Sejarah Hidup Fuad Amin: Wafatnya Sang Penguasa Bangkalan, Madura

Oleh: Iswara N Raditya - 18 September 2019
Dibaca Normal 3 menit
Sejarah hidup Fuad Amin yang wafat pada 16 September 2019 mengguratkan dua sisi kontradiktif: kiai yang sangat disegani dan terpidana korupsi.
tirto.id - Fuad Amin Imron wafat di Rumah Sakit Sutomo Surabaya, Jawa Timur, Senin (16/9/2019) dalam usia 71 tahun karena serangan jantung. Mantan Bupati yang kemudian juga menjabat Ketua DPRD Bangkalan, Madura, Jawa Timur ini menutup sejarah hidupnya sebagai terpidana kasus korupsi.

Kepala Bagian Humas Ditjen Pemasyarakatan, Ade Kusmanto, melalui keterangan tertulis, menjelaskan, Fuad Amin menjalani 7 kali perawatan medis sejak menghuni Lapas Klas 1 Surabaya per 30 November 2017 silam, hingga akhirnya meninggal dunia. Jenazah Fuad Amin dikebumikan di Bangkalan pada Selasa (17/9/2019) pagi.

"Narapidana atas nama Fuad Amin bin Amin Imron telah meninggal dunia di RS dr. Sutomo Surabaya hari ini, Senin (16/9/2019) pukul 16.12 WIB setelah dilakukan tindakan kompresi jantung oleh tim medis RS Sutomo karena mengalami henti jantung mendadak,” jelas Ade Kusmanto.

Hingga tutup usia, Fuad Amin memang masih menyandang status narapidana atas kasus suap dan pencucian uang. Dalam sidang 19 Oktober 2015, Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menjatuhkan vonis 8 tahun penjara dan denda Rp1 miliar terhadap sang penguasa Bangkalan ini.

Vonis besan Wakil Presiden RI 2001-2004 Hamzah Haz yang juga mantan Ketua DPC Partai Gerindra Bangkalan ini diperberat oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta pada 22 September 2017 menjadi 13 tahun penjara. Seluruh aset Fuad Amin juga dirampas untuk negara.

Kiai-Priyayi Sekaligus Jagoan

Fuad Amin Imron lahir di Bangkalan pada 1 September 1948. Ia merupakan sosok berpengaruh di Jawa Timur dan Madura serta berasal dari keluarga yang sangat terpandang, khususnya bagi kaum umat Nahdlatul Ulama (NU) atau Nahdliyin.

“Beliau [Fuad Amin] adalah cicit dari inisiator pendiri NU, Syaichona Kholil, Bangkalan. Beliau kategori inisiator NU pasti kita menghormati seluruh keluarga besar inisiator NU," ucap Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, seperti dikutip Antara, Senin (16/9/2019).


Pengaruh Fuad Amin di Bangkalan memang sangat kuat. Ia merupakan representasi dari kalangan kiai, kaum priayi, sekaligus blater (jawara). Tiga unsur inilah yang menjadi simbol kekuatan dalam kehidupan masyarakat Madura. Dan, Fuad Amin punya semuanya.

Dikutip dari buku Menabur Kharisma Menuai Kuasa (2004) karya Abdur Rozaki, blater adalah komunitas sosial yang memiliki kebiasaan atau adat yang menunjukkan identitas sosial.

Pemaknaan blater dijelaskan dengan lebih lugas oleh A. Latief Wiyata dalam Mencari Madura (2013). Menurutnya, blater adalah jagoan desa yang secara sosial-budaya amat ditakuti oleh seluruh penduduk karena keberaniannya, termasuk melakukan carok.

Dahulu, di pedesaan Madura, lanjut A. Latief Wiyata, sudah menjadi kelaziman bahwa kepala desa selalu dipilih dari seseorang yang sudah dikenal sebagai blater.

Fuad Amin berasal dari keluarga kiai dan priyayi, namun, tulis Abdur Rozaki lewat artikel bertajuk “Sosial Origin dan Politik Kuasa Blater di Madura” dalam kyotoreview.org, secara sosial ia dibesarkan oleh tradisi blater.

