Sejarah Desersi A.H. Nasution: Kabur Naik Sepeda Jember-Bandung

Oleh: Petrik Matanasi - 12 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Nasution mengawali karier militer sebagai perwira KNIL dan mengakhirinya sebagai desertir bermodal sepeda. Belakangan dia jadi orang penting di militer Indonesia.
tirto.id - Ketika balatentara Jepang mendekat ke Hindia Belanda, sumpah setia kepada Ratu Wilhelmina tampaknya tidak melekat lagi pada letnan muda KNIL bernama Abdul Haris Nasution. Nasution pun sadar diri. “Saya bukan Belanda,” batinnya, seperti diakuinya dalam autobiografi Memenuhi Panggilan Tugas: Kenangan Masa Muda (1989: 84).

Hingga dia pun tak mau berlama-lama lagi dalam pasukannya yang sudah mundur sampai ke Jember.

Nasution, yang waktu itu masih 23 tahun, berencana kabur. Setelah dapat sarung dan baju ala orang kampung, Nasution menyulap celana panjang tentara warna hijau menjadi celana pendek. Namun, di rumah tempatnya tinggal bersama beberapa prajurit lain itu, seorang sersan mayor melihat apa yang dilakukan Nasution.

Sersan mayor itu tampak curiga. Tapi sebagai letnan muda, Nasution bisa bersikap masa bodoh padanya. Sikap masa bodoh yang sama juga dia perlihatkan kepada Nunroha, rekan sesama letnan muda, yang mengetahui gelagat Nasution. Tapi Nunroha pun tidak mau ambil pusing, apalagi mengadu kepada komandan mereka.

Di hari Nasution menjadi komandan piket, tepat pukul 04.00, dia kabur ke kampung tanpa ketahuan serdadu-serdadu lain dengan berjalan kaki. Setelah berjam-jam berjalan, Nasution tiba di jalan besar. Dia kemudian menebeng cikar, tentu saja sambil berjuang agar tidak ada yang curiga padanya.

Begitu sampai di kota dia menuju rumah seorang nasionalis dari Partai Indonesia Raya (Parindra), yang tak lain adalah Artawi, kawannya waktu belajar di sekolah guru di Bandung. Di rumah itu Nasution bersembunyi selama 24 jam. Sesekali tentu Nasution mengintip lewat jendela ke arah kantor kecamatan. Suatu kali waktu mengintip, Nasution melihat ajudan komandan batalionnya turun dari mobil. Barangkali untuk mencarinya.

Si tokoh Parindra tak hanya menampung, tapi juga mencarikan alat kabur yang cukup terjangkau bagi seorang perwira KNIL: sepeda pancal. Setelah sepeda itu dibayar Nasution, dia pamit dan berterimakasih atas pertolongan aktivis Parindra itu. Setelahnya, Nasution memancal sepeda dengan berpakaian sarung, seperti kebanyakan kaum santri Jawa Timuran. Dia mengayuh sepedanya ke arah barat.

Teringat Kampung sampai Ikut Bertani

Desa yang Nasution lewati sepanjang jalan cukup sepi. Menurutnya, para penduduk sedang mengungsi. Takut kena bom atau peluru nyasar dari Jepang atau Belanda. Setelah melihat pemandangan perdesaan itu, Nasution jadi ingat kampung halamannya. “Medan wilayah ini adalah seperti di kampung saya di Mandailing, yakni berbukit-bukit dan dengan sungai-sungai serta sawah-sawah.”

Ketika hari sudah malam, Nasution tiba di Lumajang. Perjalanan belum selesai. Dari Lumajang, perjalanan berlanjut menyinggahi kota-kota lain di Jawa Timur.

“Saya melewati Pasuruan, Mojokerto, Sala, Yogya, Kroya, Banjar terus ke Bandung dalam tempo lebih kurang dua minggu,” aku Nasution.

Dia menemui orang yang dikenalnya. Di Mojokerto, dia menemui Suroso, yang menasihati Nasution agar berhati-hati. Tentara Jepang sangat ganas. Bukan tidak mungkin serdadu Jepang akan langsung menghabisi Nasution. Meski tak bertemu serdadu Jepang, perjalanannya tidak selalu mulus. Sebab beberapa jembatan rusak.

Tak seluruh perjalanannya ditempuh dengan sepeda. Jika ada kereta api yang berjalan ke arah barat, Nasution membawa naik sepedanya sekalian. Tak tiap hari Nasution mengayuh sepeda atau berada di atas kereta. Ada hari ketika Nasution beristirahat sehari atau dua hari. Istirahat terakhirnya di Banjar selama dua hari, sebelum akhirnya naik kereta lagi menuju Bandung.

Ketika Nasution dalam pelarian, Hindia Belanda sedang kolaps dan akhirnya menyerah pada 8 Maret 1942. KNIL sendiri sudah bubar. Jadi tidak ada polisi militer atau provos KNIL yang akan mencari Nasution. Tapi masalah Nasution belum selesai. Serdadu-serdadu Jepang yang baru datang sebagai pemenang tentu akan menindak bekas serdadu KNIL, apalagi perwira KNIL macam dirinya.

Tiba di Bandung yang masih sepi, tempat yang dituju Nasution adalah rumah Rahmat Kartakusumah, kawannya di Akademi Militer Kerajaan Belanda di Bandung. Ketika Nasution sampai di kediaman Rahmat, sang tuan rumah sedang jadi tawanan di kamp Jepang. Demi keamanan semua pihak, termasuk keluarga Kartakusumah, Nasution undur diri dulu. Ada maklumat kepada semua bekas militer KNIL untuk melaporkan diri.

Nasution naik sepeda lagi. Ke arah barat lagi. Soal siapa yang hendak didatangi, tak terpikir oleh Nasution. Dia hanya perlu mengayuh. Dia akhirnya sampai di Cianjur ketika hari sudah malam. Di mana sepeda berhenti, di situlah Nasution tidur.

Esoknya, Nasution mengayuh lagi sepedanya. Terus menuju Sukabumi. Sukabumi tidak jauh beda dengan Bandung, masih sepi. Di sini dia bertemu kawan gurunya di Sumatra Selatan dulu. Selama beberapa hari, Nasution berdiam di situ.

Dari Sukabumi, Nasution mengayuh lagi tanpa arah. Dia akhirnya tiba di Gekbrong, masih Kabupaten Cianjur. Selama dua-tiga minggu Nasution di situ sebelum akhirnya dia masuk lagi ke Bandung. Sukanda, kawannya, mengantar ke rumah Dr. Djundjunan. Di situ Nasution juga bertemu dengan Ahmad Tirtosudiro.

Karena situasi di Bandung tidak menguntungkannya, Nasution pun bolak-balik lagi Cianjur-Sukabumi-Bandung. Sambil menanti situasi aman, waktu sembunyi di sebuah desa, Nasution ikut bertani kacang, meski hasilnya kurang baik.



Infografik Seri Desersi
undefined

Masa Damai dan Cinta di Bandung

Masa damai Nasution pun datang setelah 3 bulan penyerahan tanpa syarat Hindia Belanda pada Jepang, yakni sekitar Juni-Juli 1942. Ketika tawanan Jepang yang terdiri dari anggota militer pribumi dibebaskan, Nasution masuk lagi ke Bandung.

Di kota kembang, Nasution menemui tokoh Parindra bernama Mr. Gondokusumo, yang kemudian meyakinkan Nasution dirinya bisa berkeliaran bebas lagi. Tak hanya itu, Gondokusumo juga melobi perwira Kempeitai (Polisi Militer Jepang) bahwa Nasution bisa diandalkan untuk melawan Belanda. Gondokusumo dipercaya militer Jepang karena pernah menyelamatkan pilot Jepang yang pesawatnya jatuh di Sukadingin, Purwakarta, di perkebunan milik keluarga Loah.


Gondokusumo jadi pelindung Nasution di masa pendudukan Jepang. Nasution bisa berkeliaran secara bebas bahkan bermain tenis bersama Yohana Sunarti Gondokusumo, putri Gondokusumo. Akhirnya Gondokusumo pun jadi mertua Nasution. “Dia (Nasution) habiskan waktunya selama pendudukan Jepang di Bandung,” tulis Barry Turner dalam Nasution: Total People’s Resistance and Organicist Thinking in Indonesia (2005: 32).

Kisah desersi Nasution tentu heroik dan bisa dapat simpati kaum nasionalis. Setidaknya dari Gondokusumo sekeluarga. Namun itu tidak selamanya jadi catatan manis di kemudian hari. Setelah Indonesia merdeka, Nasution sebagai orang Indonesia dengan pengalaman militer kolonial mendadak jadi orang penting di Jawa Barat. Buku Siliwangi dari Masa ke Masa (1979: 39) menyebut pada 1946 Nasution dipilih sebagai Panglima Divisi Siliwangi dengan pangkat kolonel.

Belakangan, jadilah Nasution orang nomor satu di Angkatan Darat. Dalam sejarah militer Indonesia, Nasution adalah satu dari tiga Jenderal Bintang Lima. Jika di TNI dia dikenal sebagai pemimpin yang meletakkan dasar-dasar ketentaraan, di KNIL dia tampaknya lebih diingat sebagai desertir.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan