Sejarah Indonesia

Sejarah Kisah-Kasih Ratna Sari Dewi Soekarno & Bung Karno

Oleh: Iswara N Raditya - 9 Februari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Ratna Sari Dewi adalah istri ke-5 yang selalu dicintai Presiden RI Pertama, Ir. Sukarno.
tirto.id - Ratna Sari Dewi Soekarno diketahui berada di Bali untuk menghadiri upacara kremasi jenazah almarhum menantunya, Frits Frederik Seegers, Senin (8/2/2021). Wanita Jepang bernama asli Naoko Nemoto ini adalah istri ke-5 Presiden RI Pertama, Ir. Sukarno.

Meskipun akhirnya bercerai, Bung Karno pernah mengakui bahwa ia selalu mencintai Ratna Sari Dewi. Pengakuan itu termaktub dalam buku Bung Karno: Perginya Seorang Kekasih, Suami & Kebanggaanku (1978).

Sang proklamator bahkan berpesan agar dimakamkan dalam satu liang lahat dengan Ratna Sari Dewi kelak.

“Kalau aku mati, kuburlah aku di bawah pohon yang rindang. Aku mempunyai istri yang aku cintai dengan segenap jiwaku. Namanya Ratna Sari Dewi. Kalau ia meninggal, kuburlah ia dalam kuburku. Aku menghendaki ia selalu bersama aku.”

Pernikahan Bung Karno dan Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi dikaruniai seorang putri bernama Kartika Sari Dewi. Kartika Sari Dewi nantinya menikah dengan Frits Frederik Seegers –mantan Presiden Citibank Eropa- yang wafat pada Rabu (3/2/2021) lalu.


Pertemuan Sukarno dan Naoko

Usia Naoko Nemoto masih 19 tahun kala pertama kali bertemu dengan Sukarno pada 1959. Menurut The Japanese and Soekarnos Indonesia (1975) karya Masashi Nishihara, Presiden RI ini memang sering berkunjung ke Jepang untuk mengurus masalah ganti-rugi perang.

Tanggal 16 Juni 1959 dalam acara jamuan makan malam di Imperial Hotel, Tokyo, Sukarno berkenalan dengan Naoko. Ada pendapat yang menyebut bahwa Naoko kala itu adalah seorang geisha yang ditugaskan untuk mendampingi Sukarno dalam acara resmi.

Robert Whiting dalam Tokyo Underworld (2012), misalnya, mengutip laporan Shukan Gendai (1966), menyebut Naoko muda dikenal sebagai gadis pertunjukan.

Demikian pula dalam Beauty Inside (2016) karya Rieke Indriyanti yang menuliskan bahwa Naoko sebagai geisha.

Namun, menurut Rieke, geisha –yang dalam bahasa Jepang bermakna seniman– memiliki berbagai kemampuan khusus, juga pengetahuan serta wawasan yang luas.

Terkait hal ini, Naoko berkali-kali menangkis anggapan miring bahwa ia adalah geisha. Ia juga menyangkal tudingan yang menyebut pertemuannya dengan Sukarno terjadi di tempat hiburan malam.

“Tidak benar saya dikenalkan [dengan Sukarno] di Akasaka Night Club. Tidak mungkin. Ia adalah seorang muslim yang taat, tidak minum alkohol, dan pagi hari jam 5 sudah harus bangun untuk salat,” tegas Naoko.


Istri Bung Karno yang ke-5

Beberapa bulan setelah pertemuan di Tokyo itu, Sukarno mengundang Naoko Nemoto ke Indonesia. Naoko tiba di Jakarta pada 14 September 1959 dan diterima dengan hangat. Hubungan keduanya pun bertambah dekat.

Tanggal 3 Maret 1962, Bung Karno menikahi Naoko. Naoko pun memeluk Islam, dan, seperti diungkapkan Rhien Soemohadiwidjojo dalam buku Bung Karno Sang Singa Podium (2013), namanya diganti menjadi Ratna Sari Dewi.

Naoko adalah perempuan ke-5 yang dikawini Bung Karno hingga saat itu. Kala masih muda di Surabaya, Sukarno menikah dengan Siti Oetari Tjokroaminoto, putri tokoh Sarekat Islam (SI) Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, namun kemudian berpisah.

Selanjutnya, Sukarno mengawini Inggit Garnasih yang lama mendampinginya saat berjuang selama era pergerakan nasional, termasuk saat menjalani pembuangan di Ende (Flores) dan Bengkulu.

Pada masa pendudukan Jepang atau beberapa waktu sebelum Indonesia merdeka, Sukarno dan Inggit bercerai. Bung Karno lalu menyunting Fatmawati yang kemudian menjadi ibu negara pertama RI.

Selama menjadi presiden, Sukarno menikah beberapa kali lagi. Hartini menjadi istri Sukarno dalam perkawinan yang ke-4 pada 1953. Enam tahub berselang, Bung Karno janji suci dengan Naoko Nemoto atau Ratna Sari Dewi.

Yurike Sanger, Kartini Manoppo, dan Heldy Djafar adalah para wanita yang dinikahi Bung Karno berikutnya sebelum sang proklamator menutup mata untuk selama-lamanya pada 21 Juni 1970.


Jalinan perkawinan Bung Karno dengan Ratna Sari Dewi kandas pada 1970 atau tiga tahun setelah kelahiran putri mereka, Kartika Sari Dewi. Tak lama setelah perceraian itu, Sukarno meninggal dunia.

Ratna Sari Dwi meninggalkan Indonesia setelah Sukarno tiada. Hidupnya berpindah-pindah, dari Perancis, Swiss, hingga Amerika Serikat.

Sejak 1983, Ratna Sari Dewi Soekarno sempat kembali ke Jakarta. Wanita yang kerap dipanggil Madame Dewi ini diketahui menetap di Jepang pada 2008.

Baca juga artikel terkait PROFILE DEWI SOEKARNO atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Agung DH
DarkLight