Menuju konten utama

Sejarah Kebaya di Masa Kolonial: Busana Perempuan Tiga Etnis

Sejak abad ke-19, kebaya tidak lagi menjadi pakaian khusus perempuan Jawa, tetapi juga busana semua kelas sosial.

Sejarah Kebaya di Masa Kolonial: Busana Perempuan Tiga Etnis
Model berjalan memperagakan busana pada Festival Kebaya di Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (5/12/2018). ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

tirto.id - Dalam Kehidupan Sosial di Batavia (2009: 244), Jean Gelman Taylor pernah menunjukkan bahwa pakaian tradisional Jawa ternyata juga dikenakan oleh orang-orang Eropa. Mereka adalah pendatang baru yang mulai mendiami Pulau Jawa setelah Perang Diponegoro berakhir pada 1830.

“Foto-foto yang berasal dari perempat akhir abad ke-19 menunjukan imigran Eropa tengah bersantai. Para perempuan mengenakan kebaya dan kain sementara para laki-laki mengenakan celana batik dan jaket tanpa kerah. Mereka berpose untuk sebuah pemotretan dengan para pelayan duduk bersila di lantai.”

Lebih jauh, laporan penelitian Taylor lainnya, “Kostum dan Gender di Jawa Kolonial tahun 1800-1940” menunjukan dengan tegas bahwa sejak abad ke-19, kebaya tidak lagi menjadi pakaian khusus perempuan Jawa, tetapi juga busana semua kelas sosial.

Gelombang migrasi perempuan Eropa sesudah 1870 lambat laun juga mengubah gaya kebaya itu. Kebaya tidak lagi menjadi busana perempuan Jawa tetapi juga menjadi pakaian perempuan kulit putih. Saat itu, kebaya masih jauh dari kesan pesta, karena lebih banyak dikenakan sebagai pakaian rumah.

Tulisan Taylor yang disunting oleh Henk Schulte Nordholt ke dalam Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan (2005: 146-147) tersebut merinci perbedaan kebaya yang dikenakan perempuan Eropa dengan kebaya asli Jawa. Mengikuti penggunaan kain yang semakin bervariasi, model jahit kebaya mengalami perubahan dan menghasilkan bentuk kebaya yang semakin pendek.

Busana Semua Perempuan

Joko Soekiman dalam Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa abad 18 sampai Medio abad 20 (2000: 39) menyebutkan bahwa peradaban Eropa di awal kedatangannya ke Nusantara sangat dominan.

Kendati demikian, lanjut Soekiman, peradaban setempat sendiri sudah sangat tinggi sehingga dalam proses akulturasi kebudayaan, kearifan lokal orang Jawa turut menentukan warna kebudayaan baru yang kemudian dikenal dengan nama kebudayaan Indis.

Umumnya, komunitas Eropa di Hindia Belanda yang tinggal jauh dari keramaian kota menikmati kehidupan mewah di tengah adat kebiasaan keluarga Indis. Mereka tinggal di rumah-rumah Belanda yang megah, sarapan di atas piring porselen, menyeduh teh setiap pagi dan sore, tetapi berpakaian layaknya orang Jawa.

Meskipun pakaian yang dikenakan di rumah seolah tidak jauh berbeda dengan para pelayan pribuminya, para perempuan Eropa tetap memberikan sentuhan Barat melalui penggunaan kain yang lebih berkualitas. Hal ini ditunjukkan dengan pemilihan kain brokat dan bahan renda untuk membuat sehelai kebaya agar mirip dengan gaun Eropa.

Menurut kode etik berpakaian masa Kolonial, perempuan Eropa umumnya tidak diperkenankan mengenakan kebaya saat berpergian. Meskipun banyak perempuan Eropa merasa kebaya sangat nyaman dikenakan di wilayah tropis, pada prakteknya mereka masih dituntut untuk memakai kembali korset ketat dan gaun sempit saat bertemu pejabat kolonial.

Peraturan tersebut timbul berkat politik pakaian yang dikeluarkan pemerintah Kolonial pada 1872. Menurut isinya, setiap anggota etnis tertentu diwajibkan mengenakan pakaian adatnya masing-masing saat berada di tempat umum. Di samping sebagai identitas, peraturan tersebut dikeluarkan agar orang-orang dari kelompok etnis lain tidak bisa mengenakan pakaian bergaya barat.

Berdasarkan penelusuran Christine Claudia Lukman, dkk, dalam makalah Kebaya Encim as the Phenomenon of Mimicry in East Indies Dutch Colonial’s Culture (PDF) kemunculan politik etis pada awal abad ke-20 kemudian merombak tata berpakaian masyarakat kolonial tersebut.

Perubahan peraturan ini sangat dirasakan oleh para perempuan Tionghoa. Mereka dapat dengan leluasa mengikuti gaya busana kebaya para perempuan Eropa. Untuk membedakan diri, para perempuan Tionghoa itu membuat kebaya dari kain-kain berwarna merah menyala yang sebelumnya sudah diberi hiasan sulam berbentuk bunga atau binatang selayaknya pakaian tradisional China.

Sejak awal abad 20, kebaya pun tampil beraneka rupa dan dikenakan oleh perempuan dari tiga etnis sekaligus: Jawa, Eropa, dan Tionghoa.

Infografik Kebaya

Infografik Kebaya. tirto.id/Quita

Menjadi Lokal dengan Kebaya

Pamela Pattynama melalui makalah “Keluarga Indis: Kehidupan Sehari-hari Pada Masa Sebelum Perang di Batavia” yang tersunting dalam buku Recalling the Indies: Kebudayaan Kolonial dan Identitas Poskolonial (2004: 47) juga menyinggung perubahan kebiasaan dalam berpakaian kebaya di muka publik pada permulaan abad ke-20.

Menurut Pattynama, para perempuan Eropa mulai dilanda dilema antara identitas kebaratan mereka dengan keinginan menyesuaikan diri dengan iklim setempat melalui pakaian kebaya. Perempuan Eropa yang tinggal di wilayah perkotaan seperti Batavia pun menjadi enggan berbusana kebaya lantaran takut kehilangan jiwa Eropanya.

Kendati demikian, menurut Frances Gouda dalam Dutch Culture Overseas: Politik Kolonial di Hindia Belanda, 1900-1942 (2007: 281), tidak semua perempuan Eropa mau meninggalkan kebaya dan sarung. Bagi keluarga Indis, kebaya masih dianggap penting sebagai bentuk penanda bahwa mereka juga bagian dari kebudayaan setempat.

“Hanya perempuan-perempuan Belanda abad ke-20 yang hidup di pos-pos pedalaman, jauh dari keramaian kumpulan orang-orang Eropa di Batavia, Surabaya, Semarang atau Medan, yang berani mengenakan sarung batik di pinggang mereka di waktu pagi,” tulis Gouda.

Berdasarkan catatan Gouda, peningkatan jumlah perempuan Eropa berkebaya di pedalaman nampaknya berkaitan dengan terbitnya buku panduan kehidupan sehari-hari dalam rumah tangga keluarga Indis. Buku yang dikeluarkan pemerintah kolonial sebagai dampak politik etis tersebut menganjurkan agar para perempuan Eropa mau mendalami dan membekali diri dengan adat setempat.

Di saat bersamaan, panduan tersebut juga mendorong para njonja agar mau berperan sebagai orang tua bagi para pelayan pribuminya. Oleh karena itu, mereka dituntut untuk mempelajari bahasa Melayu dan mengadopsi pakaian adat setempat. Menyambut anjuran tersebut, semakin banyak perempuan Eropa yang berani berjalan-jalan tanpa alas kaki dan hanya mengenakan kebaya dan sarung.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan lainnya dari Indira Ardanareswari

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Nuran Wibisono