Posisi ini membuatnya memiliki pengaruh di dua komunitas terbesar di Madura. Usai Fuad Amin memenangkan Pilkada Kabupaten Bangkalan pada 2003, masyarakat menyebutnya sebagai kiai blater terpilih sebagai bupati.


Sang Penguasa Bangkalan

Fuad Amin merintis kehidupan politik bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sejak 1990. Saat itu, memang hanya PPP satu-satunya partai politik berhaluan Islam. Pada 1996, ia menjadi Ketua DPC PPP Bangkalan menggantikan ayahnya, Kiai Amin Imron.

Kiai Amin Imron dikenal sebagai tokoh PPP berpengaruh di Madura semasa Orde Baru. Dikutip dari Sang Pemimpin: 10 Tahun Kepemimpinan RKH Fuad Amin Imron yang disusun Nico Ainul Yaqin dan kawan-kawan, Fuad Amin mengakui bahwa sang ayah adalah orang yang memperkenalkan dirinya dengan politik praktis.

Pasca-Reformasi 1998 yang menumbangkan rezim Soeharto, muncul banyak partai politik baru, salah satunya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang digagas oleh tokoh-tokoh NU termasuk Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Fuad Amin berada di persimpangan jalan, apakah tetap di PPP melanjutkan kiprah ayahnya, atau pindah ke PKB yang menampilkan Gus Dur selaku tokoh sentral NU kala itu.

Oleh Gus Dur, dikutip dari Radar Madura, Fuad Amin ditawari menjadi pengurus DPP PKB di jajaran Dewan Syuro. Ia pun akhirnya meninggalkan PPP untuk bergabung dengan PKB. Bersama PKB, Fuad Amin melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR/MPR.

Ketika PKB mengalami perpecahan internal pada 2001 dengan munculnya dua versi antara kubu Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Matori Abdul Djalil, Fuad Amin tentu saja mendukung kubu Gus Dur. Ia menjadi Ketua Dewan Syuro PKB Jawa Timur versi Gus Dur.


Bareng PKB pula, Fuad Amin kian kuat menancapkan pengaruhnya setelah terpilih sebagai Bupati Bangkalan masa bakti 2003-2008. Ia memenangkan pilkada lagi dan mengemban jabatan serupa untuk periode 2008-2012.

Setelah tidak menjadi bupati, Fuad Amin tetap berkiprah di kancah perpolitikan Bangkalan, pengaruhnya memang masih sangat kuat. Saat itu, ia bukan lagi sebagai kader PKB. Fuad Amin punya kendaraan politik baru, yakni Partai Gerindra pimpinan Prabowo Subianto.

Diusung Gerindra, Fuad Amin terpilih sebagai Ketua DPRD Bangkalan periode 2014-2019, posisi yang sebelumnya dijabat oleh putranya sendiri, yakni Makmun Ibnu Fuad atau Ra Momon.

Menariknya, Ra Momon inilah yang kemudian menjabat sebagai Bupati Bangkalan pasca Fuad Amin dan menjadi semacam pertukaran posisi antara ayah dengan anak. Dua kursi pucuk pimpinan tertinggi perpolitikan Bangkalan pun dikuasai keluarga Fuad Amin.

Fuad Amin sebagai kader Gerindra mendukung penuh pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa di Pilpres 2014, yang saat itu berhadapan dengan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK). Meskipun gagal menang pilpres, suara Prabowo-Hatta menang di Madura.


Namun, pada akhir 2014, Fuad Amin diciduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena tersangkut dugaan perkara suap. Sejak itu, berbagai kasus tindak penyelewengan yang menyeret namanya terbongkar satu demi satu.

Sang penguasa Bangkalan pun harus menjalani proses hukum yang mengantarkannya ke penjara. Hingga akhirnya, dengan masih menyandang status sebagai narapidana, serangan jantung memungkasi hidup Fuad Amin pada 16 September 2019.

Baca juga artikel terkait SEJARAH POLITIK atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Abdul Aziz
DarkLight