Sejarah Bucket Hat dari Topi Petani Irlandia sampai Busana Rihanna

Oleh: Hasya Nindita - 16 Desember 2020
Dibaca Normal 4 menit
Bucket hat terus berevolusi melalui pergerakan fesyen selama puluhan dekade
tirto.id - Rihanna mungkin tengah sibuk mempersiapkan gelaran fesyen untuk lini busana premiumnya, Savage x Fenty 2.0, yang digelar Oktober 2020 lalu, ketika dia melenggang di tepi jalan Los Angeles mengenakan setelan kasualnya. Busana itu meliputi hoodie “House of Pain” dengan celana denim pendek dan sepasang sepatu kets Air Jordan 1 Off-White hasil kolaborasi antara Nike dan Virgil Abloh, lengkap dengan bucket hat dari New York Yankees. Sebuah perpaduan gaya busana yang lazim dari sosok Rihanna: pakaian kasual, sepasang sneakers, dan tentu saja, bucket hat.

Rihanna sudah cukup lama dikenal sebagai penggemar bucket hat. Lauren Cochrane dalam “From Fishermen to ravers: why we can’t kick the bucket hat” (2019) yang tayang di The Guardian, menyebut Rihanna sebagai “patron saint” atau malaikat pelindung dari bucket hat modern. Puluhan ragam bucket hat pernah bertengger di kepalanya dari tahun ke tahun. Namun, penampilannya dengan bucket hat yang paling fenomenal paling terlihat pada busana yang ia kenakan di acara anniversary Fenty Beauty pada 2018.

Sang biduan muncul dengan gaun pendek bercorak ular phyton abu-abu dari lini mode Atelier Versace lengkap dengan bucket hat bercorak serupa. Vogue memuji gaya busana Rihanna malam itu mengingat tingkat kesulitan memadukan gaya kasual dari bucket hat dengan busana haute couture. Menurut Vogue, tidak semua selebritas dan model dapat melakukannya, apalagi berhasil seperti Rihanna.

Jejak topi berbentuk ember terbalik ini bisa ditemukan di industri fesyen pada era 1990-an. Namun, keberadaannya sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Kepada The Guardian, Stephen Jones, desainer bucket hat untuk Dior, mengatakan bucket hat adalah model topi yang paling kuno.

“Jika Anda menoleh ke abad ke-14, Anda akan menemukan bucket hat. Dia ada di sana, menutupi kepalamu, melindungi rambutmu, dan pinggiran topinya melindungi wajahmu,” jelas Stephen.

Popularitas bucket hat meningkat tajam berkat para rapper dan komunitas hip hop 1980-an yang menjadikannya bagian dari street fashion. Perlahan, topi ini bertransformasi menjadi bagian dari industri fesyen.

Bukan Benda Fesyen

Jauh sebelum bucket hat hadir sebagai aksesoris dari lini busana premium, topi ini diciptakan semata untuk tujuan praktis, yakni melindungi kepala dari cuaca yang tidak ramah. Pada awal abad ke-19, para petani dan nelayan Irlandia yang setiap hari bekerja di ladang dan laut membutuhkan benda untuk melindungi kepala dari hujan dan terik matahari. Lalu, muncullah ide untuk membuat topi dengan bentuk pinggiran yang lebar dan miring sehingga dapat melindungi wajah dari rintik hujan dan terik matahari.

Kala itu, topi ini dibuat dari bahan wol mentah dengan kandungan lanolin yang sangat tinggi sehingga membuatnya menjadi tahan air. Bahan ini juga mudah dicuci dan dilipat sehingga nyaman ketika diselipkan ke dalam saku jaket atau celana. Topi ini sempat dikenal dengan sebutan “topi negara Irlandia” sebelum ramai-ramai dijuluki bucket hat.

Beberapa dekade setelahnya, topi berbentuk serupa ditemukan bertengger di kepala para prajurit Israel Defence Force 1940-an. Versi militer dari bucket hat juga dikenakan oleh tentara Amerika Serikat saat Perang Vietnam 1960-an hingga 1970-an. Berwarna hijau gelap, topi ini dimanfaatkan sebagai pelindung kepala dan pandangan mata dari terik matahari, khususnya tatkala membidik musuh.

Petani, nelayan, dan tentara boleh jadi merupakan para pemakai awal bucket hat. Namun, lahirnya bucket hat di industri fesyen dimulai oleh topi Gilligan dalam serial Gilligan’s Island yang dibintangi Bob Denver. Serial komedi AS yang mengudara di tahun 1960-an ini identik dengan topi yang dikenakan oleh sang aktor utama. Topi itu berwarna khaki yang terbuat dari kain katun kanvas bertabur dua lubang logam sebagai ventilasi.

Bucket hat sebagai aksesoris perempuan lahir pada pertengahan 1960-an. Perempuan-perempuan di Irlandia dan Inggris adalah yang pertama mengadopsi topi ini sebagai busana keseharian mereka sebelum tren ini meluas sampai ke Amerika Serikat. Kelak, Audrey Hepburn, Jackie Kennedy, hingga jurnalis Hunter S. Thompson juga ikut terlibat mempopulerkan aksesoris kepala ini.

Fesyen Hip-Hop

Ketika hip hop menjadi fenomena dunia di akhir tahun 1980-an, bucket hat ikut populer. Momen ini turut menandai mulai bergesernya posisi bucket hat sebagai barang fungsional menjadi benda fesyen, berkat para penyanyi hip hop yang mengenakannya pada foto sampul album atau video klip.

Big Bank Hank dari The Sugarhill Gang adalah rapper pertama yang mengenakan bucket hat pada video klip dan penampilan mereka di acara televisi Soap Factory (1979). Big Bank Hank dicatat sebagai pionir, tetapi digadang-gadang sebagai representasi rapper paling ternama yang mempopulerkan bucket hat adalah LL Cool J. Dia mengenakan bucket hat merah ikonik milik label Kangol, perusahaan busana Australia, pada sampul album Radio (1985).

Kala itu, Kangol, bersama dengan Stussy, tumbuh menjadi label mode penting yang memproduksi bucket hat. Stussy bahkan meraup keuntungan sebesar 20% dari total keseluruhan bisnisnya hanya dari penjualan bucket hat sendiri.

Ketika LL Cool J merilis video musik untuk “Going Back to Cali” pada 1989, bucket hat sudah menjadi identitas dan aksesoris utama para rapper, mulai dari Run DMC hingga Jaz-O. “Bucket hat menjadi cara mengidentifikasi diri sebagai praktisi budaya atau pencinta hip hop,” ujar sejarawan hip hop Eric Arnold kepada The Guardian.

Berkat Jay Z, topi yang sempat surut dari peredaran pada 1990-an kembali menyemai popularitasnya di awal milenium. Ketenarannya meningkat ketika dikenakan oleh salah satu karakter serial Sex and The City yang ditayangkan HBO. Posisi bucket hat di ranah budaya pop makin kokoh berkat sentuhan Rihanna di video klip “Work”.

Infografik Bucket Hat
Infografik Bucket Hat. tirto.id/Quita

Masuk ke Lini Mode Premium

Miuccia Prada berusaha membawa bucket hat ke ranah busana Couture di ajang fashionshow musim panas 2005. Bucket hat rancangannya terbuat dari bulu merak dengan kilau hijau cantik. Satu dekade kemudian, Melissa Forde merilis M$ X WT, label yang didedikasikan untuk bucket hat. Forde pun mengundang Rihanna sebagai model pada acara pembukaan labelnya.

Namun, bucket hat tidak pernah benar-benar mencapai level arus utama, bahkan ketika semakin dilirik oleh para pelaku fesyen. Setidaknya hingga musim panas 2018 ketika sekelompok desainer memutuskan bahwa gaya inilah yang akan muncul sebagai mode fashion tahun itu, tahun yang sama ketika Rihanna tampil fenomenal dengan bucket hat dari Atelier Versace.

Matthew Adams Dolan kemudian menciptakan bucket hat versinya sendiri dengan tambahan pinggiran drill bergaris-garis. Michael Kors melansir beragam variasi warna dan tekstil untuk motif yang berbeda-beda. Sedangkan sang ikon Pop, Rihanna, merilis bucket hat Fenty x Puma. Lalu ada Karl Lagerfeld yang membawa topi ini kembali ke akar fungsionalnya, yakni topi tahan air berbahan plastik transparan untuk label Chanel.

Koleksi busana premium laki-laki pada musim itu juga juga dimeriahkan oleh beraneka rancangan bucket hat yang berbahan Denim dari Louis Vuitton, hingga beragam corak cerah dari Lanvin dan Valentino.

Tren ini tidak juga redup di tahun-tahun setelahnya, sebaliknya, keberadaannya justru semakin populer. The Guardian mencatat, pembelian dan permintaan pasar global akan bucket hat di musim semi 2019 naik sebesar 339% dari penjualan musim semi 2018. Tren ini berlanjut pada tahun 2020 berkat para selebritas mulai dari Billie Eilish, Diplo, Kate Spade, hingga Anna Sui yang tampil di muka publik dengan bucket hat. Pada Mei 2020, pencarian bucket hat di eBay meningkat sebesar 51% dari bulan sebelumnya.

Tidak hanya label streetwear, kini sebagian besar label busana premium ikut meramaikan pasar bucket hat mulai dari Dior, Gucci, Prada, Burberry, Chanel, hingga Louis Vuitton. Dosen sejarah di Universitas Nevada Deidre Clemente mengatakan kepada The Guardian bahwa bucket hat saat ini telah menjadi aksesoris permanen ketimbang tren. Ia memang timbul-tenggelam dalam sejarah, tapi kemunculannya lagi dan lagi disebabkan oleh satu hal, yakni, menurut Clemente, “mudah untuk dikenakan oleh siapapun”.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Hasya Nindita
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Hasya Nindita
Editor: Windu Jusuf
DarkLight