Menuju konten utama

Sejarah KLM Merintis Rute Penerbangan Amsterdam-Batavia

Pada tahun 1918, Belanda mulai merintis bisnis penerbangan yang menghubungkan Amsterdam dan Batavia, serta mendirikan anak perusahaan di Hindia Belanda.

Sejarah KLM Merintis Rute Penerbangan Amsterdam-Batavia
Header Mozaik Penerbangan Amsterdam-Batavia. tirto.id/Tino

tirto.id - Pada pertengahan 1590-an, Raja Philip II dari Spanyol yang tengah menguasai Portugal secara sepihak menghentikan kerja sama perdagangan Portugal-Belanda.

Hal ini, menurut Djoeke van Netten dalam "Mapping Travel Knowledge" (termuat dalam buku Trading Companies and Travel Knowledge in the Early Modern World, 2022), mendorong Belanda mencuri pengetahuan kartografi milik Portugal.

Mereka hendak datang ke Timur Jauh melalui tangan Dirck Gerritsz Pomp dan Jan Huygen van Linschoten. Dua warga Belanda ini pernah berlayar menuju Asia sebagai awak kapal Portugal. Linschoten bahkan sempat menjadi sekretaris Uskup Agung Portugal di Goa (India).

Memanfaatkan segala peta, manuskrip, hingga catatan perjalanan berlabel "rahasia" milik Portugal, Belanda akhirnya berhasil tiba di Maluku pada akhir abad ke-16. Ini adalah pelayaran pertama atau eerste schipvaart yang dipimpin Cornelis de Houtman sebagai oppercopman atau bos dagang.

Setelah itu, kapal-kapal lain menyusul. Belanda kemudian membentuk Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada 1602 yang diizinkan negara untuk membangun kekuatan militernya sendiri dan perlahan menguasai Nusantara atau Hindia Belanda. Wilayah ini menjadi koloni terpenting bagi Belanda.

Karena sangat penting dan strategis, transportasi dari dan menuju Hindia Belanda pun menjadi vital bagi Belanda. Namun hingga tiga abad berlalu sejak pertama kali didatangi, satu-satunya cara menuju Hindia Belanda adalah dengan kapal yang membutuhkan waktu lebih dari satu bulan dan rawan terhadap serangan dari kekuatan lain.

Baru pada 1918, dikutip dari H. J. Van Der Maas dalam "The Development of Aviation and Aeronautical Research in Holland in Recent Years" (Society of Olympia, 1929), Belanda membentuk Ryks Studiedienst voor de Luchtvaar (Lembaga Penelitian Penerbangan Nasional).

Di waktu hampir bersamaan, Anthony Fokker, warga Belanda perintis pabrikan pesawat bernama Fokker, mengalihkan operasional perusahaannya dari Berlin di Jerman ke Belanda setelah Perang Dunia I berakhir.

Setahun kemudian, yakni pada 1919, Belanda menggelar pameran kedirgantaraan untuk pertama kalinya.

Setelah acara tersebut, sekelompok pengusaha Belanda yang tengah mengadakan pertemuan di Den Haag pada tanggal 7 Oktober 1919, sepakat untuk membentuk maskapai penerbangan bernama Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM) atau Royal Dutch Airlines.

Menurut Marc Dierikx dalam "KLM" (termuat dalam buku Flying The Flag, 1998), perusahaan ini didirikan dengan modal awal sebesar satu juta gulden dan dipimpin oleh Albert Plesman.

Ia ditunjuk sebagai pemimpin karena dinilai sukses dalam penyelenggaraan pameran kedirgantaraan pertama Belanda. Plesman selanjutnya diminta menjadikan KLM sebagai maskapai mandiri, terbebas dari campur tangan negara, dengan semata-mata mengejar keuntungan dari pada pedagang swasta.

Ini tentu tugas yang sangat berat. Menurut Dierikx, "di zaman itu tidak ada satupun pesawat yang tersedia di pasaran yang dapat membuat maskapai yang menggunakannya memperoleh keuntungan [...] Biaya operasional maskapai di era tersebut sangat mahal untuk ditanggung swasta."

Karena terlalu berat, Plesman gagal memenuhi harapan para bosnya. Pada awal kemunculan, KLM gagal memperoleh rute terbang karena Belanda tidak ikut serta dalam Konvensi Internasional Navigasi Udara, konvensi yang menentukan pemberian suatu rute kepada pelbagai maskapai di seluruh dunia.

Lewat sejumlah lobi politik, KLM hanya diizinkan melakukan perjalanan udara Amsterdam-London, itu pun dengan meminjam izin dan pesawat milik maskapai Inggris, Air Transport & Travel Co. Hal ini membuat KLM tak mampu menghidupi dirinya sendiri.

Maskapai penerbangan ini akhirnya meminta bantuan Pemerintah Belanda dan diambil alih pada tahun 1920.

"Pemerintah Belanda percaya bahwa KLM dapat dijadikan maskapai nasional yang bisa dimanfaatkan membangun jaringan udara Belanda dan wilayah kolonial miliknya," tulis Dierikx. Maka itu, voor Nederland en Kolonien atau "untuk Belanda dan Koloninya" disematkan di ujung nama KLM.

Kebutuhan merealisasikan penerbangan dari Belanda ke negari jajahan, khusus Hindia Belanda, kala itu memang kian mendesak. Salah satu alasannya adalah karena Inggris sebagai kekuatan lain yang mendiami Asia Tenggara telah berhasil melakukan penerbangan Inggris-Australia.

