Menuju konten utama

Sejarah Keluarga Didi Kempot: Dari Seniman Hingga Pelawak

Didi Kempot berasal dari keluarga seniman, ayahnya Ranto Edi Gudel adalah pemain ketoprak, sementara kakaknya Mamiek Prakoso adalah pelawak.

Sejarah Keluarga Didi Kempot: Dari Seniman Hingga Pelawak
Penyanyi Didi Kempot menghibur penggemarnya saat tampil pada Jazz Traffic Festival di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (14/9/2019) malam. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/pras.

tirto.id - Didi Kempot meninggal dunia pada Selasa (5/5/2020) dalam usia 53 tahun di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, Jawa Tengah. Maestro campursari ini mewarisi darah seni dari keluarganya.

Ayahnya, Ranto Edi Gudel adalah pemain ketoprak di Jawa Tengah. Ibunya, Umiyati Siti Nurjanah merupakan penyanyi tradisional di Ngawi. Sementara kakaknya, Mamiek Prakoso, pelawak yang tenar lewat grup Srimulat.

Sementara itu, pelantun “Cidro” yang mendapat julukan Godfather of Broken Heart ini menikahi penyanyi dangdut Yan Vellia, yang beberapa waktu juga pernah menjadi ‘rekan’ duetnya di atas panggung.

Dalam sebuh sesi wawancara, Didi pernah mengatakan bahwa sang ayah adalah sosok di balik semua kesuksesannya. Ia membebaskan anak-anaknya untuk menentukan jalan, sehingga dirinya dan sang kakak Mamiek terbilang sukses di dunia hiburan tanah air.

Berikut ini profil singkat ayah dan kakak Didi kempot, yang telah menginspirasi perjalanan karirnya.

Ranto Gudel

Didi Kempot lahir dari seorang ayah yang merupakan seorang pelawak kondang pada masanya, khususnya untuk sandiwara Jawa, Ketoprak.

Profesi lawak telah digeluti ayahnya lebih dari 40 tahun. Demikianlah, yang dilakukan Ranto Edi Gudel, atau akrab disapa Ranto Gudel. Ia lahir pada tahun 1937, dengan empat bersaudara dari ayah seorang buruh dan ibunya pedagang di pasar Singosari Solo.

Dikutip dari buku Ensiklopdia Tokoh Kebudayaan IV (PDF), ia hanya sekolah sampai SMP saja. Ranto menolak untuk melanjutkan sekolah karena baginya, sekolah yang sebenarnya adalah hidup yang kita jalani. Alasan ini memperkaya cakrawala seni lawaknya.

Ia menjalani sebagian besar kariernya sebagai pelawak dalam drama ketoprak. Namun, pada usianya yang ke 60, Ranto membuat satu gebrakan. Tanpa menguasai instrumen musik, ia secara mengejutkan menciptakan lagu pop Jawa bertajuk “Anoman Obong” pada tahun 1995.

Lagu itu berkisah soal cerita pewayangan Ramayana dengan tokoh utama Anoman, dan setelah dirilis segera saja meledak di pasaran.

Kekuatan musiknya terletak pada karakter yang energik, serta komposisi musik unik dengan perpaduan dari unsur musik yang sangat akrab dengan telinga masyarakat: pop Jawa, Jaipongan Sunda, langgam, keroncong, dan melayu (dangdut).

Bahkan, kesuksesan lagu membuat sang produser merekamnya dalam 10 versi yang berbeda, mulai dari campusari hingga disco house, yang kemudian meledak bahkan sampai di pub dan kafe-kafe bawah tanah di Jakarta.

Seperti dilansir dari Majalah Tempo edisi 8 Desember 2002, pada tanggal tersebut sang pelawak sekaligus pencipta lagu ini mangkat pada usia 66 tahun di Rumah Sakit Dr. Oen, Solo.

Mamiek Prakoso

Kakak Didi Kempot ini merupakan pelawak Indonesia yang lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 6 April 1961. Memiliki nama asli Mamiek Podang, anak ketiga dari 6 bersaudara itu mengawali karier sebagai anggota grup lawak Srimulat pada 1984.

Sama halnya seperti Didi, Mamiek mendapat darah seni dari sang ayah, Ranto Edi Gudel, yang juga merupakan seorang pelawak dan seniman serba bisa pencipta lagu "Anoman Obong". Dari darah campursari ayahnya, Mamiek sempat merilis beberapa lagu seperti "Grojogan Sewu", "Ora Tak Gagas" dan "Cidro".

Mamiek merambah dunia akting lewat film pertamanya, "Kanan Kiri OK" pada 1989. Pada tahun yang sama Mamiek juga membintangi Makelar Kodok (1989). Dilanjutkan dengan film "Mas Suka, Masukin Aja-Besar Kecil I'ts Okay" (2008).

Mamiek mendapatkan nominasi Piala Citra 2009 sebagai Pemeran Pembantu Pria Terbaik dan memenangkan Pemeran Pembantu Pria Terpuji dalam Festival Film Bandung 2010 melalui film "KING" (2009).

Sejak vakumnya Srimulat di 2005, tayangan hiburan tradisional mulai hilang di pasaran. Hal ini membuat sutradara film, Charles Ghozali, prihatin dan mengangkat kembali Srimulat menjadi kisah layar lebar. Pada 2013, dirilislah film "Finding Srimulat". Mamiek beserta rekan Srimulat lainnya seperti Gogon, Tessy, dan Djujuk Djuwariah turut terlibat dalam film tersebut.

Mamiek memiliki tiga istri yaitu Surani, Srikandi dan Ati. Komedian yang dikenal ramah dan suka bergaul itu meninggal dunia di Solo, Jawa Tengah, 3 Agustus 2014 di usianya yang ke-53 akibat penyakit liver.

Baca juga artikel terkait DIDI KEMPOT atau tulisan lainnya dari Ahmad Efendi

tirto.id - Musik
Kontributor: Ahmad Efendi
Penulis: Ahmad Efendi
Editor: Alexander Haryanto