arswendo dalam “Zam Nuldyn Jendral yang Membuat Jalan” yang tayang di harian Kompas (4 September 1979).

Melalui sebuah karangannya di majalah Tjergam (1961), sebagaimana dicatat Koko, Zam menegaskan bahwa cergam adalah jawaban bagi pandangan apriori terhadap komik. Menurutnya, isi cergam harus dinamis dan revolusioner serta membangkitkan spirit masyarakat.

Dari permikiran inilah para komikus seangkatan Zam membangun identitas cergam Medan yang khas.


Sejumlah Perbedaan dengan Komik Jawa

Akademikus Marcel Bonneff juga punya pandangan yang sama. Ia dalam bukunya Komik Indonesia (2001) bahkan menyebut masa-masa mekarnya produksi cergam Medan sebagai sebuah era tersendiri. Setidaknya ada dua penanda khusus yang menunjukkan kekhasan cergam Medan—atau “periode Sumatra” dalam istilahnya.

“Kemurnian dari periode Sumatra itu disebabkan oleh dua faktor, yaitu tema-tema daerah dan bakat besar para komikus. Semula komik terutama mencerminkan peradaban Jawa, namun pergeseran produksi ke Sumatra telah membuka cakrawala baru,” terang Bonneff (hlm. 32).

Ketika komik wayang meledak di Jawa, beberapa penerbit komik di Medan—seperti Casso, Harris, Hassir, ATB, dan Toko Buku Semesta—juga berusaha mengikutinya. Tapi rupanya antusiasme pembaca di Sumatra tak semeriah di Jawa. Hal itu membuat para penerbit dan komikus Medan berpaling pada khazanah lokal. Mereka kebanyakan menggubah cerita rakyat Minangkabau, Melayu, Tapanuli, Aceh, atau Deli kuno.

Stilistika cergam Medan pun secara umum beda dari komik yang terbit di Jawa. Seturut amatan Koko, cergamis Medan banyak yang terpengaruh gaya komik Eropa daratan (Belgia, Jerman, Belanda). Cirinya yang paling gamblang adalah teks cakapan atau narasi diletakkan di bawah panel gambar, bukan di balon kata laiknya komik Eropa kepulauan atau Amerika.

“Komikusnya kan juga beberapa lulusan sekolah Belanda, jadi gaya gambarnya mirip komik-komik Eropa. Taguan Hardjo, misalnya, banyak juga mengambil referensi dari komik-komik Belanda dan Belgia. Taguan bisa bahasa Belanda jadi tahu komik-komik dari sana,” tutur Koko.

Cara penerbitannya pun beda. Cergamis Medan masih setia dengan cara lama, yaitu lebih dulu menuntaskan penerbitan serial di media massa, baru kemudian mencetaknya sebagai buku. Bahkan, ada juga serial yang tidak pernah diterbitkan sebagai buku. Beberapa media yang punya ruang khusus untuk cergam di antaranya adalah Waktu, Warta Berita, Waspada, Mimbar Umum, Patriot, Suluh Massa, dan Pembangunan.

“Bisa dibilang hampir semua media punya ruang khusus komik. Karena yang paling menarik dan laku dijual memang komik. Makanya, kadang-kadang, ada koran yang satu halamannya isinya komik,” kata Koko yang pada 2015 lalu menerbitkan buku Komik Medan: Sejarah Perkembangan Cerita Bergambar di Indonesia.

Sementara bagi Arswendo, penerbitan via surat kabar inilah yang membuat kualitas cergam medan terjaga. Menurutnya, surat kabar laiknya sebuah filter, hanya hasil terbaik dan populer yang bisa lolos. Hal ini mendorong cergamis membuat karya yang kuat dari segi naratif, bahasanya terpelihara, dan temanya variatif.

“Ini semua disebabkan adanya komunikasi timbal balik antara masyarakat pembaca dengan komikusnya. Reaksi pembaca, langsung atau tidak, mempunyai pengaruh kepada komik yang tengah dalam proses penciptaan, karena biasanya karya-karya itu tidak diselesaikan sekaligus sebelum dimuat,” tulis Arswendo dalam “Koran Medan, serta Cinta Jakarta” yang terbit di harian Kompas (11 Agustus 1979).





Layu kemudian Mati

Popularitas cergam Medan kian menanjak ketika Taguan Hardjo memulai serial Mencari Musang Berjanggut di harian Waspada pada 1957. Di Medan, harian ini termasuk surat kabar kelas satu. Kehadiran serial itu semakin melejitkan pamor dan oplah Waspada.

“Tahun berikutnya kisah itu diterbitkan berulangkali oleh Waspada Press sebagai buku berbentuk oblong (melebar, horisontal, panel tunggal) dan menjadi rebutan pembaca,” tulis redaksi Penerbit Grafiti dalam pengantar edisi dari komik ini (1991).

Maka kemudian, membicarakan cergam Medan tak akan pernah lengkap jika tak menyebut Taguan Hardjo. Dalam pandangan Koko Hendri Lubis, Taguan memang menonjol. Selain kualitas gambarnya di atas rata-rata, Taguan juga periset dan narator ulung.

“Kelak, hanya Taguan Hardjo yang mampu membuat karya dalam menggabungkan kebudayaan Creool, Asia dan Eropa ke dalam cergam melebihi kepakaran ahli sejarah sekalipun,” puji Koko (hlm. 24).

Karenanya tak heran pula jika Bonneff memasukkan Taguan Hardjo bersama Zam Nuldyn sebagai dua kreator utama dari periode ini.

Meski begitu, cergamis yang moncer di Medan jelas bukan hanya mereka. Masih ada Bahzar Sou’yb yang tekun menggarap tema legenda Minangkabau, Djafar Siddik alias Djas yang piawai meramu cerita humor dan horor dengan dialek Medan yang kental, Si Gayo yang fokus pada cerita rakyat Mandailing, atau Loethfi Asmoro yang rajin mengolah khazanah lokal pesisir Tanjung Balai.

Karya-karya utama mereka kebanyakan muncul pada periode 1960 hingga 1963. Bonneff menyebut masa singkat ini sebagai era puncak produksi cergam Medan. Tak hanya volume produksinya yang besar, tapi juga kualitasnya.

Namun, sebagaimana pamornya yang cepat naik, secepat itu pula turunnya. Setelah naik ugal-ugalan pada 1963, setahun kemudian kuantitas produksi cergam Medan turun tajam. Salah satu penyebabnya adalah kampanye konfrontasi yang dilancarkan pemerintah Indonesia terhadap Malaysia.

Kala itu, penerbit-penerbit Medan biasa mengimpor kertas dari Malaysia. Karena hubungan kedua negara memburuk, pasokan kertas pun seret dan harganya melambung. Untuk bertahan, mau tak mau penerbit dan surat kabar mesti mengurangi produksi.

“Tahun 1965 malah semakin parah karena ada huru-hara G30S. Banyak penerbit gulung tikar karena keadaan kacau dan tak mampu beli kertas. Tahun 1966 sampai 1968 memang masih ada produksi tapi sudah tidak bergairah lagi,” tutur Koko.

Selain itu, regenerasi cergamis Medan pun tak jalan. Hampir tak ada lagi yang meneruskan tradisi cergam Medan setelah generasi Zam Nuldyn dan Taguan Hardjo. Memasuki awal 1970-an, pamor cergam Medan benar-benar layu dan lalu mati.

Baca juga artikel terkait SEJARAH KOMIK INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight