Sejarah Kejayaan Keluarga Yasin Limpo yang Kini Tengah Redup

Kerabat membawa foto almarhum Ichsan Yasin Limpo di rumah duka, Jalan Haji Bau Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (30/7/2019). ANTARA FOTO/Darwin Fatir.
Oleh: Petrik Matanasi - 2 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Sejarah keluarga Yasin Limpo bermula dari H.M. Yasin Limpo, pejuang Angkatan 45 dan tokoh Golkar. Tahun ini banyak anggota keluarganya yang gagal dalam politik.
tirto.id - Beberapa warsa belakangan ini adalah periode menyedihkan bagi keluarga besar Yasin Limpo. Kejayaan keluarga ini seakan-akan makin tenggelam. Barangkali tidak masalah bagi Syahrul Yasin Limpo ketika masa jabatannya sebagai Gubernur Sulsel berakhir pada 2018. Tapi usahanya untuk menjadi anggota DPR gagal dalam Pileg 2019. Syahrul tak berhasil mengikuti jejak adiknya, Dewi Yasin Limpo. Empat tahun lalu Dewi jadi berita besar. Dia kena garuk KPK pada Oktober 2015.

Tak hanya Syahrul yang gagal jadi legislator. Kakak Syahrul, Tenri Olle Yasin Limpo, yang maju sebagai calon anggota DPR, gagal. Putri Syahrul, Indira Chunda Thita Syahrul Putri, yang maju sebagai calon anggota DPR, kandas. Mantu Syahrul, Riska Mulfiati Redondo, yang maju sebagai calon anggota DPRD, juga gagal. Sementara besan Syahrul, Luthfi Halide, yang maju sebagai anggota DPR, pun bernasib sama.

Tapi cerita tak berhenti di sekitar kegagalan-kegagalan tersebut. Tahun ini keluarga besar Yasin Limpo ditambahi cobaan lagi dengan meninggalnya Ichsan Yasin Limpo, adik Syahrul, pada 30 Juli 2019. Setahun yang lalu, Ichsan sempat maju sebagai calon Gubernur Sulsel dan dia mengukir kisah kegagalan yang sama.

Ichsan adalah mantan Bupati Gowa 2 periode, dari 2005 hingga 2015. Gowa merupakan kabupaten yang punya hubungan sejarah dengan keluarga Yasin Limpo. Buku Wajah DPR dan DPD, 2009-2014 (2010: xxxi) menyebut ayah Syahrul, Dewi, dan Ichsan, yakni Muhammad Yasin Limpo, juga pernah jadi Bupati Gowa. Syahrul pun pernah menjabat Bupati Gowa dari 1994 hingga 2002. Sejak 2016 hingga kini, Bupati Gowa adalah Adnan Purichta Ichsan, anak dari Ichsan Yasin Limpo.


Bermodal Citra Pejuang 45

Akar penting dari keluarga Yasin Limpo tentu saja Kolonel Muhammad Yasin Limpo. Pada tahun-tahun awal Revolusi Indonesia, Muhammad Yasin Limpo seperti banyak pemuda di zamannya: satu kubu dengan Wolter Mongisidi.

“Sejak masa revolusi kemerdekaan, [Muhammad Yasin Limpo] aktif berjuang membela bangsa dan tanah air ini dari penjajahan. Perjuangannya di bawah naungan PARRIS (Pejuang Rahasia Rakyat Indonesia Sulawesi). Ia juga bergabung dengan pimpinan pasukan LAPRIS di Polongbangkeng Takalar,” catat Syarifuddin Daeng Kulle dan kawan-kawan dalam Rakyat Gowa Menentang Penjajah (2007: 86).

Sebagai pejuang kemerdekaan, Muhammad Yasin Limpo tentulah bagian dari Angkatan 45 yang dihormati itu. Di Indonesia, menyandang sebutan Angkatan 45 adalah reputasi yang sangat mulia. Meski yang bersangkutan tak bisa menikmati, reputasi sebagai Angkatan 45 mampu meningkatkan modal politik berupa pencitraan yang tidak hanya bagus, tapi juga heroik.

Usai Revolusi, laki-laki kelahiran Bontonompo, Gowa, 17 Juni 1924 ini bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Menurut catatan Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: dari Tradisi ke DI/ TII (1989: 357), selama kurun waktu Juni 1957 hingga Januari 1958, Kapten Muhammad Yasin Limpo adalah komandan Batalyon L (Batalyon 008/Lapris), sebagai bagian dari Resimen Infanteri 23 pimpinan Mayor Andi Rifai.

Ketika jadi perwira TNI, Yasin Limpo menikahi Nurhayati—perempuan kelahiran Pare-pare yang cukup terpelajar di zamannya. Dari perkawinan itu kemudian lahirlah Tenri Olle Yasin Limpo, Syahrul Yasin Limpo, Tenri Angka Yasin Limpo, Dewi Yasin Limpo, Ichsan Yasin Limpo, Haris Yasin Limpo, dan Irman Yasin Limpo.

Pada awal 1960-an, menurut catatan buku Almanak Lembaga-Lembaga Negara Dan Kepartaian (1962: 418), Yasin Limpo mewakili ABRI dalam Front Nasional daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara. Selain jabatan militer di Sulawesi Selatan, Yasin Limpo pernah jadi pemangku jabatan sipil di daerah Maros, Gowa, dan Majene.

Soal jabatan sipil, menurut catatan Muhammad Arfah dalam Pajonga Daeng Ngalle: Karaeng Polombangkeng: Biografi Pahlawan (1988: 55), “tanggal 5-5-1950 dengan melalui rapat PPKRI di Palteko, M. Yasin Limpo diangkat [sebagai] K.P.N. (Kepala Pemerintahan Negeri) Takalar.” Takalar merupakan kabupaten yang persis berbatasan langsung dengan Gowa.

“YL (Yasin Limpo) yang berlatar tentara dan birokrat merupakan salah satu pendiri Sekretariat Bersama (Sekber). Karena YL yang mendirikan Sekber Golkar secara otomatis berkontribusi baik pemikiran, tenaga dan material dalam rangka membangun dan membesarkan Golkar,” tulis Muhtar Haboddin dalam Politik Primordialisme dalam Pemilu di Indonesia (2015: 168). "Orientasi dan afiliasi politik keluarga Yasin Limpo (YL) terpusat di partai Golkar dan kebesaran Limpo di Golkar Sulawesi Selatan tentu bermanfaat bagi anak-anaknya."

Istri Muhammad Yasin Limpo, Nurhayati, belakangan dua kali jadi anggota DPR (1999-2004 dan 2004-2009). Kader organisasi Aisyiyah Muhammadiyah itu pernah menjabat anggota DPRD Sulsel dari unsur Golkar periode 1987-1992, 1992-1997, dan 1997-1999. Selanjutnya periode 1999-2004, menjadi anggota DPR RI dari Partai Golkar.

“Dari 24 jumlah perempuan yang duduk dalam DPRD Tk. I Sulsel pada masa pemerintahan Orde Baru, hanya terdiri dari 2 orang atau 8 persen yang melakukan mobilisasi; yaitu Aisyah Radjeng Pananrang dan Nurhayati Yasin Limpo,” tulis Siti Maryam dalam "Perempuan Dalam Politik di Sulawesi Selatan" yang termuat di buku Politik & Postkolonialitas di Indonesia (2003: 199).


Politikus hingga Anak-Cucu

Anak-anak Yasin Limpo akhirnya terjun juga ke dunia politik. Partai mereka tak melulu Golkar. Setidaknya di antara anak-anaknya ada yang pernah duduk di kursi parlemen.

Mendiang Ichsan Yasin Limpo pernah jadi anggota DPR dari 1999 hingga 2005, sebelum akhirnya jadi Bupati Gowa. Tenri Olle, yang kini gagal, dulunya pernah menjabat Ketua DPRD Gowa periode 2009-2014 dan kemudian anggota DPRD Sulsel periode 2014-2019. Sedangkan Tenri Angka adalah anggota DPRD Makassar. Haris Yasin Limpo, yang jadi Direktur PDAM Makassar, pernah duduk di kursi anggota DPRD Makassar periode 2009-2014. Cucu Yasin Limpo, putri Syahrul, Indira Chunda Thita Syahrul Putri, yang kini gagal jadi anggota DPR, juga pernah jadi anggota dewan. Anak Tenri Olle, Akbar Danu Indarta Marwan, juga pernah menjadi anggota DPRD Gowa.

Di luar parlemen, Syahrul yang kerap disapa komandan, pernah jadi gubernur. Adiknya, Irman Yasin Limpo, adalah Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Luwu. Dan tentu saja Adnan Purichta Ichsan sebagai Bupati Gowa.


Tak hanya di Sulawesi Selatan, tebaran jaring keluarga Yasin Limpo juga sampai ke Palu. Menantu Muhammad Yasin Limpo, Habsa Yanti Ponulele, isteri Irman Yasin Limpo, pernah mencoba peruntungan dalam Pilkada Kota Palu pada Desember, namun kalah oleh pasangan Hidayat-Sigit Purnomo alias Pasha Ungu.

Waktu Syahrul Yasin Limpo jadi Gubernur, Yasin Limpo senior meninggal dunia di usia 85 pada 2009. Pejuang dengan pangkat terakhir kolonel itu dikenal sebagai perintis Partai Golkar di Makassar. Maka wajar jika semasa hidupnya pernah menjabat Bupati Gowa, Bupati Maros, serta dikenal sebagai guru politik Jusuf Kalla (JK). Dengan JK, Syahrul berstatus besan. Jadi Syahrul juga bagian dari keluarga besar JK, selain Aksa Mahmud.

Yasin Limpo senior tak hanya jadi panutan keluarga besarnya yang kini dilanda “tahun-tahun politik penuh mendung”, tapi juga jadi bagian penting Sulawesi Selatan. Sejak 2015, namanya diabadikan sebagai nama jalan poros antara Samata di Romangpolong dan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Baca juga artikel terkait DINASTI POLITIK atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight