Sejarah Indonesia

Sejarah Candi Plaosan: Wajah Toleransi Beragama Hindu-Buddha

Oleh: Yuda Prinada - 23 Desember 2020
Dibaca Normal 2 menit
Candi Plaosan merupakan salah satu wujud toleransi agama Hindu dan Buddha dalam sejarah Kerajaan Mataram Kuno.
tirto.id - Candi Plaosan merupakan salah satu wujud toleransi agama Hindu dan Buddha dalam sejarah Kerajaan Mataram Kuno (abad 8-10 Masehi), selain Candi Borobudur, Prambanan, dan lainnya. Candi ini terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.

Dari Candi Prambanan yang masih berada di wilayah Yogyakarta, lokasi Candi Plaosan hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer ke arah timur. Candi Plaosan merupakan candi kembar, yakni Candi Plaosan Lor (sebelah utara) dan Candi Plaosan Kidul (sebelah selatan) yang dipisahkan oleh jalan raya serta area persawahan.

Menurut artikel bertajuk "Dokumentasi Candi Plaosan dalam Bentuk 3 Dimensi" dalam situs Kemendikbud, ada dua candi besar yang disebut sebagai candi utama dalam kawasan Candi Plaosan Lor dan Kidul. Keduanya merupakan bangunan kembar yang menakjubkan karena memiliki bentuk yang hampir sama.

Selain itu, kedua bangunan kuno ini juga memiliki kesamaan dalam segi pahatan dengan Candi Borobudur, Candi Sewu, dan Candi Sari. Dalam setiap pahatan-pahatan yang terlihat, kerinciannya sangat diperhatikan sehingga jika dipandang ternilai sangat halus.


Sejarah Toleransi di Candi Plaosan

Pada paruh terakhir tahun 2003, ditemukan prasasti yang disebut-sebut sebagai peninggalan sejarah abad ke-9 M, atau pada masa Kerajaan Medang alias Kerajaan Mataram Kuno yang berpusat di Jawa bagian tengah.

Penemuan prasasti di dekat wilayah perbatasan antara Yogyakarta dengan Klaten (Jawa Tengah) tersebut berupa kompleks percandian, yakni di kawasan yang kini dikenal sebagai lokasi Candi Plaosan Kidul.

Dikutip dari website resmi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, prasati ini berukuran 18,5 X 2,2 cm dengan isi bahasa Sanskerta yang bertulisan aksara Jawa kuno.

Menurut arkeolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Tjahjono Prasodjo, prasasti yang berada di kawasan Candi Plaosan Kidul ini menandakan masa berdirinya candi pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Kuno.

Penelitian tentang Candi Plaosan juga pernah dilakukan oleh ahli asal Belanda, Johannes Gijsbertus de Casparis. Berdasarkan Prasasti Cri Kahulunan (842M), De Casparis menungkapkan bahwa Candi Plaosan dibangun pada masa Sri Kahulunan (Maharatu Pramodhawardani) dan Rakai Pikatan.

Pramodawardhani adalah putri Rakai Garung alias Samaratungga dari Dinasti Sailendra yang memeluk agama Buddha-Mahayana, sedangkan Rakai Pikatan berasal dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu-Syiwa.

Rakai Pikatan dan Maharatu Pramodawardhani bersama-sama memerintah Kerajaan Mataram Kuno pada periode 840-856 M, dan menghasilkan banyak candi-candi megah di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, termasuk Candi Plaosan.

Perpaduan pasangan beda agama ini menciptakan kemegahan candi kembar di Plaosan yang menakjubkan, selain Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Sewu, dan beberapa candi lainnya.

Candi Plaosan memang masih kurang populer jika dibandingkan dengan Candi Prambanan atau Borobudur. Namun, kompleks candi yang masih sunyi ini justru menarik untuk dijadikan tempat refreshing, foto-foto, hingga melihat pemandangan indah di sekitarnya.


Perbedaan Dua Candi Kembar Plaosan

Baik Candi Plaosan Lor maupun Kidul, sama-sama bertinggi 21 meter. Tentunya, meskipun terlihat kembar dari kejauhan berkat tingginya yang sama ini, kedua candi tetap memiliki perbedaan.

Candi Plaosan Lor memiliki pintu masuk di sebelah barat dan pada bagian tengah candi ada sebuah halaman yang diisi pendopo dengan tiga altar di setiap sisinya.

Kendati Candi Plaosan Kidul sama-sama punya halaman di bagian tengah, namun candi ini ditambah dengan 8 candi kecil yang mengelilinginya. Candi-candi kecil tersebut dibagi menjadi dua tingkat yang setiap tingkatnya ditaruh 4 candi.

Perbedaan terakhir yang mendeskripsikan Candi Plaosan Kidul adalah hiasan dari ukiran tanaman di pintu masuknya.

Baca juga artikel terkait CANDI PLAOSAN atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight