24 Juli 2009

Sejarah Kejayaan AURI Hanya Tercatat di Zaman Omar Dani

Infografik Mozaik Omar Dhani
Omar Dani. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Petrik Matanasi - 24 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
AURI pernah jadi yang terkuat di Asia Tenggara, tapi hanya di zaman Omar Dani. Banyak mendapat armada dari Uni Soviet.
tirto.id - Belum ada panglima/kepala staf angkatan yang bernasib semalang Omar Dani. Ia bukan cuma dipenjarakan, tapi juga dipojokkan dalam sejarah. Namanya kerap dikaitkan dengan G30S, karena Lubang Buaya, yang jadi pangkalan penculik, tidak jauh dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah. Hingga seolah-olah dia lah orang yang paling bertanggung jawab. Faktanya, perintah penculikan datang dari seorang letnan kolonel Angkatan Darat bernama Untung Syamsuri.

Lalu Omar Dani hanya diingat sebagai orang bersalah, tapi dilupakan betapa jayanya Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) di bawah kepemimpinannya.

Pada zaman Orde Baru kejayaan AURI seakan-akan hilang. Angkatan Udara jadi sekadar angkatan pemanis dan tak punya armada yang disegani. “Angkatan Udara itu angkatan teknis, berbeda dengan Angkatan Darat,” kata KSAU keempat (1966-1969) Marsekal Rusmin Nuryadin seperti dikutip Salim Said dalam Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno, dan Soeharto (2015: 159).

Terkuat di Belahan Dunia Selatan

Di zaman Omar Dani, AURI memiliki armada terkuat di Asia Tenggara dan hal ini belum pernah terulang lagi dalam sejarah. Jika di periode Soerjadi Soerjadarma pada era 1950-an AURI yang sedang membangun diri punya armada tempur yang mirip Amerika, maka Omar Dani melanjutkannya dengan menambah peralatan non-Amerika.

Perang Dingin yang makin bergejolak membuat Indonesia agak sulit memiliki armada udara seperti Amerika. Sementara Indonesia harus berhadapan dengan militer Belanda di Irian Barat. Uni Soviet lalu tampil jadi malaikat bagi AURI. Jelang operasi pembebasan Irian Barat, menurut catatan Tomi Lebang dalam Sahabat Lama, Era Baru: 60 Tahun Pasang Surut Hubungan Indonesia-Rusia (2010: 102-103), “Angkatan Udara mendapat pesawat-pesawat MIG-21, Ilyusin-28, TU-16 (Tupolev), dan pesawat angkut Antonov beserta 3 satuan pertahanan udara lengkap dengan roket dan radarnya.”

P.J. Drooglever dalam Tindakan Pilihan Bebas!: Orang Papua dan Penentuan Nasib Sendiri (2010: 385) menyebut terkait pesawat pemburu dan pembom yang dipesan Indonesia, awak tempur Indonesia telah dilatih di Mesir dan Cekoslovakia. “Angkatan Udara (Indonesia) memperoleh 50 (pesawat) pemburu jet, 20 pesawat angkut dan pesawat pembom dalam jumlah sama,” tulis Drooglever.

Pesawat pembom yang didapat Indonesia, menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008: 558), adalah pesawat pembom jarak jauh, yaitu Tupolev TU-16. Armada ini ditempatkan di pangkalan udara Maospati, Magetan.

Hingga 1965, seperti dicatat Victor M. Vic dalam Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi (2005: 95), pasokan pesawat Uni Soviet ke Indonesia meliputi 60 pesawat pemburu MiG-15 dan MiG-17, 40 pesawat pembom jenis Ilyushin Il-20, pembom jarak jauh Tupolev TU-16, dan ditambah beberapa MiG-20. Diperkirakan, Indonesia menerima sekitar 200 pesawat dari Soviet dan sekutunya.

Kehadiran alat-alat tempur canggih dari negara blok komunis itu tentu membuat armada Indonesia makin kuat. “Bantuan persenjataan Rusia membuat persenjataan Angkatan Udara meningkat baik mutu maupun jumlahnya,” tulis Tomi Lebang.

Begitulah AURI di zaman Laksamana Muda Omar Dani.


Marsekal Kesayangan Sukarno

Peluang pendidikan calon penerbang AURI tak disia-siakan Omar Dani pada 1950. Dia mendaftar, lalu sukses diterima. Begitulah yang diceritakannya dalam Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku: Pleidoi Omar Dani (2005: 22-27) yang disusun Benedicta A. Surodjo dan J.M.V. Soeparno. Sebelumnya dia gonta-ganti profesi. Mulai dari anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR), penyiar Radio Republik Indonesia (RRI), informan untuk Markas Besar Tentara (MBT) di Jakarta—yang bertahan hidup dengan bekerja apa saja termasuk menjadi penjual obat dari rumah ke rumah, bahkan terakhir menjadi pegawai De Javasche Bank yang cukup mapan.

Dani, yang sudah berusia 26 pada 1950 itu, mendaftar dan lulus semua tes. Maka berangkatlah dia bersama 60 kadet ke California untuk belajar penerbangan di Trans Ocean Airline Oakland Airport (TALOA). Di antara kadet-kadet Indonesia tersebut, usia Dani kala itu tergolong senior. Mereka berangkat pada November 1950 dan sekolah pilot mereka rampung pada November 1951. Tapi Dani harus tinggal hingga Juni 1952 untuk belajar di sekolah instruktur.

Sepulangnya ke Indonesia, Dani menjadi co-pilot pesawat angkut Dakota di Pangkalan Udara Cililitan (Halim Perdanakusumah) dengan pangkat letnan muda AURI. Setahun kemudian dia menjadi captain pilot, dengan pangkat letnan dua. Di tahun 1954, Omar Dani sudah jadi Komandan Skuadron 2 di Cililitan, dengan pangkat letnan satu.

Pada 1956 Dani dikirim ke Andover, Inggris untuk belajar di Royal Air Force Staff College. Ketika itu dia diberi pangkat acting kapten. Pulang dari Inggris, dia dijadikan Asisten Perwira Staf bidang operasi. Dalam krisis PRRI/Permesta, Omar Dani dengan pangkat mayor ikut serta memimpin operasi udara.





Karier Omar Dani tergolong melesat di AURI. Di tahun 1960, dengan pangkat letnan kolonel, Omar Dani dijadikan Direktur Operasi AURI. Pada awal Januari 1961 dia naik lagi jadi kolonel udara. Perwira didikan TOLOA lain yang jadi kolonel kala itu baru Makki Perdanakusumah, adik dari Abdul Halim Perdanakusumah. Kawan lainnya yang didikan TALOA kebanyakan masih mayor.

Usia Omar Dani belum genap 38 ketika dijadikan Menteri/Panglima Angkatan Udara pada 19 Januari 1962. Belum genap 12 tahun sejak dirinya belajar terbang, Dani sudah jadi orang nomor satu di AURI.

Sebagai panglima, Omar Dani terbilang loyal kepada presiden, begitu juga angkatan yang dipimpinnya. Sukarno, yang “bermusuhan” dengan Angkatan Darat, terlalu jauh menyeret Angkatan Udara ke dunia politik.


Setelah Sukarno dilengserkan, Omar Dani tak pernah punya nama baik lagi. Segala peran dan jasanya dilupakan atau sengaja dihilangkan. Chappy Hakim, KSAU periode 2002-2005, dalam buku Awas Ketabrak Pesawat Terbang! (2009: 183) menyebut di zaman Orde Baru, dalam foto jajaran mantan KSAU di Museum Angkatan Udara di Yogyakarta, foto Omar Dani tak ada.

“Ada foto KSAU pertama tetapi langsung kepada KSAU ketiga, dan seterusnya,” tulis Chappy Hakim.

Kata Profesor Ayatrohaedi, seperti dikutip Chappy, “cara menghitung Orde Baru memang ajaib: dari satu langsung tiga.”

Omar Dani meninggal pada 24 Juli 2009, tepat hari ini 10 tahun lalu. Historiografi pasca-Orde Baru pelan-pelan membuka tabir peran penting Omar Dani di Angkatan Udara.

==========

Dalam artikel ini, sebelumnya disebutkan bahwa pangkalan udara Maospati berada di Madiun. Redaksi telah mengoreksi kekeliruan dalam artikel ini dengan menggantinya menjadi Magetan.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight