Sejarah Isteri Sedar, Pelopor Gerakan Feminisme di Indonesia

Infografik Pelopor gerakan Feminisme di Indonesia
Perhimpunan Isteri Sedar. FOTO/kebudayaan.kemdikbud.go.id
Oleh: Indira Ardanareswari - 23 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Isteri Sedar dianggap sebagai gerakan perempuan paling progresif sebelum Kemerdekaan.
tirto.id - “Mengapa orang berpikir bahwa seorang pria yang dikendalikan oleh nafsu akan dapat disembuhkan jika diberi kesempatan untuk berpoligami? Ia mungkin juga ingin mengambil istri dari orang lain atau berhubungan seks dengan seorang pelacur.”

Kecaman tersebut dikeluarkan oleh Suwarni Pringgodigdo dalam sebuah tulisan pada 1937 berjudul “Perlindoengan dalam Perkawinan”, sebagaimana dikutip oleh Susan Blackburn dalam Women and the State in Modern Indonesia (2004: 121).

Suwarni memang terkenal ketat soal poligami, terlebih soal kemerdekaan perempuan. Sejak tahun 1930-an, perhatiannya yang utama ialah membentuk gerakan nasionalis kaum perempuan. Menurut Suwarni, agar dapat memenangkan kemerdekaan nasional maka sepatutnya antara laki-laki dan perempuan diberikan persamaan dalam hal penghargaan.

Sikap keras Suwarni kemudian mengantarkannya menjadi ketua Isteri Sedar, sebuah organisasi perempuan sekuler yang berdiri di jalur radikal. Organisasi ini sebenarnya sudah berkegiatan sejak 1927 tetapi baru diresmikan pada 22 Maret 1930 di Bandung. Adapun misi utama Isteri Sedar ialah melekaskan dan menyempurnakan Indonesia merdeka.

Kongres Perempuan Indonesia pertama tahun 1928 memang sukses besar melahirkan lebih banyak gerakan perempuan progresif. Kendati demikian, perempuan pada masa itu agaknya masih enggan melepas adat dan tradisi yang menuntut kepatuhan kepada kaum lelaki. Lain halnya dengan Isteri Sedar yang punya keterikatan dengan pemikiran-pemikiran feminis Barat.

Ricuh di Kongres Perempuan

Berdasarkan tulisan Amelia Fauzia, dkk, dalam Tentang Perempuan Islam: Wacana dan Gerakan (2004: 43), diketahui bahwa berdirinya Isteri Sedar menandai babak baru pergerakan perempuan Indonesia yang diwarnai perdebatan dan pertentangan. Kaum perempuan, khususnya yang datang dari organisasi Isteri Sedar, menjadi lebih blak-blakan saat menentang isu poligami.



Pertentangan semacam ini nampak jelas dalam Kongres Perempuan Indonesia II yang diadakan pada 20-24 Juli 1935 di Jakarta. Pada kesempatan itu, Ratna Sari mewakili seksi wanita Persatuan Muslimin Indonesia (Permi) dari Sumatera Barat menyampaikan pidato yang berapi-api tentang poligami sebagai kewajiban perempuan. Hal ini serta merta mematik perasaan tidak nyaman sebagian perempuan, namun sedikit yang berani mendebat.

“Perempuan Minangkabau ini penuh semangat, sangat nasionalis, dan Islam tegar. Ia mengenakan kerudung dan busana tradisional Islam. Kami semua menjadi khawatir. Bagaimana kira-kira reaksi Ibu Pringgodigdo,” tutur Maria Ulfah kepada Saskia Wieringa dalam Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI (2010: 138).

Kekhawatiran Maria menjadi kenyataan. Seperti yang dikisahkan Gadis Rasid dalam Maria Ulfah Subadio: Pembela Kaumnya (1982: 53), Suwarni Pringgodigdo tanpa ragu langsung menyerbu panggung. Dia sangat marah terhadap ucapan Ratna Sari.

Amarah Suwarni lantas berlanjut menyerang laki-laki yang disebutnya mirip seperti ayam jago yang suka mengumpulkan perempuan. Setiap kali sebutan “ayam jago” muncul, sejumlah laki-laki yang duduk di barisan belakang mulai gaduh dan menirukan suara kokoh ayam jantan. Akibatnya, peserta lain tak kuasa menahan tawa kecil.

Hati Suwarni pun semakin panas dan suaranya kian melengking. Setelah Suwarni turun podium, anggota Isteri Sedar beriringan berjalan keluar ruangan sebagai bentuk protes. Mereka berhasil dibujuk untuk kembali setelah panitia acara meyakinkan bahwa prasaran Ratna Sari tidak akan dibahas sepanjang sisa kongres.

Dianggap Kelewat Galak


Sikap Isteri Sedar yang menentang pidato Ratna Sari sebenarnya sudah bisa tercium sejak sebelum kongres kedua. Pada Kongres Perempuan pertama, sikap serupa sudah pernah datang dari kelompok perempuan terpelajar seperti Siti Soendari dan barisan Wanita Khatolik, meskipun tidak seriuh apa yang dilakukan Isteri Sedar.

Hasim Adnan dalam “Membungkam Deru Bising Drumband di Bumi Prihiyangan” yang disunting Budi Susanto ke dalam Sisi Senyap Politik Bising (2007: 51) pernah menyebut Isteri Sedar sebagai gerakan perempuan paling progresif sebelum Kemerdekaan, bahkan bisa dibilang paling galak. Dibandingkan organisasi-organisasi dalam Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII) yang dibentuk selepas Kongres Perempuan pertama, Isteri Sedar satu-satunya yang paling keras menuntut perubahan mendasar tanpa kompromi.

“Kami dari Isteri Indonesia lebih dapat mengakomodasi pendapat kaum perempuan Islam daripada Isteri Sedar. Saya sendiri juga menghendaki monogami, tetapi saya tidak ingin menentang pendirian perempuan Islam,” kata Maria Ulfah, kembali mengutip Wieringa.



Akibat perbedaan ideologi, sejak semula Isteri Sedar memang menolak bergabung dengan PPII. Mereka tidak percaya kepada perbedaan agama dan minat sosial yang terdapat dalam federasi. Bagi Isteri Sedar, bekerjasama dengan sayap perempuan organisasi Islam justru dianggap dapat melemahkan sikap anti-poligami yang sedari awal menjadi dasar organisasi, sebagaimana diutarakan Elizabeth Martyn dalam The Women's Movement in Postcolonial Indonesia: Gender and Nation in a New Democracy (2004: 42).



Menurut penelusuran Barbara Hatley dan Susan Blackburn yang tersari dalam makalah “Representations of Women’s Roles in Household and Society in Indonesian Women’s Writing of the 1930s,” sejak Agustus 1930, Isteri Sedar sudah mulai konsisten mempublikasikan pemikiran-pemikiran para anggotanya melalui majalah Sedar yang terbit di Jakarta.

Makalah yang disunting Marleen Nolten dan Janet Rodenburg ke dalam Women and Households in Indonesia: Cultural Notions and Social Practices (2000: 48) itu menyebutkan bahwa dari sekian banyak publikasi Isteri Sedar, di antaranya terdapat kritikan buat organisasi-organisasi perempuan lain yang hanya mengarahkan para anggotanya untuk menjadi ibu rumah tangga yang sempurna.

“Jika perempuan diajar berpikir bahwa perkawinan itu tujuan hidupnya dan pekerjaan rumah tangga itu hanya menjadi tanggung jawabnya, maka mereka itu tidak dididik bekerja secara cerdas dengan otak dan tubuhnya. Mendidik bekerja dengan cerdas akan memberikan [mereka] senjata untuk meraih kebebasan ekonomi,” tutur Suwarni seperti dikutip dari Wieringa.


Penelusuran Wieringa menyebut Suwarni banyak belajar dan membaca Charlotte Perkins-Stetson, feminis Amerika yang juga seorang penulis novel. Dari sanalah, Suwarni yakin bahwa wawasan kebanyakan organisasi perempuan Indonesia sebelum Kemerdekaan masih sangat sempit karena hanya berkenan mendiskusikan masalah rumah tangga. Akibatnya, Isteri Sedar berulang kali mencela PPII yang dianggap tidak lebih dari perkumpulan istri bangsawan dan putri keluarga menak.

Bagi Isteri Sedar, kemerdekaan perempuan berkaitan pula dengan kemerdekaan bangsanya. Sejak tahun 1932, Suwarni Pringgodigdo sudah memamerkan rambu-rambu agar perempuan bergabung ke dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Suwarni banyak mengutip Bung Karno dan menggunakan istilah perempuan marheinis untuk menyebut anggota Isteri Sedar.

Pada 4 Juni 1950, Isteri Sedar memutuskan untuk melebur diri ke dalam organisasi Gerakan Wanita Sedar (Gerwis), yang kemudian berubah nama menjadi Gerwani. Cita-cita Isteri Sedar untuk membawa perempuan terlibat dalam usaha mencapai gerakan nasional kemudian dimulai dari titik ini.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight