Sejarah Hidup Romahurmuziy: Putra Keluarga Terhormat Terjerat KPK

Ketua Umum DPP PPP Romahurmuziy. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/ama/16.
Oleh: Iswara N Raditya - 16 Maret 2019
Dibaca Normal 4 menit
Romahurmuziy terlahir dari keluarga dengan riwayat sejarah yang membanggakan. Kini ia ditangkap KPK.
tirto.id - Bakat kepemimpinan Romahurmuziy sudah terlihat sejak muda. Ia adalah Ketua OSIS di sekolahnya, SMA Negeri 1 Yogyakarta. Sekolah ini termasuk SMA papan atas, bahkan boleh dibilang yang terbaik, di kota pelajar. Tidak sembarang orang bisa menjadi murid di sekolah berjuluk SMA Teladan ini.

Rommy, sapaan akrab Romahurmuziy, memang dikenal sebagai remaja yang cerdas, pandai bergaul, berjiwa pemimpin, dan berprestasi. Tahun 1992, misalnya, ia sukses mengharumkan nama sekolahnya setelah meraih predikat Siswa Teladan Tingkat Nasional. Lulus SMA pada 1993, Rommy kemudian diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan menuntaskan studinya hingga magister.

Sempat bekerja di beberapa perusahaan, juga pernah menjadi dosen Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, peruntungan Romahurmuziy ternyata ada di politik. Dari sinilah namanya merangkak pelan-pelan dan dengan segala dinamikanya Rommy mencapai posisi sebagai Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Hingga akhirnya, kejutan itu terjadi. Romahurmuziy, pemimpin salah satu partai politik Islam paling berpengaruh di Indonesia dan berpotensi mendapatkan posisi politik yang lebih bagus usai Pilpres 2019, ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Surabaya pada 15 Maret 2019 lalu.

Garis Keluarga Terhormat

Dilahirkan di Sleman, Yogyakarta, dengan nama Muchammad Romahurmuziy, tanggal 10 September 1974, ia berasal dari keluarga yang amat terhormat. Moyang, kakek, hingga ayah dan ibu Rommy merupakan tokoh-tokoh yang berpengaruh serta memiliki rekam-jejak kiprah yang mengagumkan.

Romahurmuziy terlahir di Yogyakarta. Ia punya ikatan batin yang kuat dengan Nahdlatul Ulama (NU) dari leluhurnya yang asli Jombang, Jawa Timur. Kakek moyang Rommy, K.H. Wahab Hasbullah, adalah penggagas NU bersama K.H. Hasyim Asy’ari dan beberapa ulama besar lainnya.


Dikutip dari buku K.H. Abdul Wahab Hasbullah: Bapak dan Pendiri NU (1972) karya Saifuddin Zuhri, para kiai dari berbagai daerah berkumpul di kediaman Kiai Wahab di Surabaya pada 31 Januari 1926. Di sinilah Nahdlatul Ulama dideklarasikan. Kini, NU merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Putra K.H. Wahab Hasbullah, yakni Muhammad Wahib Wahab, yang tidak lain adalah kakek Romahurmuziy, adalah seorang pejuang kemerdekaan yang kemudian turut menegakkan pemerintahan Indonesia pada masa-masa awal.

Saifuddin Zuhri dalam bukunya yang lain bertajuk Berangkat dari Pesantren (2013) mengungkapkan Wahib Wahab pernah menjadi komandan PETA (Pembela Tanah Air) pada zaman pendudukan Jepang. Jelang Indonesia merdeka, kakek Rommy ini memimpin Laskar Hizbullah Surabaya, merebut senjata dari serdadu-serdadu Jepang, lalu turut berjuang mempertahankan kemerdekaan dari Belanda yang ingin berkuasa kembali.

Selain tentu saja memiliki andil besar di NU, K.H. Wahib Wahab juga berperan di pemerintahan Orde Lama. Presiden Sukarno menunjuknya menduduki jabatan Menteri Agama RI dari 1959 hingga 1962. Wahib Wahab juga dipercaya menjadi menteri penghubung sipil dengan militer.

Ayah Rommy, yaitu Prof. Dr. K.H. M. Tolchah Mansoer, juga tak kalah hebat. Ia merupakan pendiri Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Rais Syuriah PBNU periode 1984-1986, juga guru besar hukum Islam IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tolchah berkiprah pula di kancah politik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) mewakili Partai NU dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Begitupula dengan sang ibunda, Umroh Machfudzoh, yang turut mengguratkan jejak kemilau dalam sejarah NU maupun dalam riwayat bangsa Indonesia. Greg Fealy dan ‎Greg Barton dalam Nahdlatul Ulama: Traditional Islam and Modernity in Indonesia (1996) mengungkapkan Umroh Machfudzoh adalah cucu K.H. Wahab Hasbullah serta putri sulung K.H. Wahib Wahab.

Ibunda tercinta Romahurmuziy ini merupakan salah satu perempuan terbaik yang pernah dimiliki NU. Umroh Machfudzoh adalah pendiri IPPNU (Ikatan Pelajar Putri NU) serta sempat menjabat Ketua PP Wanita Persatuan. Di ranah politik, ia pernah duduk sebagai anggota DPR dari Fraksi PPP.

Sampai di sini, terlihat betapa hebatnya garis keturunan keluarga Romahurmuziy. Rommy sebetulnya juga sudah berada di jalur semestinya sebelum publik dikejutkan dengan hasil operasi tangkap tangan KPK yang ternyata menempatkan namanya sebagai sosok yang terciduk di Jumat keramat itu.

Jejak Politik Gus Rommy

Romahurmuziy sudah merintis bakat berpolitiknya sejak muda. Setelah menjadi Ketua OSIS di SMA 1 Yogyakarta, pengalaman organisasi Rommy semakin bertambah semasa kuliah di ITB. Ia adalah pemimpin redaksi Majalah Mahasiswa PILAR, juga Ketua Bidang Pengkajian Himpunan Mahasiswa Teknik Fisika ITB periode 1995-1996.

Pada 1998 Romahurmuziy sempat bergabung dengan Garda Bangsa di bawah naungan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang terbentuk tidak lama setelah runtuhnya rezim Orde Baru kala itu. Namun, pilihan politik Rommy akhirnya jatuh kepada PPP, melanjutkan kiprah sang ibunda.

Suryadharma Ali (SDA) adalah orang yang punya andil membimbing Rommy menapaki jalur-jalur politik tanah air. Ketika SDA menjadi Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dalam periode pertama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2004-2009, Rommy masuk dalam jajaran staf khususnya.

Tahun 2007, seperti ditulis Hanta Yuda A.R. dalam Jejak Para Pemimpin (2014), Suryadharma Ali terpilih sebagai Ketua Umum PPP untuk menggantikan Hamzah Haz. Karier politik Rommy bersama partai Islam berlambang Kakbah ini pun turut terdongkrak. Ia menempati posisi Wakil Sekjen DPP PPP.


PPP membawa Romahurmuziy merambah parlemen. Sejak 2009, ia menjabat sebagai Sekretaris Fraksi PPP di DPR-RI. Dalam Muktamar VII PPP tahun 2011, Rommy terpilih sebagai Sekjen DPP partai politik pimpinan Suryadharma Ali ini.

Level karier Rommy sebagai wakil rakyat terus meningkat. Terhitung tanggal 30 Mei 2011, ia mengemban jabatan sebagai Ketua Komisi IV DPR-RI yang membidangi masalah pertanian, perkebunan, kehutanan, pangan, kelautan, hingga perikanan. Di parlemen, Rommy juga pernah masuk jajaran anggota Badan Anggaran DPR, serta anggota Komisi III dan XI DPR-RI.

Pertengahan tahun 2014, Suryadharma Ali ditetapkan tersangka oleh KPK dalam kasus korupsi dana haji. SDA yang kala itu menjabat sebagai Menteri Agama RI di pemerintahan SBY periode kedua langsung meletakkan jabatannya, juga mundur dari kursi Ketua Umum PPP.

Sepeninggal SDA, keguncangan melanda PPP. Terjadi friksi hebat di internal partai yang terpaksa memakai lambang bintang selama era Orde Baru ini. PPP terpecah, antara versi Romahurmuziy dan Djan Faridz. SDA sendiri cenderung berpihak kepada Djan Faridz. Rommy pun memutuskan melawan kehendak mentornya itu.

Akhirnya, setelah melalui serangkaian lika-liku termasuk proses peradilan, Romahurmuziy jadi pemenangnya. Sejak 20 Mei 2016, ia mantap menduduki posisi orang nomor satu di DPP PPP—kendati gejolak di daerah masih kerap terjadi—selain terus berkiprah di DPR. Rommy tercatat sebagai ketua umum partai politik termuda di parlemen.



Daya tawar Romahurmuziy semakin kuat menjelang Pemilu 2019. Setelah membawa gerbong PPP bergabung dengan kubu petahana, Rommy disebut-sebut sebagai salah satu auktor intelektualis yang berhasil mengantarkan Ma’ruf Amin sebagai cawapres untuk mendampingi Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019.

Jika Jokowi kembali memenangkan pilpres nantinya, bukan mustahil Rommy bakal terkena cipratan kenikmatan. Posisi menteri atau jabatan tinggi lainnya boleh jadi sudah menanti. Bahkan, bukan tidak mungkin Rommy dapat berbicara lebih banyak di pemilu berikutnya, tahun 2024 mendatang.

Menuju detik-detik akhir Pilpres 2019 yang kian panas, Rommy justru kena batunya. KPK mencokoknya di Surabaya dalam dugaan kasus jual-beli jabatan di Kementerian Agama. Tentu saja, terlepas nantinya ia terbukti bersalah atau tidak, kejadian ini mencoreng nama besar keluarganya yang sudah terjaga selama beberapa generasi dan melintasi rezim demi rezim.


Terciduknya Rommy oleh KPK juga mengancam karier politiknya ke depan nanti, yang semula amat cerah menjadi terancam musnah. Terlebih lagi, ia kepergok mendekati pilpres, sama seperti seniornya, Suryadharma Ali, yang diciduk jelang Pilpres 2014 silam dan hingga kini masih mendekam di penjara.

Teka-teki masa depan Romahurmuziy menarik untuk dinanti. Apakah ia bakal bernasib serupa dengan Suryadharma Ali, atau malah sanggup lolos dari lubang jarum dan kembali menebar senyum khasnya lebih lebar, mengingat faktor politis di negeri ini yang seringkali mampu mengubah sesuatu dengan drastis dan memantik miris.

Baca juga artikel terkait SEJARAH HIDUP atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Politik)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight