8 Desember 1987

Sejarah Intifada 1987: Lemparan Batu Palestina Menampol Israel

Oleh: Husein Abdulsalam - 8 Desember 2018
Dibaca Normal 4 menit
Ketika perlawanan militer mustahil dilakukan, Intifada adalah solusi paling mungkin bagi rakyat Palestina.
tirto.id - Pada 8 Desember 1987, tepat hari ini 31 tahun lalu, Taleb Abu Zaid dan tiga rekannya sesama orang Palestina meninggal. Sebuah truk pengangkut tank Israel menabrak dua mobil yang mereka tumpangi. Akibat tabrakan itu, 10 orang lainnya juga luka-luka, termasuk Jawad Abu Zaid, saudara kandung Taleb. Peristiwa ini kemudian sangat dikenang dalam sejarah konflik Israel-Palestina.

Mohammad Abu Zaid, putra Taleb, tidak pernah melupakan peristiwa itu. Ketika keluarganya diberitahu soal kematian Taleb, orang-orang sudah tumpah ke jalan. Kerumunan massa memuncak saat pemakaman jenazah. Middle East Monitor mencatat 10 ribu orang hadir di sana.

Jenazah Taleb dimakamkan di Jabalya, kamp pengungsi Palestina terbesar di Gaza. Begitu juga tiga jenazah lain korban tabrakan itu. Tidak lagi sekadar seremoni melepas yang mati, pemakaman telah menjadi sebuah demonstrasi. Demonstran menyerang pos polisi kamp, sementara tentara Israel menembaki dan melemparkan gas air mata ke mereka.

Dalam sepuluh hari, demonstrasi menjalar ke Tepi Barat. Sedangkan pada 16 Desember 1987, para pedagang Palestina di Yerusalem bagian timur menutup toko mereka sebagai simbol pemogokan.

Dalam demonstrasi, baik orang dewasa maupun anak-anak memblokade jalan, membakar ban, serta, yang paling ikonik, melempari tentara dan penduduk Israel dengan batu dan bom molotov. Inilah Intifada (secara harfiah berarti "guncangan")—perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel atas wilayahnya.

"Meskipun aku baru berusia 12 tahun, aku punya perasaan mendua soal kewajiban terhadap keluarga dan intifada. Aku mulai terlibat lempar batu ke tentara Israel yang menduduki [wilayah kami]. Aku ditangkap tiga kali karena melemparkan batu ke arah tentara, dan akhirnya ditahan. Aku ditahan di sana dari pagi hingga sore selama hampir satu tahun," ujar Mohammad Abu Zaid kepada The New Arab.

Gaza dan Tepi Barat Membara

Demonstrasi yang dilancarkan orang-orang Palestina dinilai sebagai tindak kerusuhan oleh pihak Israel.

Tentara Israel tidak segan menghujani demonstran Palestina dengan tembakan. Hal ini terjadi sejak sehari setelah pemakaman. Pada 9 Desember 1987, tentara Israel menembaki para demonstran di Gaza. Sebanyak 16 orang luka-luka dan seorang pemuda berumur 17, Hatem Abu Sisi, meninggal.

Kemudian, pada 23 Desember 1987, Israel memberlakukan kebijakan penangkapan terhadap demonstran Palestina. Alhasil, menurut laporan New York Times, lebih dari 18 orang ditahan. Sedangkan pada 12 Januari 1988, Israel menerapkan jam malam sebagai upaya menghukum orang Palestina secara kolektif.

Ann M. Lesch, peneliti politik yang sekarang menjadi profesor emeritus bidang Studi Politik di American University in Cairo, menuliskan dalam makalahnya, "Prelude to the Uprising in the Gaza Strip" (1990), bahwa demonstrasi terus berlanjut di Gaza selama berbulan-bulan, sementara pihak Israel memberlakukan jam malam dan pihak Palestina mengalami cedera dan meninggal.

"Meskipun diberlakukan jam malam, warga Palestina bergerak di dalam kamp dan kadang berdemonstrasi," sebut Lesch.

