Sejarah Hidangan Manis Untuk Buka Puasa

Oleh: Nuran Wibisono - 24 Mei 2018
Dibaca Normal 2 menit
Gula dan cita rasa manis akrab dengan Islam sejak dulu.
tirto.id - Salah satu kalimat populer tapi susah dicari siapa penciptanya adalah: berbukalah dengan yang manis. Andaikan itu diciptakan pegawai periklanan, sudah tentu dia akan dapat kenaikan gaji atau pangkat atau bonus. Itu kalimat jenius. Mudah menempel di ingatan. Jelas bisa dipakai untuk produk apapun yang bercita rasa manis, entah itu gula, entah itu sirup, atau sari buah. Yang paling penting: ia tetap bisa dipakai saban bulan Ramadan datang.

Belakangan banyak yang mempertanyakan jargon berbukalah dengan yang manis. Sejumlah ahli agama berpendapat itu bukan anjuran yang benar, pun tidak bersumber dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Sebab yang disantap nabi ketika berbuka adalah ruthab, alias kurma segar. Jika itu tak ada, maka tamr alias kurma kering, bisa jadi alternatif.

Terlepas dari itu semua, gula memang tak asing dalam kebudayaan Islam. Kata sugar diserap dari bahasa Arab sukkar, yang datang dari bahasa Persia, shakar, dan berakar dari kata Sansekerta sharkara.

Meski dianggap sudah ada di Guinea Baru sejak 8000 SM, tebu mulai dibudayakan di Timur Tengah pada pertengahan abad ketujuh. Diperkirakan waktu itu tebu sudah ditanam di Iran dan Irak di akhir Kesultanan Sasania, 651 Masehi.



Saat itu, kawasan Ahwaz yang sekarang masuk dalam Iran bagian barat, sudah dikenal sebagai produsen utama gula, berbagai varian kurma kering, jus buah kental (dibs), dan gula mentah (qand). Dari sana, tebu menyebar ke Iraq, Jordan, Suriah, hingga Mesir.

Dalam Agricultural Innovation in the Early Islamic World: The Diffusion of Crops and Farming Techniques, 700–1100 (1983), perkebunan tebu di Mesir mulai bermunculan pada abad kesembilan. Namun tebu mulai benar-benar meluas ke seantero Mesir pada abad 11.

Banyaknya tebu dan produksi gula di Timur Tengah, membuat ada banyak makanan yang bercita rasa manis. Dalam Sugar in the Social Life of Medieval Islam (2015), disebutkan bahwa tebu, gula, dan aneka manisan memang punya kaitan erat dengan puasa Ramadan. Pada era Dinasti Mamluk (1250-1517), para pembuat kudapan akan memproduksi manisan seperti kunafa dan qata'if.

Kawasan Timur Tengah kala itu sudah punya banyak hidangan dengan cita rasa manis. Selain kunafa (sekarang ditulis sebagai kanafeh, atau kanafah) yang berupa adonan pastry yang dilapisi mentega dan disiram sirup kental serta madu, dan qata'if (donut yang dicampur dengan kacang wanut, gula batu, dan air mawar; ada pula halawa yakni manisan dengan campuran kacang.

Contoh lain adalah dibla (pancake berbentuk bundar yang ditaburi gula dan madu), maqrud (kue yang berisi selai kurma, digoreng, lalu dicocol ke sirup), juga samosa yang diisi oleh kacang almond, pistachio, dan pasta gula. Makanan-makanan manis ini punya sebutan khusus, yakni halwayat Ramadan, atau manisan untuk Ramadan.

Ketika waktu buka datang, orang-orang Islam di abad pertengahan itu menyantap kurma sesuai Sunnah nabi. Lalu dilanjut dengan minum jus buah, makanan utama, dan ditutup dengan manisan.



Selain kudapan, ada pula makanan utama dengan cita rasa manis. Semisal sikbaj, yakni daging yang dimasak bersama wortel, almond, anggur, daun ara kering, sari kurma, cuka, dan rempah. Ada pula judhaba, daging yang dipanggang bersama puding roti, dan dicampur dengan madu dan gula batu.

Infografik berbukalah dengan yang nggak manis


Menyantap makanan manis ketika berbuka puasa memang dianjurkan. Ketika berpuasa, tubuh tidak mendapat cairan dan makanan, ini yang membuat lemas dan kadar gula menurun. Makanan manis memiliki karbohidrat mengandung gula yang mendorong tubuh memproduksi insulin. Dari sana, gula diubah menjadi energi.

Di Indonesia, ada banyak sekali makanan manis yang dijajakan menjelang buka puasa. Mulai aneka kurma, jajanan pasar seperti lupis, klepon, atau pisang goreng; minuman klasik semisal es campur, es pisang hijau, es kelapa muda, es dawet, es teh manis; hingga minuman era kiwari seperti es kepal Milo atau es teh Thailand.



Namun yang perlu dicatat adalah: konsumsi gula tidak boleh berlebihan dan kalap. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi gula kurang dari 50 gram per hari. Sebagai gambaran, 1 sendok makan setara dengan 14 gram.

Yang jadi masalah adalah, banyak orang Indonesia sudah berlebihan mengonsumsi gula. Berdasarkan makalah "Asupan Gula, Garam, dan Lemak di Indonesia" (2014), 29,7 persen penduduk Indonesia atau sekitar 77 juta jiwa sudah mengonsumsi gula lebih dari 50 gram per hari, melebihi rekomendasi WHO.



Seperti anjuran untuk menghindari apapun yang berlebihan, konsumsi gula melebihi takaran normal jelas membawa dampak buruk pada tubuh. Efeknya mulai dari kegemukan hingga diabetes. Sekarang sudah ada banyak pemanis alternatif gula. Semisal stevia, sirup jagung, atau madu. Beberapa produsen bahan makanan juga membuat gula rendah kalori yang diklaim lebih sehat ketimbang gula biasa.

Jadi penting untuk tahu batas ketika menyantap hidangan buka puasa. Bukankah ajaran utama puasa adalah menahan diri, termasuk menahan diri untuk tak kalap ketika berbuka. Maka ketika menyantap apapun yang manis untuk berbuka, ingatlah pesan Vety Vera: yang sedang-sedang saja!

Baca juga artikel terkait RAMADAN atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti