Sejarah Hidup Andi Sose: Gerilyawan '45, Disingkirkan dari Militer

Oleh: Iswara N Raditya - 26 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Sejarah hidup Andi Sose yang wafat pada 26 Maret 2019 penuh liku. Ia pernah "disingkirkan" dari TNI namun kemudian bangkit menjadi sosok konglomerat.
tirto.id - Sejarah hidup Andi Sose memang penuh liku. Saat muda, ia turut bertaruh nyawa untuk negara, bergerilya demi mempertahankan martabat dan kemerdekaan bangsa. Menjelang peralihan rezim, eks pejuang ’45 ini banting setir ke bidang bisnis dan sukses jadi konglomerat, hingga wafat pada 26 Maret 2019 dalam usia 89 tahun.

Dikutip dari Panji Masyarakat (Volume 37, 1994),‎ Andi Sose lahir di Enrekang, Sulawesi Selatan, tanggal 15 Maret 1930. Ia berasal dari keluarga terpandang. Namun, Sose hidup dalam kesederhanaan dan tidak membeda-bedakan dalam bergaul. Ia menempuh pendidikan rendah di Volkschool dan Schakelschool, tidak seperti kebanyakan anak bangsawan pribumi lainnya.

Namun, sekolahnya berantakan gara-gara Jepang keburu datang pada 1942 dan mengambil-alih kekuasaan dari Belanda. Sose kemudian pindah sekolah ke Makassar, tapi sama saja, tetap amburadul. Di masa pendudukan Dai Nippon ini, Sose pernah satu sekolah dengan Maulwi Saelan dan Andi Galib.

Setelah kemerdekaan RI pada 1945, terungkap dalam buku 70 Tahun Haji Andi Sose: Dari Revolusi ke Militer, Wiraswasta, Dunia Sosial, sampai Reformasi (2000) suntingan Misbahudin Ahmad, Sose melanjutkan pendidikan di SMP Nasional, Makassar, yang dikelola oleh Sam Ratulangi. Sose kali ini satu sekolah dengan Robert Wolter Monginsidi.

Lagi-lagi Sose gagal fokus sekolah. Kedatangan NICA/Belanda dengan membonceng Sekutu membuat kondisi beranjak gawat. Sose, yang masih berusia remaja kala itu, memilih bergabung dengan Laskar Harimau Indonesia. Monginsidi ikut juga. Sose juga berjuang bersama Laskar Pemberontak Rakyat Sulawesi Selatan (LAPRIS).


Sempat Gabung TII

Meskipun masih muda, namun keluarga besar Sose mendukungnya turut berperang demi martabat bangsa. Ayahnya yang termasuk bangsawan Bugis, Puang Liu, sangat membantu perjuangan Sose. Begitu pula pamannya, Puang Tambone, yang sebenarnya punya posisi bagus di pemerintahan lokal, juga ikut bergerilya.

Strategi gerilya dipilih karena medan Enrekang yang berbukit-bukit amat mendukung untuk itu. Para pejuang, termasuk Sose, beberapa kali berhasil membuat pasukan Belanda kerepotan. Sebaliknya, Belanda susah untuk membalas karena sulit menembus tempat persembunyian gerilyawan di pegunungan.

Walaupun terbilang masih belia, Sose tampil sebagai pejuang paling berbakat, pemberani, lagi terampil. Bahkan, ia kemudian diangkat sebagai Komandan Laskar Harimau Indonesia untuk sektor Enrekang bagian utara.

Selama revolusi fisik, Andi Sose sempat bergabung dengan pasukan pimpinan Kahar Muzakkar. Laskar pimpinan Sose turut turun gunung dari medan gerilya dan disambut riuh oleh masyarakat di Maros.

“Dia [Kahar Muzakkar] bersama prajurit-prajuritnya [termasuk laskar pimpinan Andi Sose] memasuki kota pukul 7 malam hari,” tulis Cornelis van Dijk dalam buku Darul Islam: Sebuah Pemberontakan (1995).

Tanggal 24 Maret 1951 di Makassar, Andi Sose dan para pejuang gerilya lainnya dilantik, serta ditetapkan sebagai Corps Cadangan Nasional yang nantinya menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Namun, Kahar Muzakkar, kemudian mengumpulkan para bekas gerilyawan dan mendirikan TII (Tentara Islam Indonesia) yang lantas bergabung dengan Darul Islam (DI). Semula, Andi Sose turut bergabung karena ia belum paham apa maksud dan tujuan Kahar Muzakkar yang sebenarnya.

