Sejarah Hari Ganefo yang Diperingati pada 10 November

Oleh: Dhita Koesno - 10 November 2020
Dibaca Normal 3 menit
Sejarah Hari Ganefo atau Games of The New Emerging Forcesyang diperingati pada 10 November.
tirto.id - Hari Ganefo singakatan dari Games of The New Emerging Forces atau Hari Pesta Olahraga Negara Berkembang diperingati pada 10 November.

Sejarah Hari Ganefo


Dalam jurnal berjudul Ganefo Sebagai Wahana dalam Mewujudkan Konsepsi Politik Luar Negeri Soekarno 1963-1967, disebutkan bahwa Ganefo merupakan salah satu peristiwa sejarah yang telah dialami oleh Indonesia di mana Soekarno dengan semangat nasionalisme berani menentang hegemoni Barat melalui arena olahraga dan mampu mengangkat nama Indonesia dalam percaturan politik internasional.

Ganefo diharapkan mampu menumbuhkan kembali rasa nasionalisme dan kebanggaan para generasi penerus bangsa untuk melanjutkan api semangat yang telah dikobarkan Soekarno.

Ada empat faktor penting yang melatarbelakangi pelaksanaan Hari Ganefo:

1. Situasi Politik Internasional

Indonesia memandang olahraga telah menjadi lahan imperialisme bagi negara maju, khususnya dunia Barat, dengan menggunakan International Olympic Comittee (IOC) sebagai alat imperialisnya.

Buktinya, terjadi intervensi dunia Barat terhadap pelaksanaan beberapa kegiatan olahraga seperti Olimpiade dan Asian Games.

IOC yang menyatakan secara tegas bahwa olahraga harus terpisah dari politik justru berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi.

Bukti yang ditunjukkan IOC di antaranya melarang Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk mengikuti Asian Games, karena RRT adalah negara komunis musuh dari Blok Barat.

Kemudian peristiwa Oktober 1959, ketika RDD (Jerman Timur) menolak berpartisipasi dalam pertandingan bola voli di Perancis, karena Perancis melarang dikumandangkannya lagu kebangsaan dan bendera nasional RDD.

AS juga tidak memberikan visa kepada atlet RDD saat Olimpiade musim dingin Februari 1960, begitu pula saat adanya kejuaraan angkat besi bulan September membuat RDD tidak bisa berpartisipasi.

Dalam dua kasus tersebut, IOC dan federasi olahraga internasional tidak mengambil tindakan tegas kepada Perancis dan AS yang melakukan kesalahan.

Hal itu membuktikan bahwa IOC memiliki rasa takut terhadap negara-negara anggota Blok Barat, selain karena sebagian besar anggota dewan eksekutif IOC adalah orang-orang Eropa.

2. Skorsing IOC kepada Indonesia

Indonesia menerima skorsing IOC akibat melarang partisipasi Taiwan dan Israel ke Asian Games IV di Jakarta.

Indonesia memiliki alasan jika mengundang Taiwan dan Israel justru akan membuat hubungan dengan negara sahabat khususnya negara-negara Arab dan RRT menjadi terganggu.

RRT memiliki hubungan dekat dengan Indonesia karena memiliki persamaan dalam melaksanakan politik luar negeri, yakni secara konsekuen menentang imperialisme dan kolonialisme di berbagai belahan dunia.

Pelarangan Taiwan dan Israel berpartisipasi dalam Asian Games IV Jakarta sebagai wujud solidaritas dan menjaga hubungan baik kepada negara-negara Arab dan RRT.

Penyelenggaraan Ganefo diharapkan mampu mengangkat nama Indonesia dan membuka mata dunia internasional jika Indonesia adalah salah satu kekuatan baru di Benua Asia, di bawah kepemimpinan Soekarno.

Indonesia memandang berbagai kegiatan olahraga internasional seperti Olimpiade dan Asian Games yang diikuti dianggap penting, karena digunakan sebagai sarana untuk dapat memperjuangkan prinsip-prinsip Indonesia di dalamnya.

Skorsing IOC yang mengakibatkan Indonesia tidak dapat berpartisipasi dalam Olimpiade karena alasan yang tidak wajar membuat Indonesia berusaha untuk mencari solusi agar prinsip yang dipegang teguh Indonesia selalu dapat diperjuangkan salah satunya dengan menyelenggarakan Ganefo.



3. Situasi Politik Dalam Negeri Indonesia

Ganefo merupakan salah satu wujud kebijakan luar negeri yang mampu membangkitkan reaksi nasionalis rakyat Indonesia untuk mengubah peranan Indonesia dalam dunia internasional sebagai pemimpin negara baru berkembang.

Momentum skorsing IOC dimanfaatkan oleh Soekarno sebagai alat yangberfungsi menyatukan rakyat Indonesia untukmelawan salah satu bentuk imperialisme di bidang olahraga dan mewujudkan konsepsi politik luar negerinya.

George Modelski dalam The New Emerging Forces: Documents on the Ideology of Indonesian Foreign Policy mencatat penggalan penting pidato Soekarno:

“Selaku Presiden Republik Indonesia, selaku Panglima Tertinggi Republik Indonesia, selaku Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, dan selaku Pemimpin Besar Partai Nasional Indonesia, saya memerintahkan Indonesia: Keluar dari IOC... Saudara-saudaraku, selain perintah untuk keluar dari IOC, saya juga perintahkan: Persiapkan GANEFO secepat-cepatnya, Games of The New Emerging Forces, untuk Asia, Afrika, Amerika Latin, dan negara-negara sosialis lainnya.”

Soekarno menggunakan skorsing IOC untuk membangkitkan nasionalisme rakyat Indonesia, karena dianggap sebagai salah satu bentuk isolasi terhadap Indonesia dalam bidang olahraga yang bertujuan untuk menghambat eksistensi Indonesia dalam pergaulan dunia internasional.

Pelaksanaan even olahraga Ganefo, dapat digunakan untuk menggali nilai-nilai positif, salah satunya jiwa nasionalisme bangsa yang lebih dikenal dengan sebutan Nation Character Building.

Olahraga sebagai usaha pembentukan karakter dan kepribadian manusia Indonesia, karena mampu menanamkan 8 sikap yang dapat meningkatkan martabat manusia, khususnya bertujuan membangun citra manusia Indonesia dalam menjalin hubungan dengan dunia internasional, yakni:

  • Keberanian
  • Kepercayaan diri
  • Semangat berjuang memperoleh kemenangan
  • Penghargaan kepada lawan
  • Rasa tanggung jawab
  • Gotong royong
  • Harga diri
  • Optimisme

4. Konsepsi Politik Luar Negeri Soekarno

Situasi dunia saat berlangsungnya Perang Dingin membuat Soekarno menyatakan bahwa dunia tidak terbagi dalam Blok Barat dan Blok Timur, tetapi terbagi menjadi 2 Blok yaitu Nefo dan Oldefo.

Pembagian dunia menurut konsepsi Soekarno sesuai dengan kondisi dunia saat itu, karena negara maju memegang dominasi atas negara berkembang di segala aspek kehidupan dalam konteks internasional.

Soekarno meyakini bahwa pembagian kekuatan dunia dalam wujud Nefo dan Oldefo akan membuat kedudukan Indonesia meningkat dalam dunia internasional, salah satunya adalah sebagai pemimpin negara-negara berkembang yang tergabung dalam Nefo.

Soekarno berinisiatif untuk memperkuat persatuan negara-negara yang digolongkan dalam The New Emerging Forces dari beberapa benua. Soekarno sesuai konsepsinya berusaha mengalang kekuatan baru dengan menyerukan semangat antiimperialisme-kolonialisme.

Penyelenggaraan Ganefo bukan saja dilatar belakangi oleh skorsing yang dijatuhkan IOC kepada Indonesia tetapi lebih dari itu. Yaitu menghimpun Negara-negara The New Emerging Forces.

Penyelenggaraan Hari Ganefo


Ganefo pertama berlangsung pada 10-22 November 1963. Sebagian besar pertandingan dilaksanakan di Gelora Bung Karno (GBK). Stadion nasional ini dibangun selama 2,5 tahun dengan melibatkan 14 insinyur dan 12.000 pekerja sipil dan militer.

Soekarno mendanainya lewat bantuan $10,5 juta dari Soviet. Ganefo kedua diadakan di Pnom Penh, Kamboja, pada 1966.

Ganefo ketiga direncanakan di Pyongyang, Korea Utara, pada 1970, namun tak pernah direalisasikan hingga akhirnya organisasi penyelenggara Ganefo kolaps.



Baca juga artikel terkait HARI GANEFO atau tulisan menarik lainnya Dhita Koesno
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Dhita Koesno
Editor: Agung DH
DarkLight