Data International Herald Tribune edisi 1 September 1989, sebagaimana dikutip New Internationalist, mencatat 23.092 demonstrasi terjadi di wilayah Palestina yang diduduki Israel sejak Intifada dimulai hingga tutup tahun 1988.

Pusat informasi Israel untuk Hak Asasi Manusia di wilayah pendudukan, B'Tselem, mencatat, sejak 9 Desember 1987 hingga akhir 1988, sebanyak 311 orang Palestina mati dibunuh aparat keamanan Israel. Sedangkan 15 orang Palestina lainnya mati dibunuh sipil Israel. Dari dua daftar itu, sebanyak 55 di antaranya berumur di bawah 17.

Sementara itu, pada masa yang sama, 6 orang sipil dan 4 aparat keamanan Israel dibunuh orang Palestina. Sebanyak 3 orang sipil di situ berumur di bawah 17.

Selama Intifada, foto dan video berperan penting dalam menunjukkan perlakuan brutal tentara Israel kepada demonstran Palestina.

Sebuah foto merekam seorang perempuan melemparkan batu ke arah pasukan Israel di Beit Sahour, Tepi Barat. Perempuan itu berkemeja hitam, bersyal kuning, dan menenteng sepatu kuning berhak tinggi. Peristiwa itu dipotret pada 1987 oleh fotografer kelahiran Iran, Alfred Yaghobzadeh.

Sedangkan Sana Hussein menuliskan di Middle East Monitor bahwa sebuah video yang beredar pada 1988 merekam aparat militer Israel memukuli dua remaja Palestina dan dengan sengaja mematahkan lengan mereka.

"Citra Israel sebagai underdog, sebagai sebuah bangsa Yahudi yang dikelilingi oleh tetangga-tetangga Arab yang memusuhinya, secara perlahan-lahan berbalik arah," ujar Hussein.

Gaza Sudah Panas Sebelum 1987

Israel mulai menduduki sebagian wilayah Palestina pada 1948. Sisa wilayah yang belum diambil semacam Tepi Barat, Yerusalem bagian timur, Gaza, Dataran Tinggi Golan (Suriah), dan Semenanjung Sinai (Mesir) dikuasai Israel pada 1967 melalui Perang Enam Hari.

Tahun 1987 menandai 20 tahun pendudukan Israrel atas wilayah Gaza. Hingga Desember 1987, sebanyak 2.200 penduduk Israel bersenjata menduduki 40 persen wilayah Gaza, sementara 650.000 orang Palestina menghuni 60 persen bagian lainnya.

Menurut Ann M. Lesch, dunia luar memandang Intifada sebagai letusan yang terjadi setelah masa-masa sunyi. Gaza dipandang bukan sebagai lokus yang cocok untuk protes. Ada juga yang menganggap orang-orang Palestina di Gaza masih trauma setelah protes pada warsa 1981-1982 yang dilancarkan sejumlah profesional dan pengurus kota diadang Israel.

Namun, tidak lama sebelum 1987, Lesch mencatat penguatan organisasi orang-orang Palestina di Gaza. Pelbagai konfrontasi dengan kekerasan di Gaza pun teleh meningkat jelang 1987.

Meski dilarang Israel, Serikat Pekerja Konstruksi dan Tukang Kayu mengadakan pemilihan pengurus baru pada 21 Februari 1987. Pemilihan pengurus baru juga dilaksanakan Serikat Pekerja Pelayanan Publik dan Komersil dua bulan selepasnya. Dua serikat ini, dan empat serikat pekerja lainnya, berafiliasi ke Federasi Buruh Palestina yang berdiri pada 1964, namun dilarang Israel pada 1967, dan dibolehkan beroperasi lagi pada 1980 dengan batas yang amat merugikan serikat.

Lesch juga menunjukkan peran aktivis sosial di Gaza menjadi lebih menonjol pada 1987. Aktivis itu berupaya merangkul kekuatan politik yang beragam di Palestina. Misalnya, pada Februari 1987, Federation of Charitable Societies memulai pengumpulan donasi untuk pengungsi Palestina di Libanon.

Sementara itu, sidang Dewan Nasional Palestina (Palestine National Concil/PNC) yang digelar pada April 1987 memecah kebuntuan di Organisasi Pembebasan Palestina (Palestine Liberation Organization/PLO)—organisasi payung berisi berbagai faksi yang membela Palestina sejak berdirinya negara Israel.

Hasil sidang itu: Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) dan Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina (DFLP)—faksi kiri dalam PLO—mendapat jatah kursinya lagi di PNC setelah diboikot selama 4 tahun, sedangkan Partai Komunis Palestina bergabung dalam badan eksekutif PLO untuk pertama kalinya.


Tindakan aparat Israel menangkapi pemimpin gerakan mahasiswa dan pengajar di kampus juga memicu demonstrasi sepanjang akhir 1986 hingga medio 1987. Mahasiswa yang ditangkap itu antara lain pemimpin Shahiba, sayap gerakan Fatah besutan Yasser Arafat, pada 13 Desember 1986. Aparat Israel juga menangkap aktivis Islamic Jihad, Abdel Aziz Odeh, pada Oktober 1987 dengan dalih menghina Israel dalam ceramah salat jumat.

Sepanjang pertengahan Juni hingga Oktober 1987, anggota Islamic Jihad melarikan diri dari penjara. Sejumlah anggota organisasi itu juga melancarkan aksi teror dengan menarget aparat militer Israel.

Sementara itu, ketegangan antara orang-orang Palestina dan pemukim Israel meningkat sejak awal 1987. Sebagai contoh. Selama musim semi, beberapa kali orang Palestina melemparkan batu ke mobil-mobil Israel; granat ke sebuah bus Israel; menusuk pemukim Israel di Gaza City; dan menaruh bahan peledak di bawah sebuah mobil Israel dekat pemukiman Gus Qativ.

Infografik Mozaik Gerakan Intifada

Intifada 1987: Panci Presto Gaza yang Meledak

Lesch menyitir artikel Avi Binyahi di al-Ishmar untuk melukiskan saripati Intifada. Atas rangkaian peristiwa sebelum 8 Desember 1987, menurutnya, Intifada laiknya pressure cooker—alat masak yang di Indonesia kerap disebut panci presto—meledak.

"Dasar terjadinya Intifada terletak di transformasi sosial 1980-an dan aktivisme yang bergejolak pada 1987," sebut Lesch.

Memasuki 1988, melalui Unified National Leadership of Uprising (UNLU), pelbagai aktivis organisasi yang memperjuangkan Palestina berusaha mengorganisasi Intifada. UNLU berisi Fatah, PFLP, DFLP, dan Partai Komunis Palestina. Islamic Jihad juga berkoordinasi dengan UNLU di Gaza. Sementara Ikhwanul Muslimin tidak masuk UNLU. Pada 1988, Ikhwanul Muslimin membentuk Hamas.

Pada 20 Agustus 1993, Yasser Arafat (Fatah), atas nama PLO, dan Yitzak Rabin Perdana Menteri Israel, menandatangani kesepakatan perdamaian Palestina-Israel di Oslo. Lalu, pada 10 September 1993, Israel mengakui PLO sebagai perwakilan sah warga Palestina, sementara PLO mengakui eksistensi Israel. Tahun 1993 kerap disebut tahun penutup Intifada pertama sebab ada Intifada kedua (September 2000-Februari 1993).

Selama Intifada pertama, B'Tselem menyatakan 1.070 orang Palestina dibunuh tentara Israel dan 49 lainnya mati di tangan sipil Israel. Sebaliknya, 47 sipil dan 32 tentara Israel dibunuh orang Palestina.

Dalam esai yang ditulisnya pada 1989, Edward Said, orang Palestina yang hidup eksil di Amerika Serikat, menyebut Intifada sebagai "insureksi antikolonial yang paling impresif dan displin pada abad [ke-20] ini."

Baca juga artikel terkait KONFLIK ISRAEL PALESTINA atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Politik)


Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan