Sejarah Blue Bird Bermula dari Taksi Gelap

Taksi Blue Bird dan seorang pengemudinya. ANTARA/Puspa Perwitasari
Oleh: Petrik Matanasi - 19 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Blue Bird adalah raja taksi konvensional sebelum taksi online berjaya. Awalnya berupa taksi gelap.
tirto.id - Mr. Djokosoetono adalah pakar hukum didikan era kolonial. Dalam sejarah, dia tercatat sebagai sosok yang membangun dasar-dasar pendidikan hukum di dunia kemiliteran dan kepolisian.

Adnan Buyung Nasution dalam Pergulatan tanpa henti - Volume1 (2004: 124) menyebut, Mr. Djokosoetono merupakan perintis pembangunan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan Akademi Hukum Militer (AHM). Selain itu, dia adalah Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) pertama. Djokosoetono dan keluarganya tinggal di Jalan H.O.S. Cokroaminoto, Jakarta.

“Aku tak dapat meninggalkan apa-apa kepada anak-anakku. Aku hanya meninggalkan nilai-nilai yang idiil.”

Itulah kalimat Djokosoetono seperti tertulis di patungnya yang pernah terpacak di kampus FH UI Rawamangun. Kini, patung tersebut berdiri persis di halaman depan kampus FH UI Depok.

Laki-laki kelahiran Surakarta, 5 Desember 1903 ini meninggal dunia pada 6 September 1965. Dia meninggal bukan sebagai birokrat yang kaya raya. Seperti dicatat Alberthiene Endah dalam Sang Burung Biru (2012), istri Djokosoetono, Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, dihadiahi dua mobil oleh orang-orang dari PTIK dan AHM, yaitu sedan Opel dan Mercedes (hlm. 47).


Beberapa tahun sebelum Djokosoetono meninggal, istri dan anaknya sudah berbisnis telur. Di tahun 1962, istrinya bisa membeli mobi bemo murah dari Departemen Perindustrian. Bemo itu kerap dipakai dua anaknya, Purnomo Prawiro dan Chandra Suharto, untuk menarik penumpang di jalur Harmoni-Kota.

Setelah Djokosoetono meninggal, Mutiara mengumpulkan tiga anaknya, Purnomo, Chandra, dan Mintarsih. Kala itu kuliah mereka belum kelar, jadi mereka butuh uang. Bisnis telur diputuskan terus berjalan, tapi terbersit sesuatu di kepala Mutiara.

“Kalian semua sudah sama-sama tahu bahwa kita mendapatkan hadiah dua buah mobil dari pemerintah. Beberapa hari ini Ibu terus berpikir hendak kita manfaatkan seperti apa dua mobil ini. Sekarang Ibu sudah punya satu ide. Semoga kalian setuju,” kata Mutiara.

“Ide apa, Bu?” tanya Chandra.

“Ibu akan menjadikan dua sedan kita sebagai... taksi,” jawab Mutiara.

Dua mobil itu pun jadi taksi gelap. Selain merekrut supir, Chandra dan Purnomo pun ikut menyupir pula. Taksi gelap itu akan bergerak ketika ada order lewat telepon ke rumah mereka. Semua yang ada di rumah pun harus siap menjadi operator telepon.

Usaha taksi mereka mulanya dinamai Chandra Taksi. Taksi gelap sudah jadi kebutuhan bagi banyak orang kala itu, ketika jumlah mobil belum sebanyak sekarang.

Era Taksi Gelap Berakhir

Di tahun 1971, Gubernur Ali Sadikin mengemukakan bahwa DKI Jakarta yang dipimpinnya membutuhkan taksi meteran, agar terwujud Jakarta yang metropolitan. Seperti diakui dalam memoarnya, Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977 (1993: 131&232), ia berusaha menertibkan taksi-taksi di bandara dan menambah armada taksi di Jakarta.


Syaratnya harus memiliki 100 mobil taksi. Sementara itu keluarga Mutiara hanya punya 60 unit. Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (DLLAJR) dan Gubernur Ali Sadikin menolak usaha Muatiara karena armadanya masih dianggap kurang banyak.

Suatu kali bertemulah Mutiara dengan mantan murid suaminya yang bekerja di Bank Bumi Daya. Sang mantan murid tak lupa memberi kartu nama. Berkat kartu nama itu, Mutiara kemudian mengajukan pinjaman ke bank. Taksi pun bertambah banyak. Izin bisnis taksi pun turun.

Setahun berikutnya, pada 1 Mei 1972, seperti dicatat Albertine Endah, "jalan-jalan di Jakarta mulai diwarnai taksi-taksi berwarna biru dengan logo burung yang tengah melesat" (hlm. 130).

Itulah taksi Blue Bird. Kendaraan pertamanya adalah sedan Holden Torana 2640 cc, yang kini tersimpan di Gedung Blue Bird, Mampang, Jakarta Selatan.

Ketika Blue Bird berjalan maju, Chandra Taksi tetap diperhatikan. Kemudian namanya diubah menjadi Golden Bird. Kendaraan Blue Bird pun jadi bermacam-macam. Ada Big Bird, Pusaka Blue Bird, Silver Bird, Golden Bird, Iron Bird—yang semuanya bernaung di bawah Blue Bird Group.

Diseret Arus Taksi Online

Blue Bird di awal sejarahnya punya saingan. Bukan cuma Mutiara dan keluarganya saja yang berbisnis taksi. “Perusahaan bus Gamadi mengoperasikan Taksi Gamya, PPD meluncurkan Taksi Ratax, Solo Bone Agung meluncurkan Taksi Morante, perusahaan bus SMS meluncurkan Taksi Steady Safe, Pelita Emas Jaya meluncurkan Taksi Royal City dan Medal Sekarwangi meluncurkan Taksi Sri Medali,” tulis Albertine Endah (hlm. 118).

Dari tahun ke tahun, taksi Blue Bird berkembang pesat di beberapa kota besar. Paruh kedua era 1970-an armadanya sejumlah 200 taksi dan pada 1978 sudah mencapai 500 taksi. Pada 1985 jumlah armada berada di angka 2000 taksi.

Kepopuleran Blue Bird kemudian masuk juga ke layar putih di era akhir 1970-an dan 1980-an. Dalam film Warkop DKI Mana Tahan (1979), Indro Warkop berperan sebagai supir taksi Blue Bird. Film lain tentang supir taksi adalah film yang dibintangi Eva Arnaz, Gadis Di Atas Dosa (1984).

Sebelum ada taksi online, Blue Bird merajai pasar taksi di beberapa kota, meski tidak semuanya. Di Yogyakarta, misalnya, mereka bukanlah yang nomor satu. Vetri dan perusahaan taksi lain lebih berjaya di kota gudeg. Sementara itu, di Makassar ada taksi Bosowa—yang terkait dengan konglomerat lokal Aksa Mahmud, yang masih kerabat daripada Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Bertarung dengan perusahaan taksi konvensional lain, Blue Bird sudah biasa. Namun ketika taksi online menjamur, Blue Bird menemukan kompetitor yang berat.

Para supir taksi konvensional, termasuk Blue Bird, pernah berdemonstrasi pada Maret 2016. Taksi online (kala itu masih Uber dan Grab) dianggap mengganggu hajat hidup para supir. "Uber dan Grab berkeliaran sengsarakan kami," tulis sebuah poster yang dibawa demonstran.

Demo para supir taksi konvensional diwarnai rusuh. Ada penumpang yang terlantar, ada juga supir taksi konvensional yang bentrok dengan ojek online.

Pada Maret 2016 itu, citra Blue Bird pun remuk. Saham Blue Bird turun dari Rp6.400,8 menjadi Rp6.300 dan harus merogoh kocek Rp66 miliar untuk memulihkan citra.

Setelah kerusuhan itu, Komisaris Blue Bird Noni Sri Ayati Purnomo, yang masih terhitung cucu Mutiara dan Djokosoetono, turun tangan dan mengumumkan bahwa pada 23 Maret 2016, “mulai pukul 00.00 WIB sampai dengan 23.59 WIB, pelanggan khusus se-Jabodetabek bisa menikmati layanan gratis Blue Bird reguler”.




Blue Bird pun akhirnya ikut-ikutan seperti taksi online dengan aplikasinya. Blue Bird Group yang begitu nyaman dengan taksi konvensional harus terseret dalam arus sejarah baru transportasi itu.

Setelah para pendirinya melalui fase taksi gelap dan anak-anak pendirinya bermanja dengan taksi konvensional, kini Blue Bird mau tidak mau mengubah platform-nya.

Lepas dari itu, keluarga Djokosoetono jadi kaya raya berkat taksi berlogo burung biru ini. Purnomo Prawiro berada di urutan 25 dari 50 Orang Terkaya tahun 2014 versi majalah Forbes.

Hingga 2017, namanya masih ada di urutan itu. Tapi di tahun 2018, namanya tak muncul lagi. Kekayaannya sempat bermasalah dengan turunnya harga saham Blue Bird yang berada di angka Rp3.000 saja.

Baca juga artikel terkait BLUE BIRD atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight