Sejarah Hidup KH Mas Mansoer: Tokoh Muhammadiyah Anggota BPUPKI

Oleh: Ahmad Efendi - 16 Agustus 2021
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah hidup KH Mas Mansoer, tokoh nasional yang berperan dalam kemerdekaan RI.
tirto.id - Kiai Haji (K.H.) Mas Mansoer (selanjutnya disebut Mas Mansoer) dilahirkan di Kampung Sawahan, Surabaya, pada 25 Juni 1896. Ayahnya, Kiai Mas Akhmad Marzoeqi, adalah seorang ulama terkemuka di Jawa Timur dan Madura.

Sementara ibunya bernama Raudhah, seorang perempuan kaya yang berasal dari keluarga Pesantren Sidoresmo Wonokromo Surabaya.

Dalam Tokoh-Tokoh Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (1993) terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pendidikan Mas Mansoer sebagian besar dihabiskan untuk belajar mengenai ilmu agama.

Saat kecil, ia belajar agama pada ayahnya sendiri. Di samping itu, dia juga belajar di Pesantren Sidoresmo, dengan Kiai Muhammad Thaha sebagai gurunya.

Pada 1906, ketika Mas Mansur berusia 10 tahun, dia dikirim oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Demangan, Bangkalan, Madura.

Sepulangnya mondok pada 1908, ia disarankan oleh orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji dan belajar di Makkah. Namun, setelah kurang lebih empat tahun belajar di sana, situasi politik di Saudi memaksanya pindah ke Mesir.

Di Mesir, dia belajar di Perguruan Tinggi Al-Azhar pada Syaikh Ahmad Maskawih. Suasana Mesir pada saat itu sedang gencar-gencarnya membangun dan menumbuhkan semangat kebangkitan nasionalisme dan pembaharuan.

Banyak tokoh memupuk semangat rakyat Mesir, baik melalui media massa maupun pidato. Menurut Soebagijo dalam K.H. Mas Mansur Pembaharu (1982), Mas Mansoer juga memanfaatkan kondisi ini dengan membaca tulisan-tulisan yang tersebar di media massa dan mendengarkan pidato-pidatonya.

Tercatat, ia berada di Mesir selama kurang lebih dua tahun. Sebelum pulang ke tanah air, terlebih dulu dia singgah dulu di Makkah selama satu tahun, dan pada tahun 1915 barulah dia pulang ke Indonesia.

Mas Mansoer dan Pergerakan Nasional


Kepulangan Mas Mansoer ke tanah air dibarengi dengan gelombang kesadaran akan nasionalisme yang terjadi di seluruh dunia. Di Indonesia, bahkan sudah sejak 1908, telah lahir gerakan-gerakan pemuda nasionalis macam Boedi Oetomo.

Akhirnya, Mas Mansoer pun pun langsung ambil bagian ke dalam pergerakan nasional sepulangnya dari Mesir pada 1915.

Ia bergabung dengan organisasi rakyat terbesar di Indonesia pada dekade kedua abad ke-20, Sarekat Islam (SI) pimpinan Hadji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto. Kebetulan, Tjokroaminoto yang sama-sama orang Surabaya, menyambutnya dengan senang hati.

Sebagaimana dijelaskan Darul Aqsa dalam bukunya, K.H. Mas Mansur (1896-1946) Perjuangan dan Pemikirannya (2005), selain bergabung dengan SI, di Surabaya pun, Mas Mansoer dan beberapa tokoh lainnya membentuk Tashwirul Afkar, suatu majelis diskusi di kalangan kaum muda Islam.

Aktivitas di Tashwirul Afkar—yang kerap mendiskusikan soal nasionalisme—menjadi bentuk kecintaan Mas Mansoer kepada bangsanya jauh sebelum kemerdekaan RI tercapai.

Selain itu, Mansoer juga bergerak bersama Muhammadiyah. Sepulang dari Mesir, ia tak langsung ke Surabaya, melainkan menuju Yogyakarta untuk menemui Kiai Haji Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah. Mansoer memang mengagumi sosok dan pemikiran Ahmad Dahlan yang juga pernah belajar di Makkah.

Kiprah Mas Mansoer di Sarekat Islam maupun Muhammadiyah cukup menjanjikan. Di SI, ia dipercaya sebagai penasihat pengurus besar, sejajar dengan tokoh-tokoh lainnya macam Haji Agus Salim, Abdul Muis, juga Ahmad Dahlan.

Sementara di Muhammadiyah, Mas Mansoer menapaki jenjang karier dengan mulus. Dari Ketua Cabang Muhammadiyah Surabaya, Konsul Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur, hingga terpilih sebagai Ketua Umum Muhammadiyah dalam kongres di Yogyakarta pada 1937.

Perjuangan Mempersiapkan dan Mempertahankan Kemerdekaan


Sepak terjang Mas Mansoer dalam memimpin Muhammadiyah membuat namanya jadi melambung. Alhasil, ia terpilih sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dan turut serta merumuskan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam menyiapkan kemerdekaan Indonesia.

Setelah sukses sebagai anggota BPUPKI dan akhirnya proklamasi dibacakan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1945, Mas Mansoer memilih pulang ke Surabaya. Kepulangannya ini tak lain adalah untuk ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan di tanah kelahirannya itu. Kendati sudah merdeka, Belanda tetap datang lagi dengan membonceng Sekutu karena tidak mengakui kemerdekaan tersebut.

Akhirnya, seperti dikutip dari K.H. Mas Mansur (1896-1946) Perjuangan dan Pemikirannya (2005), pada tanggal 10 November 1945, pecah pertempuran di Surabaya.

Dua tokoh yang turut ambil bagian dalam mengobarkan semangat arek-arek Suroboyo kala itu adalah, yang pertama Bung Tomo, sebagai pengobar semangat di medan perang, dan Mas Mansoer, yang bergerak dari balik layar dan kerap dikunjungi para pejuang yang hendak meminta nasihat.

Hingga suatu hari, pasukan Sekutu dan Belanda menyerang Surabaya bagian utara, tempat di mana Mansoer tinggal. Di tengah desingan peluru, Mansoer tetap bertahan di rumahnya. Kondisi raga yang sakit tidak memungkinkannya untuk melawan secara frontal.

Mansoer pun ditangkap dan dibui di penjara Kalisosok. Di balik terali besi, kesehatannya semakin menurun. Pada 25 April 1946, Mas Mansoer menghembuskan napas terakhirnya pada usia 49 tahun. Pemerintah RI kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.


Baca juga artikel terkait KH MAS MANSOER atau tulisan menarik lainnya Ahmad Efendi
(tirto.id - Humaniora)

Kontributor: Ahmad Efendi
Penulis: Ahmad Efendi
Editor: Dipna Videlia Putsanra
DarkLight