Menuju konten utama
Kronik

Sejarah Hidup A.M. Fatwa: Pejuang Islam-Politik Lintas Zaman

Sejarah hidup dalam jejak karier perjuangan di medan perhimpunan dan politik A.M. Fatwa sangat panjang, dari era Orla, Orba, hingga pasca-Reformasi.

Sejarah Hidup A.M. Fatwa: Pejuang Islam-Politik Lintas Zaman
Andi Mappetahang Fatwa. FOTO/commons.wikimedia.org

tirto.id - Sejarah hidup A.M. Fatwa teramat panjang dan melintasi berbagai zaman. Ia sudah aktif di kancah politik dan pergerakan sejak era Presiden Sukarno. Sikap kritisnya semakin keras selama rezim Orde Baru pimpinan Soeharto berkuasa. Fatwa berulangkali mendapat ancaman, teror, siksaan, hingga keluar-masuk penjara.

Jika ditotal, tokoh kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, bernama lengkap Andi Mappetahang Fatwa ini sudah mengorbankan hidupnya selama 12 tahun berada di dalam bui, itu belum termasuk status tahanan luar di beberapa kali harus disandangnya.

A.M. Fatwa adalah pejuang lintas zaman. Ia adalah salah satu tokoh yang turut berperan dalam Reformasi 1998 yang menggulingkan kekuasaan Soeharto. Setelah Orde Baru runtuh, Fatwa masuk gelanggang politik dan bertahan amat lama hingga pada 14 Desember 2017, sang pejuang ini menghembuskan napas terakhir.

Berikut ini rekam-jejak kehidupan A.M. Fatwa:

1939

Fatwa Lahir

Andi Mappetahang Fatwa dilahirkan di Bone, Sulawesi Selatan, tanggal 12 Februari 1939 dengan nama Andi Mappetahang Fatwa. Gelar Andi yang tersemat pada namanya menandakan bahwa Fatwa berasal dari keluarga bangsawan atau Kerajaan Bone.

_____________________________

1957

PII dan Muhammadiyah

Fatwa menjadi aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) sejak usia 18 tahun. Ia memang dikenal vokal dan berpikiran kritis sejak masih remaja. Selain di PII, Fatwa muda juga bergabung dengan Muhammadiyah, dimulai dari tingkat ranting.

(Baca Juga: Kiprah Santri Muhammadiyah Mengawal Republik)

_____________________________

1960

Perintis HMI

Diterima sebagai mahasiswa di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada periode inilah Fatwa juga turut mendirikan Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) cabang Ciputat. Tahun 1961, ia terpilih sebagai Ketua Senat Seluruh Indonesia.

(Baca Juga: Legenda Hijau Hitam Mahasiswa Islam)

DEMONTRASI KEKEKERASAN TERHADAP MAHAISWA

Aktivis mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan HMI-Wati (KOHATI) berunjuk rasa di gedung Dewan DPRK Aceh Utara, di Lhokseumawe, Aceh, Rabu (26/9/2018). ANTARA FOTO/Rahmad/kye/18.

_____________________________

1963

Penjara Perdana

Lulus dengan predikat Sarjana Muda IAIN Syarif Hidayatullah dan Universitas Ibnu Khaldun Jakarta. Di tahun yang sama, pemerintah Orde Baru menudingnya terlibat insiden di IAIN. Fatwa dijebloskan ke tahanan selama 6 bulan.

_____________________________

1970

Membantu Ali Sadikin

A.M. Fatwa diangkat sebagai Staf Khusus Agama dan Politik Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Sejak itu, ia mulai tertarik lebih serius lagi terjun ke kancah politik.

(Baca Juga: Solusi Maksiat ala Ali Sadikin)

_____________________________

1979

Dibui Lagi dan Dipecat

Dengan tuduhan melanggar sumpah jabatan dan menghasut masyarakat untuk membenci pemerintah, Fatwa dipecat secara tidak hormat dari statusnya sebagai pegawai pemerintah DKI Jakarta. Dua tahun sebelumnya, ia masuk penjara lagi selama 9 bulan karena dianggap meresahkan.

(Baca Juga: Bertaruh Nyawa Membongkar Dosa Rezim Orba)

_____________________________

1980

Petisi 50

Petisi 50 sebagai bentuk protes terhadap Presiden Soeharto ditandatangani oleh para tokoh nasional. Fatwa ikut ambil bagian bersama Ali Sadikin, Hoegeng Imam Santoso, Burhanuddin Harahap, Mohammad Natsir, dan lainnya.

(Baca Juga: Menggugat Soeharto yang Menyalahgunakan Pancasila)

_____________________________

1984

Tragedi Priok

Lagi-lagi Fatwa tersangkut masalah dan kali ini divonis dengan hukuman penjara selama 18 tahun. Ini terkait Lembaran Putih Peristiwa Tanjung Priok dan ceramah-ceramah politiknya yang oleh rezim Orde Baru dianggap tindakan subversif.

(Baca Juga: Mengenang Tragedi Pembantaian Tanjung Priok)

Tragedi Tanjung Priok

Tragedi Tanjung Priok, 1984. FOTO/Istimewa

_____________________________

1993

Bebas, Jadi Staf Menteri

Fatwa dibebaskan secara bersyarat dari penjara. Setelah bebas, ia justru diangkat sebagai Staf Khusus Menteri Agama RI (pada era Tarmizi Taher dan Quraish Shihab) atas izin Presiden Soeharto.

_____________________________

1998

Reformasi dan PAN

Turut ambil bagian dalam gerakan Reformasi yang meruntuhkan kekuasaan Soeharto pada 21 Mei 1998. Selanjutnya, Fatwa ikut mendeklarasikan terbentuknya Partai Amanat Nasional (PAN) bersama Amien Rais.

(Baca Juga: Ketika Amien Rais Lolos dari Jeweran Soeharto)

_____________________________

1999

Masuk Parlemen

Hasil Pemilu 1999 mengantarkan Fatwa masuk parlemen sebagai anggota DPR-RI dari PAN, ia bahkan sempat menjabat sebagai Wakil Ketua DPR. Usai Pemilu 2004, Fatwa terpilih sebagai anggota sekaligus Wakil Ketua MPR.

_____________________________

2009

DPD-RI

A.M Fatwa terpilih menjadi Anggota DPD-RI. Ia maju sebagai calon perorangan dari DKI Jakarta. Fatwa tercatat sebagai tokoh senior DPD hingga akhir hayatnya.

RAPAT PLENO BADAN KEHORMATAN DPD

Ketua Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Daerah (BK DPD) AM Fatwa (tengah) didampingi Wakil Ketua BK DPD Ahmad Hudarni Rani (kanan) dan Lalu Suhaimi Ismy (kiri) memimpin rapat pleno BK DPD terkait kasus Ketua DPD Irman Gusman di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (19/9). Rapat pleno tersebut dalam rangka meminta masukan dari pakar terkait penetapan status tersangka Ketua DPD Irman Gusman dalam kasus dugaan suap kuota gula impor. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/foc/16.

_____________________________

2017

Fatwa Wafat

Tanggal 14 Desember 2017 pukul 06.00 WIB pagi, A.M. Fatwa meninggal dunia di Rumah Sakit MMC Jakarta Selatan, karena penyakit kanker hat. Ia wafat dalam usia 78 tahun dengan mewariskan jejak rekam, perjuangan, hingga seabrek karya.

(Baca Juga: A.M. Fatwa dan Arus Balik Pembangkangan Islam-Politik Jakarta)

_____________________________

Sumber Foto: Antara

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan lainnya dari AS Rimbawana

tirto.id - Politik
Penulis: AS Rimbawana
Editor: Iswara N Raditya