Sejarah Chile di Balik Lagu "Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan"

Seorang pengunjuk rasa berpose di depan tulisan "Chile" saat protes atas pemerintah Chili di Santiago, Chili, Rabu (30/10/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Jorge Silva/aww/cfo
Oleh: Renalto Setiawan - 6 November 2019
Dibaca Normal 4 menit
Lagu "El Pueblo Jamas Sera Vencindo" bergema ketika aksi protes terjadi di Cile baru-baru ini. Lagu itu memiliki arti penting bagi sebagian besar warga Cile.
tirto.id - “Kita sedang berperang dengan musuh kuat, yang tak ragu menggunakan kekerasan tanpa batas.”

Demikian pernyataan Presiden Chile Sebastian Pinera di depan kamera televisi saat memutuskan untuk memperpanjang status darurat militer di Chile pada 20 Oktober 2019, hanya selang sehari setelah status darurat militer diberlakukan.

Kebijakan tersebut terpaksa ia ambil lantaran aksi protes warga Chile yang sudah terjadi sejak awal Oktober 2019 tak kunjung padam dan, kata Andres Chadwick, Menteri Dalam Negeri Chile, malah berujung dengan "peningkatan kekerasan dan vandalisme". Bahkan jika memang diperlukan, pemerintah Chile sudah menyiapkan sekitar 10.500 anggota militer dan kepolisian untuk turun ke jalan.

Namun, warga Chile ternyata tak tak gentar terhadap imbauan sang presiden yang juga merupakan orang terkaya nomor tiga di negara tersebut. Saat aparat menganggap mereka sebagai musuh, lalu gas air mata dilemparkan dan tongkat-tongkat kian brutal menghajar, bahkan hingga menewaskan 18 orang, gelombang protes warga Chile justru semakin besar.

Pada 25 Oktober 2019, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, lebih dari satu juta orang turun ke jalanan Santiago, Ibukota Chile, dengan tuntutan terang benderang: meminta Pinera lengser dari jabatannya.

Banyak pengamat politik lantas menilai, protes yang bermula dari kenaikan tarif angkutan umum itu tak lepas dari kebijakan yang pernah diambil oleh Augusto Pinochet, bekas diktator Chile pada tahun 1973 hingga 1989.

Daniel Borzutzky, seorang intelektual Chile yang bukunya berjudul "The Performance of Becoming Human" pernah memenangkan "National Book Award for Poetry" tahun 2016, menulis untuk New York Times: “Konstitusi, yang dibuat pada tahun 1980 oleh rezim Pinochet, menciptakan dasar hukum untuk model ekonomi yang digerakkan pasar, yang telah memprivatisasi dana pensiun, kesehatan, dan pendidikan.”

Akibatnya, meski Chile sudah banyak melakukan perubahan secara signifikan usai Pinochet lengser, efek dari kebijakan itu masih bergema sampai sekarang. “Chile”, imbuh Borzutzky, “memiliki salah satu biaya hidup tertinggi di Amerika Selatan. Saat ini Chile dianggap sebagai salah satu negara yang paling tidak setara dalam Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan.”

Singkat kata, ada gap ekonomi yang cukup besar antara si kaya dan si miskin di Chile dan Pinera tidak mempunyai jalan keluar untuk menyelesaikan masalah itu.

Maka, ketika pemerintahan Pinera kemudian mengambil langkah yang tak jauh berbeda dengan rezim Pinochet dalam menangani gelombang protes, warga Chile sudah paham apa yang mesti dilakukan di jalanan: menyanyikan lagu "El Pueblo Unido Jamas Sera Vencido".

Lagu karya Sergio Ortega, komposer asal Chile, itu pernah menjadi pelopor Nueva Cancion (“Lagu Baru”): sebuah gerakan seni yang melahirkan lagu-lagu populer bermuatan politis di era pemerintahan sosialis Salvador Allende pada awal tahun 1970-an dan juga amat dibenci oleh Pinochet.

Sebab pesan utama lagu tersebut amat terang benderang dari judulnya: rakyat bersatu tidak dapat dikalahkan!


Berawal dari Pemerintahan Salvador Allende

Semua dimulai pada tahun 1970, ketika Salvador Allende, politikus Unidad Popular (koalisi Partai Sosialis di Chile), terpilih sebagai presiden.

Kemenangan Allende dinilai sebagai kemenangan bagi kelas pekerja Chile, petani kecil, dan masyarakat adat. Sebabnya: pemerintahan Allende berfokus pada nasionalisasi industri berskala besar, penyediaan layanan kesehatan, jaminan pendidikan penyediaan susu gratis untuk anak-anak, serta redistribusi kepemilikan lahan untuk para petani penggarap yang menguntungkan rakyat Chile.

Namun, meski pemerintahan Allende mendapatkan dukungan dari rakyat, pihak Amerika Serikat--yang saat itu menguasai bisnis pertambangan di Chile--ternyata merasa dirugikan oleh kebijakan Allende. Dari sana Amerika lantas melakukan langkah licik: menurunkan harga tembaga dunia serta memberlakukan embargo perdagangan terhadap Chile. Dan karena tembaga merupakan aset ekspor utama Chile saat itu, maka langkah Amerika tersebut kemudian membuat perekonomian dan situasi politik di negara tersebut oleng.

Pada tahun 1971 hingga 1973, kelompok yang merasa tidak diuntungkan dengan nasionalisasi industri turut melakukan perlawanan intens. Partai-partai sayap kanan, yang jadi musuh pemerintah, mendukung perlawanan itu, sehingga membuat posisi pemerintahan Allende dalam posisi tidak aman.

Dalam kurun waktu tersebutlah lagu "El Pueblo Unido" kemudian diciptakan untuk menjadi tameng pemerintah. Sementara Sergio Ortega menggubah aransemennya, Quilapayun, grup folk yang juga tergabung dalam pergerakan Nueva Cancion, menciptakan lirik lagu serta menyanyikannya.

Dan tidak seperti lagu-lagu ciptaan musisi yang tergabung dalam pergerakan Nueva Cancion lainnya, menurut Jedrek Mularski, pengamat sejarah Amerika Latin, lagu itu benar-benar dibungkus dengan muatan politis yang kuat.

"El Pueblo Unido" mengekspresikan citra yang kuat dan agresif tentang militansi sayap kiri yang populer dan semata-semata berupaya untuk memobilisasi audiens kiri dengan membangkitkan rasa persatuan dan militansi heroik di antara mereka dalam mengejar konsepsi samar, tentang masa depan yang lebih baik demi mencapai ‘kebahagiaan,’” tulis Mularski, dalam Music, Politics and Nationalism In America: Chile During the Cold War Era (2014).

"El Pueblo Unido" ternyata langsung populer setelah Quilapayun pertama kali memainkannya di depan umum. Hal tersebut, masih menurut Mularski, tak lepas dari kemasan utama lagu yang mampu mendorong massa untuk langsung familiar dengan lagu itu: musiknya sederhana, liriknya monoton, dan "El Pueblo Unido" memang dibikin untuk dinyanyikan secara bersama-sama.”

Setidaknya, klimaks lagu itu bisa jadi acuan. Setelah refrain pendek “maju!” yang diikuti dengan berhentinya alunan musik, nyanyian tiba-tiba kembali ke "El Pueblo Unido", yang diulang-ulang secara monoton dan hanya menonjolkan vokal.

Selang beberapa hari setelah lagu itu dipamerkan, tepatnya pada 11 September 1973, militer Chile dengan dukungan dari AS, melakukan kudeta terhadap pemerintah. Dipimpin oleh Pinochet, yang kala itu masih menjabat sebagai Komandan Angkatan Laut Chile, kudeta tersebut berhasil membuat Allende lengser sekaligus meregang nyawa. Dan Pinochet pun lantas menggantikan posisinya.

Pemerintahan baru di bawah kuasa Pinochet berubah menjadi otoriter dan ia pun tak ubahnya seorang diktator. Seluruh komponen sosialis hingga akar rumput yang (pernah dan masih) berafiliasi dengan Allende habis diganyang olehnya. Bahkan tak sedikit yang mati dieksekusi di Stadion Utama Santiago.

Rezim otoriter Pinochet dengan segera langsung mendapatkan tentangan dari rakyat Chile. Dan dari sanalah lagu "El Pueblo Unido" kemudian memiliki arti yang jauh lebih penting bagi orang-orang Chile: ia bukan lagi sekadar “tameng” bagi pemerintahan sosialis, melainkan menjadi simbol perlawanan terhadap pemerintahan otoriter Pinochet.

“Ketika kami menyanyikan atau mendengarkan lagu itu, kami jadi seperti punya harapan bahwa hidup kami akan mengalami kemajuan jika kami mau mendorong perubahan. Lagu itu adalah inspirasi bagi kita semua, membuat kita bisa bekerja lebih keras,” tutur Michele, salah satu warga Chile, masih dalam Music, Politics and Nationalism In America: Chile During the Cold War Era (2014) karya Mularsky.



Diadaptasi di Berbagai Tempat

Pasca-kudeta 1973, karena banyaknya musisi pendukung Allende yang memilih mengungsi ke luar negeri—termasuk Quilapayun—"El Pueblo Unido" lantas mulai banyak dikenal di negara-negara lain. Seperti di Chile, lagu itu juga digunakan tak ubahnya mars perlawanan.

Di Portugal, setelah Revolusi Anyelir berhasil menggulingkan pemerintahan otoriter Estado Novo pada tahun 1974, "El Pueblo Unido" mengilhami Ary Dos Santos untuk menciptakan Resucitado. Lagu itu kelak menjadi populer di kalangan rakyat Portugal pro-demokrasi. Meskipun nada dan sebagian besar lirik lagunya berbeda, bagian encore lagu itu dengan jelas memakai lirik "El Pueblo Unido": rakyat bersatu tak bisa dikalahkan.

Di Iran, melodi lagu "El Pueblo Unido" digunakan dalam lagu berlirik Persia yang berjudul Barpakhiz, yang kurang lebih memiliki arti “bangkit”. Lagu itu diciptakan kelompok revolusioner kiri Iran selama Revolusi Iran pada tahun 1979.

Sementara itu, Patatag, band progresif asal Filipina menerjemahkan "El Pueblo Unido" ke dalam bahasa Tagalog dan judulnya berubah menjadi Awit ng Tagumpay. Kendati demikian, fungsi lagu itu pun tetap tak jauh berbeda dari aslinya: dinyanyikan dalam aksi-aksi demonstrasi.

Selain di negara-negara tersebut, "El Pueblo Unido" juga diadaptasi dan diterjemahkan di Jerman, Turki, Hungaria, bahkan hingga di Amerika Serikat, dengan fungsi atau tujuan yang tak jauh beda dari aslinya. Meski begitu, lagu tersebut tentu lebih mempunyai "ruh" ketika orang-orang Chile yang menyanyikannya. Hal itu bisa dilihat ketika dalam beberapa pekan terakhir Chile kembali dilanda aksi massa berskala raksasa.



Pada 29 Oktober 2019, di tengah-tengah aksi protes di Chile yang masih panas, sekelompok grup orkestra asal Chile menyanyikan "El Pueblo Unido" di halaman depan Gereja Sacrament yang terletak di Santiago. Aksi itu viral di media sosial dan mendapatkan dukungan dari warganet dari berbagai penjuru dunia.

Aksi itu setidaknya mempunyai dua tujuan: Pertama, untuk memberikan penghormatan terhadap orang-orang Chile yang tewas saat turun ke jalan. Lalu kedua, selama tuntutan mereka belum terpenuhi, rakyat Chile akan terus mencoba melayangkan tinju ke pemerintahan Pinera yang ternyata tak jauh beda brutalnya dengan pemerintahan Pinochet.

Jika pun ada yang tujuan yang ketiga, maka tiada lain adalah untuk kembali mengingat: "rakyat bersatu tak bisa dikalahkan."

Baca juga artikel terkait CHILE atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight