22 Januari 1970

Sejarah Boeing 747, Ratu Angkasa yang Kandas Dikudeta Airbus

Oleh: Ahmad Zaenudin - 22 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Kalah tender dalam membuat pesanan militer AS, Boeing justru moncer dengan 747. Pada abad ke-21 kejayaannya disalip Airbus.
tirto.id - Dixie Deans berumur 18 saat ia bersama keluarganya bermigrasi dari Irlandia ke Amerika Serikat. Perjalanan sejauh 6.750 kilometer pada 1980 itu ditempuh menggunakan pesawat Boeing 747.

“Betapa kerennya pesawat itu,” katanya mengingat-ingat peristiwa tersebut.

Kekaguman atas 747 tak hanya dirasakan Deans. Bob van der Linden, kurator pada Air and Space Museum Smithsonian, menyatakan hal serupa. Katanya, 747 adalah pesawat yang sangat spesial saat muncul di dunia aviasi. “Pesawatnya besar, tak ada pesawat yang mengudara sebesar itu sebelumnya,” tutur Linden.

Dalam sebuah publikasi BBC, Boeing 747 disebut sebagai pesawat “yang mengerucutkan dunia”. Sebutan BBC tampaknya tak berlebihan. Di laman resmi Boeing, tinggi 747 setara dengan gedung enam lantai dengan lebar pesawat hampir 60 meter dan panjangnya mencapai 70 meter. Dengan bobot sekitar 330 ton, pesawat bisa terbang dengan kecepatan 0,8 mach, mendekati kecepatan suara. Raksasa 747 dibangun oleh sekitar 50 ribu pegawai Boeing yang bekerja secara simultan.

Bobot yang jumbo itu sebanding dengan daya angkutnya. Boeing 747 sanggup menerbangkan lebih dari 400 penumpang sekali jalan. Dan karenanya, 747 juga dikenal dengan sebutan “Jumbo Jet”.

Jumbo Jet pertama kali mengudara pada 9 Februari 1969. Pan Am, maskapai legendaris Amerika Serikat yang runtuh pada 1991, jadi maskapai pertama yang menggunakannya. Kala itu, pada 22 Januari 1970, tepat hari ini 49 tahun silam, Pan Am secara resmi menerbangkan 747 bagi masyarakat luas, dengan rute New York menuju London. Saat itu, untuk menyambut beroperasinya 747, Presiden Nixon dan Ibu Negara Patricia datang untuk meramaikan.


Antara Pan Am dan Kegagalan Tender Boeing

Kelahiran 747 merupakan buah dari ide Juan Trippe, Direktur Pan Am. Dalam buku Boeing 747 yang ditulis Martin W. Bowman, Trippe menyebut bahwa Pan Am butuh pesawat jumbo yang sanggup mengangkut banyak penumpang sekali terbang. Ini karena terjadinya peningkatan perjalanan menggunakan pesawat di dekade 1960-an.

Menurut Trippe, pesawat jumbo itu setidaknya harus berkapasitas dua kali lipat dibandingkan DC-8s bikinan McDonnell Douglas yang berkapasitas 269 penumpang. Atau, dalam buku Bowman lain berjudul Boeing 747: A History: Delivering the Dream, pesawatnya harus mampu menggantikan 2½ 707, pesawat buatan Boeing berkapasitas 219 penumpang.

Dengan kapasitas yang berlipat dua itu Trippe memperkirakan bahwa ongkos operasional per penerbangan per mil akan menurun hingga 30 persen.

Bill Allen, Direktur Boeing, dalam pertemuan di lapangan golf menyanggupi permintaan Trippe. Salah satu alasannya, Boeing sudah punya desain menciptakan pesawat jumbo, hasil kegagalan mereka memenangkan tender pengadaan pesawat militer Amerika Serikat.

Pada 1965, melalui Military Air Transport Service, Amerika Serikat mengadakan tender bernama proyek CX-HLS senilai 250 juta dolar untuk menciptakan pesawat jumbo. Dalam proyek itu, Amerika Serikat meminta para pembuat pesawat menciptakan pesawat yang sanggup mengangkut orang dan barang dengan total kapasitas 56.700 kilogram. Selain itu, dalam sekali pengisian bahan bakar, pesawat harus mampu terbang sejauh 12.872 kilometer.

Setidaknya, masih dalam buku Boeing 747, ada tiga perusahaan yang mengajukan diri dalam tender itu dengan rancangan dan biayanya masing-masing. McDonnell Douglas mengajukan rancangannya dan mematok tarif sebesar 200 juta dolar. Lalu, ada pula Lockheed Martin yang menawarkan diri dengan proposal penciptaan pesawat senilai 190 juta dolar. Di lain pihak, Boeing menyanggupi keinginan penciptaan pesawat itu dengan harga 280 juta dolar.

Tentu saja, Boeing kalah dalam tender ini karena nilainya yang paling mahal. Namun, kekalahan Boeing menciptakan pesawat jumbo jadi senjata mereka menyanggupi permintaan Pan Am.

“Kami lalu memesan pesawat jumbo itu secepat mungkin dan kami berharap sesegera mungkin bisa menggunakannya,” kata Trippe kemudian.


Meskipun Boeing kemudian menciptakan Jumbo Jet, ada keraguan dalam hati mereka. Saat Boeing menciptakan 747, dunia aviasi tengah kedatangan pesawat supersonik sipil, melalui Concorde yang dikembangkan Perancis dan Inggris. Karena mengira bahwa pesawat supersonik akan berjaya di kemudian hari, Boeing beranggapan bahwa masa depan 747 bukan sebagai pesawat pengangkut penumpang, tetapi sebagai pesawat kargo. Punuk sebagai ciri khas 747 merupakan buah dari kekhawatiran itu. Punuk digunakan sebagai pintu muatan-muatan kargo berbadan besar masuk ke pesawat.

Meskipun punya desain menciptakan pesawat jumbo, Boeing menghadapi beberapa kendala merealisasikannya. Salah satunya, sebagaimana termuat dalam Boeing 747: A History: Delivering the Dream, pada tengah tahun 1967, ketika proses pembuatan pesawat masih berlangsung, tercipta kelebihan beban pesawat.

Rencananya, pesawat 747 akan memiliki bobot tak lebih dari 308.442 kilogram. Namun, karena penambahan beberapa fitur, beratnya meningkat menjadi 322.050 kilogram. Penambahan bobot mengakibatkan pesawat jadi kurang efisien. Lalu, Boeing harus mengganti mesin pesawat karena dengan penambahan itu, kekuatan mesin harus ditambah.

Rencananya, 747 versi awal akan menggunakan mesin pesawat Gerhard Neumann 41.000lb Thrust TF-39 Turbofan buatan General Electric, yang digunakan pesawat C-5A. Atau, pesawat jumbo itu akan menggunakan Rolls-Royce 17.500lb Thrust Conway ML-507 dari Rolls-Royce, yang digunakan 707. Dengan penambahan bobot, Boeing akhirnya menggunakan Prat&Whitney GECF-50 Engine buatan Prat&Whitney.



Infografik Mozaik Boeing 747
Infografik Mozaik Boeing 747

Disalip Airbus

Akhirnya, setelah sembilan bulan, pada 9 Februari 1969 pesawat Jumbo Jet pertama, yakni 747-100 terbang. Hingga hari ini, terdapat 21 varian Boeing 747 dan 747-400 merupakan yang paling laku. Tercatat, sebagaimana dilansir dari laman Boeing, 442 unit 747-400 dipesan. Secara keseluruhan, ada 1.568 pesawat Boeing 747 dipesan perusahaan-perusahaan di seluruh dunia dengan 1.548 di antaranya telah diantarkan.

Dilansir The Telegraph, 747 jadi salah satu pesawat yang paling banyak diproduksi. Ia hanya kalah dibandingkan 727, A320, dan “pesawat sejuta umat” 737. Selain didaulat sebagai salah satu yang paling banyak, 747 sukses menjadi pesawat spesial. The National Aeronautics and Space Administration (NASA), memodifikasi 747-100 menjadi pesawat pengangkut pesawat ulang-alik. Lalu, sejak 1990, Pemerintah Amerika Serikat menggunakan 747-200 sebagai Air Force One.


Sayangnya, nilai spesial 747 tak membuatnya bebas dari kecelakaan. Mengutip laman Aviation Safety, tercatat ada 53 kecelakaan fatal 747 yang mengakibatkan 2.865 jiwa tewas. Pada 2018, ada 63 kecelakaan ringan.

Boeing 747, yang sukses “mengerucutkan dunia” itu, harus ikhlas turun kasta sebagai Jumbo Jet. Ia memang merupakan raja di angkasa mulai 1970. Namun, posisi itu kemudian digantikan Airbus A380 pada 2005—pesawat yang sanggup memuat 850 penumpang sekali jalan, hampir dua kali lipat dari jumlah yang sanggup dibawa 747.

Baca juga artikel terkait BOEING atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Ivan Aulia Ahsan