Pemerintah Belanda akhirnya berhasil merealisasikan penerbangan antara Belanda dan Hindia Belanda pada tahun keempat sejak KLM diambil alih lewat uji terbang Amsterdam-Batavia (Jakarta).

KLM Berhasil Mengudara

"Tahun 1924 ditandai dengan ragam penerbangan panjang," ujar Thomassen A Thuessink van der Hoop dalam memoarnya berjudul "The Flight to the Netherlands East Indies" (Journal of the Royal Society of Arts, 1925),

Setelah Perang Dunia I berakhir, imbuhnya, banyak pihak melakukan penerbangan jarak jauh. Sesudah Sir Ross Smith berhasil melakukan penerbangan dari Inggris menuju Australia pada musim dingin 1919-1920, tahun 1924 lebih meriah: Pelletier Doisy melakukan penerbangan Paris-Tokyo, penerbangan Lisbon-Makau yang dilakukan Portugal, dan penerbangan mengitari Australia.

Van der Hoop yang merupakan tentara lulusan Universiteit van Amsterdam dan kemudian menjadi pilot KLM, menilai bahwa menjamurnya penerbangan jarak jauh di tahun tersebut terjadi karena kemampuan pesawat terbang kian mumpuni.

Di tengah riuh dunia penerbangan itulah Belanda melakukan uji terbang. Setahun sebelumnya, mereka memulainya dengan mendirikan Komite Penerbangan Belanda-Hindia.

Pesawat yang digunakan adalah pesawat sipil Fokker F. V. Pesawat ini menurut Anthony Fokker layak digunakan menuju Hindia Belanda karena diciptakan untuk penerbangan jarak jauh.

Penggunaan pesawat sipil dalam uji terbang tersebut karena misi penerbangan berubah, dari propaganda politik menjadi murni soal komersial. Perusahaan berupaya memperoleh keuntungan dari pedagang atau pengusaha Belanda yang berbisnis di Hindia Belanda.

Karena misi berubah, pendanaan uji terbang pun berganti, dari menggunakan kas negara menjadi urunan pengusaha-pengusaha Belanda.

Awalnya, uji terbang hendak dilakukan pada April 1924. Namun ternyata menghimpun dana dari pengusaha tidak mudah dan pesawat Fokker F. V belum menunjukkan kemampuan mumpuni. Maka itu, uji terbang diundur hingga September.

Pada akhir September 1924, dipimpin oleh Thomassen A Thuessink van der Hoop yang ditemani Letnan van Weerden Poelman, uji terbang akhirnya dilakukan. Perjalanan udara dari Amsterdam menuju Batavia ditempuh dalam waktu sebulan.

Perjalanan ini singgah di Prague (Republik Ceko), Belgrade (Serbia), Santo Stefano (Italia), Ankara (Turki), Aleppo (Suriah), Basra (Iraq), Carbar (Iran), Karachi (Pakistan), Kolkata (India), Sittwe (Myanmar), Bangkok (Thailand), Singora (Kesultanan Singora--kini Thailand), Malaka (Malaysia), dan Medan (Hindia Belanda).

Infografik Mozaik Penerbangan Amsterdam Batavia

Infografik Mozaik Penerbangan Amsterdam-Batavia. tirto.id/Tino

Uji terbang perdana ini diadang pelbagai rintangan sehingga memakan waktu yang begitu lama. Saat tiba di Belgrade, mesin berkekuatan 380 h. p (daya kuda) yang tersemat dalam F. VII rusak parah, tak sanggup menerbangkan sayap kayu berlapis tiga selebar 60 kaki dan badan pesawat dari tabung baja yang dilas sepanjang 42 kaki.

Karena tak ada satupun mekanik pesawat tersedia di Belgrade, Hoop dan Poelman harus menunggu seminggu lamanya hingga tim Fokker datang membawa mesin baru yang dijemput staf Kedutaan Belanda di Serbia.

Kendala lainnya adalah cuaca yang memaksa Hoop dan rekannya rutin melakukan pendaratan darurat, terutama saat memasuki wilayah udara belahan Bumi Selatan.

Hal ini terjadi karena pesawat F. VII yang dikemudikannya tak dilengkapi sistem radio komunikasi, buah dari ketiadaan stasiun pemancar radio telekomunikasi udara di luar Eropa, hingga berakibat tak diperolehnya kondisi cuaca terkini.

Setelah melakukan beberapa kali uji terbang, pada tahun 1931 KLM memberanikan diri membuka rute Amsterdam-Batavia seminggu sekali dengan memanfaatkan enam pesawat.

Rute ini, sebut Albert Plesman dalam "The Amsterdam-Batavia Weekly Service" (Presentasi KLM dalam Sesi ke-68 Pertemuan Royal Aeronautical Society di London, 1933), "sangat menguntungkan." Sehingga KLM tak lagi membutuhkan pendanaan pemerintah untuk mengongkosi hidupnya.

Di Hindia Belanda, KLM mendirikan anak perusahaan yakni Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM), dengan rute Batavia-Bandung, Batavia-Semarang, dan rute internasional Batavia-Lod (Palestina).

Setelah Belanda angkat kaki dari Indonesia, KNILM bertransformasi menjadi Garuda Indonesia. Belakangan, seiring pelbagai masalah yang menerpa, muncul guyonan yang memelesetkan bahwa Garuda singkatan dari "Good And Reliable Under Dutch Administration".

Baca juga artikel terkait BISNIS PENERBANGAN atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Teknologi
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi