Sejarah Bisnis Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo

Oleh: Petrik Matanasi - 19 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Prabowo terbilang telat terjun ke dunia bisnis. Adiknya dua puluh tahun lebih dulu merangkak membangun kerajaan bisnisnya.
tirto.id - Ketika disebut Jokowi bahwa Prabowo Subianto punya tanah amat luas di Kalimantan dan Sumatra pada Debat Kedua Pilpres, Minggu (17/2/2019), Prabowo tidak menyangkal. Sebagai orang kaya, tentu saja tidak perlu malu punya banyak harta. Semua orang tahu Prabowo Subianto juga seorang pebisnis, meski faktanya telat terjun ke dunia bisnis, karena asyik di dunia militer lebih dari 20 tahun.

Setelah terpuruk karier militernya, bekas Letnan Jenderal Prabowo Subianto pun terjun ke dunia bisnis. Ketika berada di Amman, Yordania, Prabowo menjadi perwakilan kelompok bisnis Tirtamas/Comexindo. Dalam urusan bisnis, Prabowo tampaknya tidak lepas dari adiknya, Hashim Djojohadiksumo, yang jauh lebih dulu terjun ke dunia bisnis.

Ketika masih di luar negeri, seperti dicatat George Junus Aditjondro, dalam Korupsi Kepresidenan (2006), Prabowo mempersiapkan tiga bidang bisnis baru. Bisnis yang dirancang Prabowo adalah pengamanan proyek tambang, pengolahan kertas, dan penggalian sumber-sumber energi (hlm. 10).

Dari Kertas sampai Tambang

Pada November 2001, bersama Johan Teguh Sugianto dan Widjono Hardjanto, Prabowo mendirikan Nusantara Energi. Perusahaan-perusahaan yang bernaung di dalamnya bergerak di bidang pulp, kehutanan dan pertanian, pertambangan, perikanan komersial, dan jasa pelayanan profesional. Nusantara Energi diklaim memiliki aset sebesar 1 miliar dolar AS dan memperkerjakan 10.000 karyawan.

Di bidang jasa pengamanan, seperti dicatat George Junus Aditjondro, Prabowo terkait PT Gardatama Nusantara. Beberapa kliennya adalah perusahaan pertambangan di Kalimantan dan Sumatra. Soal perusahaan tambang, Prabowo pernah menjadi komisaris perusahaan migas di Kazakhstan, Karazanbasmunai.

Muhammad Bob Hasan, yang hilang taring sebagai "raja hutan" setelah Soeharto jatuh, dikenal sebagai bos PT Kiani Kertas. Perusahaan ini kemudian macet. Ketika perusahaan ini dalam masalah, JP Morgan menawarnya dengan harga tinggi. Prabowo lalu datang. Katanya, belakangan saat diperiksa kejaksaan, waktu dirinya masuk ke bisnis itu lewat PT Anugerah Citra Investama, Kiani Kertas sudah macet selama 6 tahun.

"Jadi waktu itu kami berupaya menyelamatkannya," ujarnya di Kejaksaan Agung, Selasa (5/7/2005) seperti dilansir Tempo.

Kiani Kertas dianggap aset penting nasional bagi Prabowo. Bob Hasan dan Prabowo merasa agar perusahaan seperti ini jangan sampai jatuh ke pemodal asing, tapi Prabowo tak berdaya mengamankan perusahaan itu. Akhirnya, perusahaan itu pun dijual ke JP Morgan juga.

PT Kiani Kertas belakangan menjadi PT Kertas Nusantara. Prabowo masih terkait juga. Tiap jelang Prabowo maju menjadi calon presiden, isu soal pegawai Kiani Kertas yang belum terima gaji mendadak jadi isu panas.

Beberapa waktu silam, nama Prabowo dan Nusantara Energy disebut-sebut dalam dokumen hasil investigasi International Consortium of Investigative Journalist (ICIJ) yang memuat rincian keuangan orang kaya dari seluruh dunia yang memarkir investasi di luar negeri. Soal ini, anak buah Prabowo paling legendaris, Fadli Zon, membantah. “Yang saya tahu apa yang disebut sebagai Nusantara Energy Resources Limited itu tidak ada kaitan dengan Pak Prabowo," ujarnya.


Hashim Lebih Dulu

Urus perusahaan bukan hal gampang bagi banyak orang, termasuk Prabowo. Pertaruhannya adalah nama baik. Meski dirinya anak ahli ekonomi dan abang dari seorang pengusaha, bukan jaminan Prabowo mampu mengurus perusahaan besar. Apalagi selama 20 tahun lebih dunia Prabowo adalah dunia militer, bukan bisnis. Prabowo tentu tidak bisa sendirian dalam berbisnis.

Hashim mulai berbisnis di Indonesia pada sekitar 1978, ketika Sumitro Djojohadikusumo tak lagi menjadi Menteri Negara Riset. Sudah belasan tahun Hashim hidup di luar negeri. Hashim tidak pulang dengan modal dengkul. Ada ijazah dari sekolah tinggi di Pamona dan pengalaman magang pada sebuah bank investasi Lazard Freres di Paris.


Tidak sulit bagi Hashim dengan cepat menjadi Direktur di PT Indoconsult Associates yang berkantor di Jalan Kyai Haji Wahid Hasyim nomor 98 Jakarta Pusat. Di situ pula Sumitro berkantor, karena Sumitro adalah pendiri perusahaan itu. PT Indoconsult bukan perusahaan besar. Sumitro tidak dikenal sebagai usahawan, tapi begawan ekonomi yang besar namanya di Indonesia.

“Saya nggak enak saja. Jadi begitu saya pulang, ayah saya sudah tak pegang jabatan lagi. Kan lebih enak, nggak ada yang nuduh saya berbisnis karena fasilitas orang tua,” kata Hashim seperti dikutip Didin Abidin Masud dalam Pergulatan 26 Manajer Indonesia Menuju Sukses (1997: 46).

“Namun, di perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi manajemen ini Hashim hanya bertahan selama dua tahun. Kemudian ia mulai merintis usaha di bidang perdagangan dalam negeri, dengan mendirikan PT Era Persada,” tulis Didin Abidin Masud.

Perusahaan itu dianggap sebagai perusahaan yang pertama kali didirikannya. Hashim merangkak membangun usahanya.

Infografik Prabowo dan Hashim di Dunia Bisnis
Infografik Prabowo dan Hashim di Dunia Bisnis


Di era 1990-an bisnis Hashim melesat hebat, seperti juga karier Prabowo. Setelah Era Persada, dia kemudian mengelola PT Tidar Kerinci Agung (sebagai Presiden Direktur sejak 1984); PT Prahabima (sejak 1985 sebagai Presiden Direktur); PT Bank Universal (sejak 1985 sebagai komisaris); PT Ina Persada (sejak 1986 sebagai Presiden Direktur); PT Tirtamas Majutama (dipimpinnya sejak 1987); dan perusahaan-perusahaan lainnya.

Pada 1988, lewat Tirtamas Majutama, Hashim menjadi pemilik PT Semen Cibinong. Menurut Asia Today (Volume 10, 1992: 50), Tirtamas adalah perusahaan utama yang bergerak di bidang sumber daya, manufaktur, dan perdagangan.

Hashim juga terjun ke bisnis minyak hingga Kazakhstan. Sampai runtuhnya rezim Orde Bama yang diampu mertua abangnya, Hashim tetap kaya. Menurut majalah Forbes (2018), Hashim berada di rangking 35 orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan 850 juta dolar AS.

Saat ini, induk dari usaha-usaha Hashim itu dinamai Arsari Group. Nama grup tersebut adalah gabungan dari nama panggilan anak-anak Hashim. Mulai dari Aryo (Aryo Djojohadikusumo), Sara (Rahayu Saraswati Djojohadikusumo), dan Indra (Indra Djojohadikusumo).

Selain terkait dengan grup usaha, Arsari juga menjadi nama yayasan yang didirikan Hashim, Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD). Yayasan ini ikut serta dalam penerbitan buku Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 (2015) dan Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 (2011) yang ditulis sejarawan berdarah Inggris kelahiran Burma, Peter Brian Ramsay Carey.

Hashim yang doyan barang antik juga kerap diberitakan sebagai penyelamat benda-benda purbakala yang nyaris hilang dan hendak dibawa ke luar negeri.

Baca juga artikel terkait SEJARAH PERUSAHAAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan