15 Mei 1984

Sejarah Karier Ali Moertopo, Raja Intel Zaman Soeharto

Oleh: Petrik Matanasi - 15 Mei 2019
Dibaca Normal 4 menit
Soeharto yang naik daun setelah Sukarno lengser dari kursi kepresidenan, juga dibarengi melejitnya karier Ali Moertopo. Ia dikenal sebagai perwira cerdas.
tirto.id - Sejak awal Soeharto jadi presiden, Ali Moertopo adalah orang kepercayaannya untuk urusan politik. Posisinya sebelum jadi menteri penerangan tak lebih dari wakil kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN), tapi Opsus atau operasi khusus yang dipimpinnya luar biasa.

Sebelum ada Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), di akhir era 1950-an, Ali Moertopo sudah jadi perwira intelijen di Jawa Tengah. Ia juga pernah menjabat komandan kompi Banteng Raider. Ketika Soeharto terlibat Operasi Mandala Trikora pembebasan Irian Barat, Ali Moertopo juga ikut serta.

Ali Moertopo dianggap sebagai orang kepercayaan Soeharto karena—setidaknya menurut Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia (2007: 42)—“reputasinya sebagai perwira yang mampu memecahkan masalah secara efisien.“

“Selama konfrontasi (dengan Malaysia), ia tetap bertanggungjawab kepada Soeharto dan mengepalai unit Operasi Khusus (Opsus), yang bertugas melawan pihak persemakmuran dan, dengan segala kelenturannya, juga berperan penting dalam memimpin negosiasi yang berhasil dalam mengakhiri konflik,” tulis Ken Conboy (hlm. 42-43).

Dalam buku Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966 (2004: 79), Rum Aly bercerita bagaimana Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letnan Jenderal Ahmad Yani bertemu para perwira Kostrad dan menceritakan kekhawatirannya soal konfrontasi Dwikora melawan Malaysia itu. Letnan Kolonel Ali Moertopo ada di sana dan mempertanyakan faedah dari konfrontasi tersebut. Ali mengusulkan agar konfrontasi dihentikan.

“Bagaimana caranya?” tanya Yani.

Ali pun menjawab: “Serahkan pada saya.” Kemudian lahirlah Opsus di tubuh Kostrad pada 1964.

Naik daunnya Soeharto setelah Sukarno lengser perlahan dari kursi kepresidenan, juga dibarengi oleh melejitnya karier Ali Moertopo. Selain diberi jabatan Wakil Kepala BAKIN, Ali pun masih memimpin Opsus yang cakupannya makin membesar.

Ia juga dikenal sebagai salah satu anggota Staf Pribadi (SPRI) dan Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto di tahun-tahun awal Orde baru. Untuk urusan politik, Soeharto sudah sejak dulu percaya Ali Moertopo.

Jago Memecahkan Masalah

Dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD (1988: 210), Harsya Bachtiar menuturkan bahwa Ali Moertopo lulusan SMP zaman kolonial Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) pada 1941, sementara Soeharto hanya pernah dididik di Schakelschool (sekolah sambungan setelah taman sekolah dasar tiga tahun) yang lulusannya kira-kira setara SD kolonial Hollandsch-Inlandsche School (HIS).


Segala organisasi dan partai di masa Orde Baru ada di bawah pengawasan Moertopo. Partai dan ormas dikendalikan sepenuhnya agar sejalan dengan kehendak Soeharto. Dalam otobiografi Soemitro yang disusun oleh Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 74 (1998: 280-281) kesuksesan Opsus di bawah Ali membayang-bayangi gerak Biro Pusat Intelijen (BPI) Soebandrio.

Soeharto juga mempercayakan penggalangan dukungan politik kepada Moertopo. Ia berperan besar dalam penyederhanaan partai-partai politik. Sebelum 1971, ada banyak jumlah partai dan kemudian difusikan jadi 10 partai. Partai-partai ini semakin mengerucut lagi menjadi tiga partai yakni Partai Parsatuan Pembangunan (PPP) yang berisikan eks partai-partai Islam, Partai Demokrasi Indonesia yang berisi partai nasionalis, dan Golongan Karya (Golkar).

“Dalam Pemilu 1971, Ali Moertopo melalui Badan Pengendali Pemilihan Umum (Bappilu) mengambil peranan yang sangat penting bagi kemenangan Golkar,” tulis Akbar Tanjung dalam The Golkar Way (2007:218). Semua tahu Golongan Karya (Golkar) adalah alat pemulus kekuasaan Soeharto selama Orde Baru.

Selain jago memecahkan masalah, menurut Ken Conboy (2007: 146-145) Ali Moertopo adalah seseorang yang berpikir di luar kebiasaan normal.” Operasi Khusus (Opsus) yang dipimpin Ali Moertopo untuk menghabisi komunis di Indonesia disebut-sebut “bersinergi dengan kaum ekstremis berkedok agama” di antaranya adalah kelompok bekas Darul Islam (DI). Sekitar 1968, ada pula kelompok bernama Komando Jihad yang ditangani Pitut Soeharto.

Meski bukan Kepala BAKIN, Ali Moertopo bukan orang orang sembarang di jajaran BAKIN. Opsus membuatnya bisa berbuat lebih ketimbang jenderal-jenderal di Bakin. Opsus yang dipimpinnya begitu dominan, baik untuk urusan luar dan dalam negeri.

Karier Ali di Bakin berakhir sampai 1978. Setelahnya dia menjabat Menteri Penerangan hingga 1983.

Perwira Cerdas

Di mata lawan politiknya, Jenderal Soemitro, Moertopo adalah orang cerdas (1998:182). “Ia cerdas, daya tangkapnya di atas rata-rata dan rajin membaca […] senantiasa mau belajar mengenai segala hal. Ia senang mendengar pendapat orang, karena ia orang intelijen jadi harus mendengar. Teman-teman dekatnya yakin, bila ia dibekali pendidikan yang tinggi maka ia kan memiliki kapasitas mendekati Bung Karno,” aku Soemitro.

Ali Moertopo adalah anak pedagang Blora. Begitu tamat HIS, ia melanjutkan ke MULO hingga lulus. “Dulu, saya tak berangan-angan jadi tentara,” aku Ali Moertopo pada Tempo (28/01/1984). Tiap kali rumahnya anggota keluarga yang berlatar belakang tentara, Ali buang muka. Dia mengaku tak ikutan latihan semi militer ala Jepang. Bahkan ketika orang ramai belajar bahasa Jepang, Ali tak ikut. Dia mengaku hanya tahu sayonara saja.

Menurut Tempo (20/10/2013), Ali Moertopo sempat jadi milisi Belanda pada 1942. Namun dia kabur ketika Belanda hendak kalah. Otobiografi Soemitro menyebut: “katanya (Kasman Singodimedjo) Ali Moertopo dulu bekas tentara Angkatan Laut Belanda, dia bagian dari spionase Nederlands Force Intelligence Service (NEFIS). Kemudian tertangkap di daerah Tegal oleh Hizbullah” (1998:278). Di Tegal, Ali nyaris dibunuh. Tapi komandan Hizbullah malah memanfaatkannya sebagai agen ganda. Benar-tidaknya cerita dari Kasman itu, toh Ali ikut revolusi kemerdekaan Indonesia juga.

“Ali Moertopo dengan kawan-kawannya dalam kesatuan aktif di tengah perang gerilya, baik dalam Aksi Militer Belanda I maupun II, serta penumpasan pemberontakan PKI Muso/Madiun. Dia dan kesatuannya beroperasi di daerah Parakan — Wonosobo,” tulis Krissantono dalam “Ali Moertopo di Atas Panggung Orde Baru” yang terbit di jurnal Prisma edisi khusus ulang tahun ke-20 (1991: 138). Jika dulu tak berangan, setelah revolusi Ali larut dalam tren profesi di zaman itu: jadi tentara. Motivasinya bahkan tinggi.

Meski lulusan MULO, dia tak langsung jadi perwira. Dia tak populer di masa revolusi, dan mulai karier dari bawah. Kepada Tempo (28/01/1984), ia mengatakan, “Ketika masih bergerilya dengan pangkat prajurit, saya hanya menginginkan menjadi sersan mayor. Entah kenapa, tapi rasanya menjadi sersan mayor kok gagah. Setelah saya menjadi bintara, saya memimpikan menjadi kapten.”

“Tuhan, mbok saya diberi kesempatan menjadi kapten,” doa Ali tiap usai salat.

Usai revolusi, tepatnya pada 1950, Ali Moertopo yang masih berpangkat Pembantu Letnan, ditarik dan dilatih oleh Letnan Kolonel Ahmad Yani sebagai anggota Banteng Raiders. Di satuan itu dia pernah jadi komandan kompi dan pangkatnya naik ke posisi Kapten di akhir era 1950-an. Setelah menjadi kapten, Ali mengaku, ambisinya seolah berhenti.


“Waktu masih perwira, saya tidak senang kalau ada orang bicara politik. Kalau teman-teman saya bicara politik, pistol yang saya cabut. Tapi kalau orang bicara teknik dan strategi kemiliteran, atau semangat korps, saya mau meladeninya,” aku Ali kepada Tempo.

Otobiografi Soemitro menyatakan bahwa prestasi Ali di medan pertempuran cukup baik, terutama saat memadamkan pemberontakan PRRI di Sumatera tahun 1958. Ali mengaku “sejak masih prajurit, saya lebih senang berkecimpung di medan pertempuran” (hlm. 279).

Infografik Mozaik Ali Moertopo
Infografik Mozaik Ali Moertopo


Atasan Ali Moertopo di Jawa Tengah adalah Yoga Soegomo yang usianya lebih muda. Yoga Soegomo lahir 12 Mei 1925 dan Ali diperkirakan lahir 1924. Tanggal lahirnya tidak jelas. Ali ingat sekali perkataan Yoga Soegomo soal pangkat.

“Selama di Indonesia ini masih ada kekacauan, pasti kamu naik pangkat. Tapi kalau Indonesia sudah tenang, jangan harap kamu naik pangkat,” kata Yoga seperti ditirukan Ali kepada Tempo (28/01/1984).

Tak salah memang. Selama ada kekacauan maka seorang tentara berpeluang naik pangkat dengan cepat. Di zaman KNIL, seorang perwira bisa naik pangkat per sepuluh tahun. Di TNI zaman kini, empat tahun sekali seorang tentara bisa naik pangkat.


Ketika menumpas PRRI, “Yoga mengusulkan kepada panglima agar Ali Moertopo mendampinginya sebagai Kepala Staf menggantikan Katamso. Usul tersebut diterima dan Ali berangkat ke Bukittinggi, sementara pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor Lokal,” tulis B. Wiwoho dan ‎Bandjar Chaeruddin dalam buku Memoar Jenderal Yoga (1990: 104). Setelah PRRI ditumpas dalam waktu singkat, pangkat Ali naik jadi Mayor. Pada 1965, posisinya sudah Letnan Kolonel.

Masih menurut otobiografi Soemitro (hlm. 280), Ali Moertopo “tiba-tiba muncul laksana jatuh dari langit. Saya mendengar namanya ketika dia menjadi staf pribadi Presiden (SPRI) bersama-sama Jenderal Soedjono Hoemardani dan Jenderal Soerjo.”

Dari kolonel, pangkatnya terus melejit hingga Brigadir Jenderal, kemudian Mayor Jenderal. “Dari militer kok bisa menjadi menteri, lalu menjadi pejabat lagi di DPA. Waduh, senangnya tak terkirakan. Ini merupakan pengalaman yang tidak mudah tercapai teman-teman lain,” ujar Ali Moertopo dengan bangga pada Tempo, sebelum meninggal pada 15 Mei 1984, tepat hari ini 35 tahun lalu, di Jakarta.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 2 Mei 2018 dengan judul "Jalan Karier Ali Moertopo: Spymaster Daripada Soeharto". Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Windu Jusuf