Semua terkuak setelah Sose tahu ada surat-menyurat dengan Maridjan Kartosoewirjo, pimpinan DI/TII di Jawa Barat. Salah satu surat itu berisi pengangkatan Kahar Muzakkar sebagai Panglima Divisi VII TII dan pernyataan setianya kepada TII. Kahar menyangkal, tapi Sose yakin bahwa tanda tangan yang tercantum di surat itu memang milik komandannya.

Sose, dikutip dari buku Antara Daerah dan Negara: Indonesia Tahun 1950-an (2011) suntingan Sita van Bemmelen dan Remco Raben, menilai bahwa tindakan Kahar Muzakkar merupakan jalan menuju gerakan separatis yang bermaksud merusak sendi-sendi persatuan bangsa. Andi Sose dengan tegas menentang dan berpisah jalan dengan Kahar Muzakkar.


Dari Prajurit Jadi Konglomerat

Andi Sose menjadi salah satu sosok yang berperan dalam upaya rekonsiliasi dengan Kahar Muzakkar. “Selama bertahun-tahun, ia mencapai persetujuan dengan para pemimpin Darul Islam setempat, yang pada hakikatnya merupakan gencatan senjata,” tulis Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII (1989).

Kendati begitu, Sose ternyata tetap diwaspadai karena pernah menjadi bagian dari gerakan Kahar Muzakkar. Pihak yang berwenang di kemiliteran berupaya selalu menjauhkan Sose dari mantan komandannya itu. Beberapa kali ia dipindahtugaskan dan diberi posisi yang tidak terlalu penting.

Bahkan, pada April 1964, Sose dikirim ke Jakarta. Di sana, ia tiba-tiba ditahan tanpa alasan dan pengadilan. Hartanya pun dirampas. Setahun berselang, Kahar Muzakkar dikabarkan telah mati. Sose pun dibebaskan.

Sose sadar bahwa kariernya di militer tidak akan pernah mulus lagi. Maka, ia memutuskan pensiun dan beralih ke ranah lain, yakni bisnis. Usahanya berjalan sukses. Sose pun menjelma menjadi sosok pengusaha sekaligus konglomerat berpengaruh di Sulawesi Selatan.

Era Orde Baru kian menyuburkan jejaring usahanya hingga merambah ke sektor lain. Dikutip dari fajaronline, Sose pernah mengirimkan 500 unit taksi ke Jakarta di bawah bendera perusahaan Morante. Ia juga mendirikan usaha Binaraya yang mengoperasikan 150 unit bis kota, 100 unit mikrolet, dan 100 unit truk angkutan barang, di ibukota.

Pengaruhnya di bidang transportasi semakin kuat. Andi Sose pun terpilih menjadi Ketua Umum Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta selama 15 tahun, merangkap Ketua Umum Organda Nasional selama dua periode.

Pundi-pundi kekayaan Andi Sose bertambah setelah ia terjun pula ke sektor perbankan. Ia mendirikan Bank Marannu yang merupakan hasil penggabungan dari Bank Antar Indonesia, Bank Rakyat Sulawesi, serta Bank Tani dan Industri. Tak hanya itu, Sose juga merupakan pemilik Hotel Marannu.

Andi Sose terus memperlebar sayapnya di sepanjang dekade 1980 hingga 1990-an itu. Ia membawahi perusahaan asuransi, lembaga pembiayaan, biro perjalanan, agen motor, galangan kapal, jasa konstruksi, ekspor-impor, dan lain-lain. Setidaknya, tidak kurang dari 23 perusahaan bernaung di bawah kuasanya.


Sebagai konglomerat, Andi Sose tidak lupa bersedekah. Ia dikenal dermawan dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Ratusan masjid, puluhan rumah sakit, lembaga pendidikan sampai tingkat universitas, pondok pesantren, dan berbagai fasilitas publik lain ia dirikan untuk kepentingan umum. Sose juga mengelola beberapa yayasan.

Berjuang membela negara sejak muda, kemudian “disingkirkan” secara halus dari kemiliteran, telah melecut spirit Andi Sose. Hidupnya bahagia dan berumur panjang. Andi Sose wafat pada 26 Maret 2019 dalam usia 89 tahun.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Mufti Sholih
DarkLight