Sejarah Hidup Dewi Dja dari Panggung Sandiwara hingga Hollywood

Dewi Dja. FOTO/Dr Samsi. 1960. Malang: Madju/commons.wikimedia.org/
Oleh: Indira Ardanareswari - 24 September 2020
Dibaca Normal 5 menit
Dewi Dja belajar seni di jalanan, lalu keliling dunia bersama Dardanella. Memperkenalkan kesenian tradisional Indonesia hingga ke Hollywood.
Situasi politik mulai memanas kala kelompok sandiwara Dardanella menggelar tur keliling Eropa pada 1939. Sebelum situasi tambah runyam, rombongan Dardanella buru-buru pindah ke Amerika. Mereka sempat menggelar pertunjukan di New York dengan nama Devi Dja’s Bali dan Java Cultural Dancers sebelum akhirnya bubar.

Sejak itu pula Dewi Dja, bintang utama kelompok Dardanella, terdampar di Amerika. Perang Dunia II menutup jalan pulangnya ke Indonesia.

“Saya ingin pulang ke Indonesia,”demikian cita-cita sederhana Dewi Dja.

Meski begitu, saat perang usai dan Indonesia merdeka, Dewi Dja urung pulang dan kemudian berpindah kewarganegaraan pada 1954. Dja lalu jadi seorang guru tari dan koreografer di Negeri Paman Sam.

Bung Karno pernah menganjurkan agar Dja meninggalkan kewarganegaraan Amerika dan pulang ke Indonesia pada 1959. Lagi-lagi, Dja menolaknya dengan alasan tugasnya sebagai duta kebudayaan Indonesia belum selesai.

Bersama rombongan sandiwara keliling Dardanella, perempuan berperawakan mungil ini pernah menjadi sri panggung yang bersinar sepanjang dekade 1930-an. Riwayatnya di atas panggung menjelajah ke penjuru Indonesia dan tiga benua. Tidak heran jika tokoh-tokoh bangsa seperti Sukarno, Agus Salim, hingga Sutan Sjahrir pernah mengidolakannya dan masih mengingat namanya.

“Aku pun senang sekali sewaktu mereka mengatakan bahwa mereka mengenal namaku, Miss Dja, Dewi Dja. Itu satu-satunya hartaku yang ada: nama,” aku Dewi Dja saat mengenang pertemuan pertamanya dengan Sjahrir tahun 1947.

Kala itu, Dja diminta mendampingi delegasi Indonesia yang hendak memperjuangkan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia dalam Forum Dewan Keamanan PBB di Hotel Commodore, New York (Kompas, 1/1/2000). Akan tetapi, Sjahrir yang ternyata juga pencinta seni malah mengangkat Dja sebagai duta kebudayaan Indonesia. Jadilah Dja dan kawannya yang bernama Wani duduk sejajar bersama delegasi lain.

Dari Jalanan ke Panggung Tonil

Dewi Dja lahir pada 1 Agustus 1914. Soal tempat kelahirannya ada beragam versi. Penulis biografi Ramadhan KH menyebut Dja lahir di Sentul, Yogyakarta. Sementara dalam wawancara dengan majalah Femina yang terbit pada 1982, Dja menyebut Jember sebagai tempatnya lahir. Menurut Ramadhan KH, kerancuan ini disebabkan karena Dja kurang pandai menceritakan kisah hidupnya sendiri.

Selama hidupnya, Dja dikenal dengan banyak nama. Nama aslinya adalah Misria, tetapi karena sejak kecil sakit-sakitan lantas diganti menjadi Soetidjah. Sementara kawan-kawannya sesama pemain sandiwara memanggilnya dengan nama Erni. Di antara sekian nama itu, orang-orang terdekat tetap memanggilnya Idjah atau Djah.

Dja tidak punya latar belakang pendidikan formal. Keluarganya terlalu miskin untuk memasukannya ke sekolah rendah. Saat pertama kali ikut pertunjukan stambul, Dja bahkan masih buta huruf dan mengaku baru belajar membaca ketika usianya sudah dewasa. Namun, kekurangan itu ditutupinya dengan pengalaman hidupnya yang kaya.

Ramadhan dalam roman biografi Gelombang Hidupku, Dewi Dja Dari Dardanella (1982) mengungkapkan kebiasaan Dja menguntit sang kakek Sutiran dan neneknya berkeliling memetik siter. Sambil memegang ujung kebaya sang nenek, Dja kecil membayangkan kelak hidupnya juga berputar di sekitar musik dan tarian.

Hari-hari ikut mengamen berakhir kala Sutiran dapat bantuan modal mendirikan perkumpulan stambul. Seturut Fandy Hutari, perkumpulan stambul itu lalu diberi nama Stambul Pak Adi. Dja juga diajak serta.

“Di sana, Dja mulai mengasah kemampuannya, terutama dalam hal menari dan menyanyi. Mereka berkeliling ke sejumlah daerah di Jawa,” tulis Fandy dalam bunga rampai Para Penghibur: Riwayat 17 Artis Masa Hindia Belanda (2017: 86).

Kesempatan pertama Dja untuk “naik kelas” terjadi pada 1927, kala pendiri kelompok sandiwara Dardanella Willy Klimanof alias Piedro menonton pertunjukan Stambul Pak Adi di Banyuwangi.

Performa dan kecantikan Dja yang tampil menyanyikan lagu berjudul Kopi Susu membuat Piedro terkesan. Tak berapa lama, Piedro mengirim utusan untuk melamar Dja yang saat itu belum genap berusia 14 tahun. Lewat perantara camat Rogojampi, menikahlah Piedro dan Dja. Sejak itu pula Dja bergabung dengan Dardanella.


Wartawan sekaligus penulis sandiwara Andjar Asmara menuturkan bahwa Dja hanya diberi peran-peran kecil selama tahun pertamanya menjadi anggota Dardanella. Dalam tulisan yang terbit di majalah Pedoman (1/10/1958), Andjar mengkisahkan bahwa Piedro takut istrinya itu bermain buruk lantaran tidak bisa membaca naskah. Maka itu, Dja lebih sering menari untuk mengisi jeda pergantian babak di bawah bimbingan Frederik de Kock.

Piedro nampaknya terlalu meremehkan istrinya atau barangkali belum tahu letak bakatnya. Pertunjukan kabaret yang dimainkan Dja bersama Astaman berdasarkan film bisu berjudul Watt en ½ Watt ternyata menuai pujian dari kritikus film dan teater. Surat kabar Bintang Hindia edisi 18 Mei 1929 menyanjung permainan Dja dan menjulukinya sebagai pendatang baru berbakat.

Dja baru mendapatkan peran penting kala Dardanella menggelar pertunjukan di Gedung Thalia Mangga Besar, Batavia. Dalam lakon berjudul De Ross van Serang, Dja berperan sebagai anak gadis yang ditelantarkan oleh ayah penggila judi. Di luar dugaan, Dja sangat menonjol dalam adegan menangis yang kemudian malah melambungkan reputasinya sebagai spesialis sandiwara tragedi.

“Wataknya Miss Dja adalah sebagai tragedienne,” tulis Andjar.

Ketika mula bergabung dengan Dardanella pada 1930, Andjar berjanji kepada Piedro akan mengeluarkan potensi penuh Dja dalam berakting. Untuk itu, Andjar mendedikasikan peran utama perempuan dalam lakon Dr. Samsi kepadanya. Dja pun membuktikan dirinya mampu dan dengan cepat mengungguli reputasi Miss Riboet—primadona pertama kelompok Dardanella.

“Saya melihat dalam diri Miss Dja satu tenaga yang tersembunyi, suatu bibit yang baik dan memberi pengharapan besar untuk kemudian hari. Saya rasa saya sanggup menulis cerita-cerita yang sesuai dengan wataknya,” kata Andjar kepada Piedro.

Malangnya, lantaran terlalu sibuk bekerja, kehidupan Dja jadi sama tragisnya dengan peran-perannya sebagai tragedienne. Selama menikah dengan Piedro, Dja pernah dua kali keguguran dan terpaksa merelakan anak pertamanya meninggal pada usia 7 bulan. Setelahnya, kehidupan rumah tangga keduanya berubah dingin hingga mengakibatkan Piedro gemar main serong dengan sesama anggota rombongan Dardanella.

Pavlova of the Orient

Sebelum menggelar pertunjukan mancanegara pertama di Singapura pada 1931, Dardanella sempat menggelar pertunjukan keliling ke penjuru Indonesia. Pada 1930, Dardanella tiba di Solo dan menggelar pertunjukan di Taman Sriwedari. Saat itulah Miss Dja mengganti nama panggungnya menjadi Dewi Dja.

Selama di Solo itu, menurut Ramadhan, Dja mempelajari tarian tradisional Jawa dari Sukinah, selir Susuhunan Pakubuwono X. Usai pentas sandiwara, sang Sunan yang kagum akan keuletan Dja menjulukinya dengan nama “dewi.”

Nama pemberian itu ternyata keluar bersamaan dengan sabda yang mendorong Piedro dan Dja untuk memboyong Dardanella keliling dunia. “Kalau perlu Dardanella keliling Eropa untuk memperkenalkan kesenian kita,” tutur sang Sunan sebagaimana diingat Dja dan dikutip harian Kompas (12/9/1982).

Sebelum pentas di Solo, Dardanella sudah lebih dulu berkeliling Bali. Di sana, Dja juga sempat belajar tari Legong yang kemudian mempertemukannya dengan dirigen asal Inggris bernama Leopold Stokowski. Dalam dokumenter pendek berjudul “I Remember Devi Dja,” sutradara Christian Anderson mengkisahkan bahwa Stokowski terpukau pada Dja sampai-sampai mengundangnya datang ke Inggris khusus untuk menarikan Legong.

Tidak lama setelahnya, Dja berkenalan dengan Anna Pavlova, balerina asal Rusia yang setahun sebelumnya melakukan tur mancanegara dan pentas di Batavia. Menurut Anderson, Pavlova secara tidak langsung memberi inspirasi pada Dja untuk keliling dunia. Dalam benak Dja, jika seorang balerina bisa menari di atas panggung dunia, penari tradisional Indonesia pun tentu juga bisa melakukannya.

“Memang saya selalu ingin membawa kesenian tanah air kita ke seluruh dunia. Sebab kalau kita tak berani keluar, bagaimana mungkin orang-orang luar itu mengenal kesenian kita yang indah ini,” ucap Dewi Dja dalam wawancara dengan Femina (31/8/1982).

Sejak 1935, untuk menandai debutnya di ranah internasional, Dardanella berubah nama menjadi Bali dan Java Cultural Dancers. Kolompok ini dengan percaya diri mementaskan tarian tradisional dan gamelan untuk mengatasi jurang bahasa. Sayangnya, tak semua anggota Dardanella setuju dengan langkah ini. Beberapa anggota kemudian memilih keluar rombongan di tengah tur dan kembali ke tanah air.

Meski anggotanya yang bertahan hanya 30 orang, Piedro dan Dja berkukuh melanjutkan tur dunianya. Mereka sempat menggelar pertunjukan di beberapa kota besar di Cina dan kemudian berlanjut ke India pada 1937. Di sana, pertunjukan tari Dewi Dja yang digelar sepanjang tahun mendapat sambutan hangat dari para maharaja dan tokoh-tokoh nasionalis India seperti Mahatma Gandhi dan Jawaharlal Nehru.

Sayangnya, Dja tidak pernah bisa memenuhi janjinya kepada Stokowski. Catatan pengalaman hidup yang ditinggalkannnya sama sekali tidak menyebut bahwa dia pernah menginjakan kaki di Inggris kendati hampir semua negara Eropa Barat pernah disinggahinya.

Meski begitu, Keuletan Dja mengikuti jejak Anna Pavlova membuatnya dikenal sebagai The Pavlova of the Orient.



Menari di Hollywood

Invasi Jerman terhadap Polandia pada 1 September 1939 dengan segera menghentikan rencana Dja dan rombongannya menggelar pertunjukan keliling Eropa. Demi menghindari Perang Dunia II yang sudah di depan mata, Bali and Java Cultural Dancers bertolak ke New York dengan menumpang kapal Rotterdam pada bulan berikutnya.

Di New York, Dewi Dja bersama rombongannya kembali mendulang sukses. Majalah Time edisi 6 November 1939 memberitakan spektakulernya pertunjukan Dja dan rombongannya di Guild Theater, Manhattan. Mereka disebut sebagai pelopor yang memperkenalkan musik dan tari Bali kepada masyarakat Amerika Serikat.

Perang Asia Timur Raya yang pecah pada 1942 membuat rencana kepulangan Piedro dan Dja tertunda. Dja dan Piedro lantas membuka niteclub bernama Sarong Room di Chicago yang kemudian terbakar pada 1946. Setelah Piedro tutup usia enam tahun kemudian, Dja pindah ke Los Angeles agar lebih dekat dengan dunia seni.

Kedatangan Dja di Hollywood kembali melambungkan kariernya sebagai seniman. Tawaran bermain film berdatangan seraya pergaulannya semakin luas di kalangan pekerja seni dan selebriti. Celakanya, Dja terlanjur menandatangani kontrak tanpa tahu akan diminta memainkan peranan dengan dialog bahasa Inggris. Padahal, sehari-harinya saja Dja masih kesulitan bercakap-cakap.

“Saya gagal menjadi pemeran utama. Tapi karena saya terlanjur menandatangani kontrak, saya tetap dipakai dalam produksi itu sebagai kru film bagian artistik,” ungkapnya.


Sepanjang paruh kedua 1940-an, Dja tekun mengajar tari sekaligus menjadi penata koreografi untuk produksi film yang berlatar Asia Tenggara. Beberapa film yang melibatkan Dja di antaranya Moon and Sixpence (1942), Beyond the Forest (1949), Cargo to Capetown (1950), Road to Bali (1950), dan Three Came Home (1952). Filmnya yang paling menonjol adalah The Picture of Doriant Gray (1945)--Dja muncul sebagai pusat perhatian saat tengah membawakan sebuah tarian sakral.

Pada 1954, Dewi Dja menjadi perempuan Indonesia pertama yang mengambil kewarganegaraan Amerika Serikat. Dia terpaksa melakukannya karena muncul sebuah tuduhan palsu yang membuatnya tidak bisa bekerja. Dengan alasan tersangkut urusan politik, tempat tinggalnya digerebek FBI dan dia dicecar habis-habisan soal negara asalnya.

“Tentu saja mereka tidak menemukan apa-apa pada diri saya […] Lalu saya tanyakan, apa yang harus saya lakukan. Eh, ternyata mereka cuma menyarankan agar saya menjadi warga negara Amerika,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait DEWI DJA atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight