Sejarah Indonesia

Sejarah Candi Borobudur: Pembangunan hingga Menjadi Warisan Dunia

Oleh: Yuda Prinada - 8 Desember 2020
Dibaca Normal 1 menit
Candi Borobudur dinyatakan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada 1991.
tirto.id - Candi Borobudur resmi dinyatakan sebagai warisan dunia (World Heritage) oleh UNESCO pada 1991. Sejarah pembangunan berdirinya salah satu monumen Buddha terbesar di dunia ini diperkirakan berawal sejak abad ke-6 tMasehi oleh Wangsa Sailendra.

Bersama Candi Mendut dan Candi Pawon, Borobudur merupakan tempat yang digunakan untuk perayaan Waisak, sebuah acara ritual agama Buddha. Pendapat ini dicatat dalam Rapporten van den Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch Indie (ROD). Disebutkan, terdapat beberapa candi bercorak Hindu dan Buddha di sekitar Candi Borobudur.

Candi Borobudur memiliki luas 8.123 hektare. Wilayah cakupannya termasuk dalam Provinsi Jawa Tengah (Magelang) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Kulon Progo).

J.G. de Casparis dalam disertasinya pada 1950 menerangkan bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan Prasasti Karang Tengah dan Tri Tepusan, pendiri candi ini adalah pemimpin Mataram yang berasal dari Wangsa Syailendra bernama Samaratungga.

Berdasarkan kedua prasasti tersebut, Syailendra adalah penganut Buddha, tepatnya aliran Mahayana. Hal ini dijadikan sebagai bukti bahwa Candi Borobudur digunakan oleh para pengikut agama yang yang dirintis oleh Sidharta Gautama tersebut.

Pembangunan Candi Borobudur

Diperkirakan, Candi Borobudur dibangun pada 750-850 M. Dalam situs resmi Kemendikbud, tertulis bahwa pembangunan Candi Borobudur diduga dilakukan secara bertahap oleh tenaga kerja sukarela yang bergotong royong demi kebaktian ajaran agama pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra.

Awalnya, pembangunan candi ini dimulai dengan meratakan daratan dan dipadatkan dengan batu. Setelah itu, didirikanlah tata seperti piramida. Namun, bentuknya diubah lagi. Langkah berikutnya, dibangunlah undakan persegi lalu ditambah undak melingkar.

Setelah itu, terjadi lagi perubahan dengan menambahkan undakan melingkar dan memperlebar undakan pondasi. Pembangunan terakhir dilakukan sebagai penyempurnaan. Pada langkah ini, tangga diubah, pagar ditambahkan, dan kaki candi dilebarkan.


Penemuan Kembali Candi Borobudur

Candi Borobudur sempat terbengkalai cukup lama. Diperkirakan, hal ini terjadi karena adanya erupsi Gunung Merapi pada 1006 yang menyebabkan warga di sekitar candi pindah ke wilayah lain.

Penemuan kembali Candi Borobudur terjadi ketika era Thomas Stamford Raffles. Raffles diangkat sebagai Letnan Gubernur Jawa pada 1811 saat Kerajaan Inggris mengambil-alih wilayah yang diduduki Belanda.

Tahun 1814, seorang insinyur Belanda yang bekerja untuk Raffles bernama Hermanus Christiaan Cornelius untuk memeriksa sebuah bangunan besar yang tersembunyi di suatu tempat yang tak jauh dari pertemuan Sungai Elo dan Sungai Progo.

Dari situlah kemudian bangunan besar tersebut diketahui berwujud candi, dan itulah Borobudur yang setelah sekian lama terkubur akhirnya ditemukan kembali.

Setelah Indonesia merdeka, pada 1955 pemerintah meminta bantuan kepada UNESCO untuk menangani masalah Candi Borobudur. Selanjutnya pada 1960, Borobudur dinyatakan dalam keadaan darurat dan UNESCO dilibatkan lebih aktif dalam upaya pelestarian ini.

Upaya penyelamatan Candi Borobudur dilakukan secara besar-besaran sejak 1971. Hingga akhirnya, UNESCO memasukkan Candi Borobudur sebagai salah satu Situs Warisan Dunia pada 1991.

Baca juga artikel terkait CANDI BOROBUDUR atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight